Profesi: Mengurus Rumah Tangga

PROFESI DI KOLOM PEKERJAAN YANG TERTERA dalam KTP saya tertulis sebagai "Mengurus Rumah Tangga". Tidak ditulis dengan "Ibu Rumah Tangga" maupun "IRT". Tidak tahu kenapa isian kolom tersebut adalah kata kerja dan bukannya kata benda berupa nama pekerjaannya.

Bila harus bercerita tentang profesi 'sederhana' saya ini, entah apa yang harus saya ceritakan. Atau mungkin tepatnya, entah harus mulai bercerita dari mana.

Apakah ini profesi impian saya? Pada satu fase di masa muda saya, saya memang pernah memimpikan menjadi seorang ibu rumah tangga purnawaktu. Namun, meski sejak dulu sudah mempersiapkan diri dengan mengobservasi sejumlah ibu rumah tangga di sekitar saya dan dengan banyak menyimak berbagai cerita—enak maupun tidak enak—tentang profesi-tanpa-gaji-maupun-tunjangan-dan-promosi-ini, realita yang saya jalani pada akhirnya tetap saja membuat saya terkejut.

Iya, saya sudah melihat dan mendengar bahwa beban pekerjaan mengurus rumah tangga itu rasanya seperti tidak ada habisnya; tapi saya tetap merasakan terkejut ketika betulan harus menghadapi hal tersebut.

Iya, tahu, katanya jadi ibu rumah tangga itu termasuk profesi yang paling bikin kesepian; namun tetap saja saya terkejut ketika secara sungguhan merasakannya di dunia nyata.

Iya, konon jadi ibu rumah tangga itu begini dan begitu. Iya, iya, tapi lagi-lagi saya tetap terkejut juga. Termasuk merasakan terkejut bahwa ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga hampir tidak pernah sempat "ongkang-ongkang kaki" menikmati waktu bebas di rumah. Malahan, saya jadi bertanya-tanya, waktu bebas? Waktu bebas apa dan yang mana?

Pada awalnya saya mengira dan mengasumsikan bahwa segala keterkejutan yang muncul itu sekadar "gegar budaya" karena perubahan status dan rutinitas. Nyatanya, perasaan terkejut itu kok, malah terus saja muncul, bahkan meski akhirnya saya menjalaninya hingga kini sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya.

Sepertinya, sama seperti beradaptasi dengan profesi apa pun, dan bahkan sama seperti beradaptasi dengan pasangan hidup yang ternyata harus tiada henti dilakukan, maka begitu pula beradaptasi dengan realita mengurus rumah tangga secara purnawaktu. Bahkan meskipun semakin ke sini tugas-tugas rumah tangga "bisa" dilakukan hampir secara "autopilot". Intinya, adaptasi akan selalu menjadi rutinitas dalam menjalani rutinitas rumah tangga itu sendiri.

Semangat untuk sesama fellow housewives atau stay-at-home moms lainnya di luar sana! We can do it and even more! *high five*

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022 Blogger Perempuan Network.

Sumber foto:

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: