Cerita Ngeblog yang Hampir Dua Dekade


MUMPUNG CHALLENGE DARI BLOGGER PEREMPUAN NETWORK (BPN) ada tema curhat, saya mau curhat sedikit (atau banyak, ya?) tentang ngeblog. Apalagi mengingat bahwa ternyata aktivitas saya ngeblog sudah hampir mencapai dua dekade, bahkan sejak zaman kata "blog" itu belum saya ketahui.

Kenapa bisa kepikiran buat cerita tentang ngeblog, gara-gara beberapa hari ini saya keteteran dalam posting untuk blog challenge dari BPN. Bukan sekadar satu atau dua postingan, melainkan lima. Entah kenapa, sekian hari ini sedang tidak semangat. Bahkan membaca buku juga tidak.

Mungkinkah memang seperti ini bawaan orang yang sedang menghitung waktu menuju usia 38 tahun? Bawaannya jadi galau dan bahkan tidak bisa konsentrasi ngapa-ngapain.

Di masa galau beberapa hari di belakang, sempat terpikir kepengin membuat blog baru lagi. Tapi lalu terpikir lagi, ah, blog yang sekarang pun masih belum konsisten diurus. Ya tapi … pokoknya ketemu terus deh, excuse untuk "memulai kembali". Sekarang, setelah galaunya mereda dan saya memaksakan diri untuk menulis lagi, pikiran saya bilang kalau mau "memulai kembali" juga bisa dengan cara melanjutkan (dengan lebih baik) apa yang sudah ada dan sudah kita mulai.

Masih banyak keinginan dan rencana saya (yang biasanya masih terus berganti-ganti) yang belum terwujudkan untuk blog ini. Curhat kali ini bisa dibilang sebagai cara saya mencoba mencari tahu apa sebetulnya yang saya inginkan dari dan untuk blog ini maupun untuk aktivitas ngeblog saya. Karena di satu sisi, the urge to create something selalu membuat saya gatal. Namun di sisi lain, "to create something"-nya sering terlihat buram bagi saya.

Saya sudah menyukai menulis sejak masa sekolah dasar, ketika jenis tulisan yang saya tahu mentok di cerita komik handmade seputar putri-putrian. Seiring pertambahan usia, bertambah pula jenis tulisan yang saya jelajahi, mulai dari artikel opini yang serius, cerpen dengan berbagai plot, esai dan artikel scientific, sampai puisi yang sering bikin saya pusing mencari kosa kata yang berbunga-bunga.

Pada akhirnya, yang selalu membuat saya kembali pada menulis setelah jeda adalah jenis tulisan personal essay yang umum ada dalam blog. Setelah hampir dua dekade, saya selalu kembali pada aktivitas ngeblog. Ya, bahkan meski cerita klasik soal ketidakkonsistenan dalam menulis selalu muncul juga.

Ngeblog, terutama semenjak menikah, membuat saya bisa 'lari' sementara dari kemonotonan aktivitas rumah tangga. Ngeblog membuat saya bisa merasakan memiliki sesuatu untuk diri saya sendiri yang tidak perlu saya 'bagi' dengan suami maupun anak-anak saya. Ngeblog bisa membuat saya tetap menjadi diri sendiri yang—"biar gini-gini juga"—lumayan cerdas *eeaaa…* dan bukan 'sekadar' menjadi istrinya Pak Ini dan ibunya si A, B, C, dan D.

Walau terkadang isi blog saya seperti absurd, tapi setidaknya saya berhasil menguraikan sedikit benang kusut dalam pikiran maupun kegundahan dalam hati. Bukankah konon menulis merupakan cara kita untuk memahami isi pikiran dan isi hati kita sendiri?

Demikian curhat 'tak terstruktur' kali ini. Terima kasih bagi yang sudah berkenan membaca hingga sejauh ini, ya.

BACA JUGA:





Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari 30 Day Ramadan Blog Challenge 2022 Blogger Perempuan Network.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: