Dendeng Manis, Menu Sahur Praktis di Masa Kecil yang Selalu Dirindukan

Foto ilustrasi oleh Kristian Ryan Alimon via Unsplash

MENU SAHUR PRAKTIS tak selalu menjadi andalan para istri dan ibu. Para ayah, terutama yang menjadi orang tua tunggal (termasuk mendiang ayah saya yang sempat harus mengurus dua anaknya sendirian), juga sangat dan selalu mengandalkan menu sahur yang praktis.

Dulu—di masa kecil saya di antara usia 10 - 12 tahun—sewaktu kami masih menempati sebuah kamar berukuran cukup besar yang bisa menampung dua kasur king size di rumah-kantor tempat ayah saya bekerja, kami (akhirnya) memiliki sebuah kompor listrik (setelah sebelumnya untuk urusan makanan hanya mengandalkan katering dan sempat juga menumpang dapur kantor) yang kami tempatkan di pojok kamar tempat tinggal kami.

Satu atau dua hari sebelum memasuki bulan puasa, ayah saya akan mengajak saya dan abang saya berbelanja, terutama untuk persiapan sahur, ke supermarket favorit kami. Karena dulu kami belum punya lemari pendingin alias kulkas, stok bahan makanan yang kami beli tentu saja yang kering dan awet lama di penyimpanan suhu ruang. Intinya, yang praktis.

Sebenarnya ada beberapa bahan makanan yang kami beli untuk stok makan sahur, tapi hanya satu yang paling dan selalu saya ingat, dan yang kebetulan juga baru saya ketahui setelah pindah ke Pontianak, yaitu dendeng manis kering.

Dilihat dari perspektif gizi dan dan nutrisi, memang bukan jenis bahan makanan yang ideal, namun dari segi kepraktisan, tentu saja ia ideal. Lagipula, bagi kami dahulu, bisa makan sahur dengan menu dendeng manis bersama nasi putih saja sudah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Ditambah lagi, ia juga praktis untuk disiapkan dan disajikan.

Sudah lama sekali saya tidak melihat, apalagi membeli, produk dendeng manis itu. Saya bahkan sudah tidak ingat lagi seperti apa bentuk kemasannya maupun nama mereknya.

Yang tersisa dalam ingatan saya, sekaligus menjadi hal yang terkadang saya rindukan, hanya tentang bagaimana dulu ayah saya, sebelum memasaknya, biasa menggunting-gunting lembaran-lembaran dendeng manis yang panjang menjadi bentuk kotak-kotak kecil. Mungkin sebagai penghematan ya, entahlah.

Saat sahur, ayah saya akan menyiapkan air hangat, lalu memasukkan beberapa lembar potongan dendeng manis tadi ke dalamnya untuk mengempukkan sedikit tekstur dagingnya, sesuai dengan instruksi yang tertera di kemasannya (ngomong-ngomong, hingga kini saya bahkan tidak tahu apakah dendeng manis kering seperti itu memang 100% dibuat dari daging asli atau tidak).

Setelah beberapa menit, barulah lembaran-lembaran dendeng manis tersebut digoreng biasa menggunakan sedikit minyak. Setelah matang, siap disantap bersama nasi putih.

Namanya juga dendeng manis kering kemasan, tidak bisa dibandingkan dengan dendeng yang biasa dijual di rumah makan masakan Padang. Dendeng manis ini, meski tipis, tetap berserat layaknya daging sapi. Dan sesuai dengan namanya, ya rasanya seperti daging yang manis, ditambah dengan sensasi 'letupan' tekstur dari ketumbar tumbuk kasar yang tersebar di beberapa bagian di permukaan dagingnya.

Mengingat dan membicarakan soal dendeng manis ini sungguh membuat saya rindu dengan suasana sahur kami yang sangat sederhana dahulu. Adakah teman-teman pembaca yang memiliki nostalgia dengan menu makan sahur masa kecilnya?

BACA JUGA:

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022 Blogger Perempuan Network.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: