Skip to main content

Tentang Sepiring Kue

Ilustrasi oleh Ayang Cempaka

Tentang Diar

Selamat datang di blog Sepiring Kue. Nama saya Diar Adhihafsari (Diar), dan saya adalah orang di balik Sepiring Kue.

Saya lahir tahun 1984 (silakan hitung sendiri ya, berapa usia saya saat ini), seorang ibu dari empat orang anak, dan juga seorang ibu rumah tangga. 

Saat ini saya tinggal di pinggir kota Pontianak, atau tepatnya di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Tentang Blog Sepiring Kue

Blog Sepiring Kue berisi tidak hanya tentang narasi seputar kue dan makanan, namun juga beberapa hal lain yang dekat dengan kehidupan saya.

Blog ini dibuat untuk melampiaskan kecintaan saya terhadap satu aktivitas favorit saya semenjak kecil: menulis. Dan karena seiring pertambahan usia saya mulai menyukai makanan (dan membicarakan tentang topik tersebut), blog ini pun sebagian besar mengulas makanan dan serba-serbinya.

Tentang Toko Kue Sepiring Kue

Selain blog, Sepiring Kue juga memiliki sebuah toko kue daring (online) yang aktif di Instagram (@sepiringkue) dan terkadang di Facebook (Sepiring Kue). [Update: sayangnya sudah lebih dari setengah tahunan ini akun Facebook Sepiring Kue terkunci, belum bisa dibuka lagi.]

Semenjak 2013 (saat itu masih dengan nama usaha berbeda), toko kue online Sepiring Kue berusaha fokus pada kue-kue yang berbahan dasar non-terigu (khususnya tepung singkong atau mocaf) sebagai pilihan makanan manis alternatif dengan sentuhan lokal yang bertemu dengan sentuhan 'impor'.

[Update: saat ini toko kue Sepiring Kue sedang tutup sementara karena saya masih cuti melahirkan.]

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir