Skip to main content

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

Donat panggang tanpa ragi

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa.

Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa.

Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang. Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya.

Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng

Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang. Setelah sempat terkejut dengan bentuk adonan dan tekstur hasil jadinya yang bisa dibilang serupa cake (keik), saya menemukan referensi yang menyatakan kalau donat (dengan baking powder, bukan dengan ragi) yang dipanggang dengan cetakan umumnya memiliki tekstur yang cenderung mirip keik.

Pantas saja, waktu digigit dan dikunyah pertama kali kok, serasa makan bolu. Apalagi donat panggang versi saya ini bentuknya sangat jauh dari donat 'standar', berhubung saya tidak memiliki cetakan donat.

Tidak ada cetakan donat, cetakan pie berbahan aluminium foil pun jadi. Makanya, seperti terlihat di foto, donat panggang buatan saya sama sekali tidak terlihat dan bahkan juga sebenarnya tidak bisa disebut sebagai donat panggang. Tapi karena resep asli yang saya adaptasi ini memang berupa donat panggang, jadi menyesuaikan konteks dulu, ya.

Donat panggang

Pilih Mana: Donat Panggang atau Donat Goreng?

Setelah mencoba mempraktikkan resep ini hingga berkali-kali, saya berkesimpulan bahwa donat goreng (dengan ragi) jauh lebih terasa familiar sekaligus terasa 'ngeroti' (seperti roti) di lidah.

Sementara donat panggang (tanpa ragi) dari resep yang saya adaptasi ini sangat terasa nuansa 'keik'-nya. Atau tepatnya seperti keik yang padat, namun gurih sekali karena didominasi oleh aroma dan rasa dari elemen lemaknya (di resep asli menggunakan santan dan minyak nabati, tapi saya juga pernah memodifikasinya menggunakan margarin -- kalau menggunakan margarin sebaiknya takarannya dikurangi sedikit, supaya hasil donatnya nanti tidak terlalu berminyak).

---

Resep Donat Panggang

Sumber resep: Deassy Natalia (grup Facebook NCC 'Natural Cooking Club')

Diadaptasi oleh: Diar Adhihafsari (bahan dan cara membuat ditulis sesuai dengan penyesuaian resep yang sudah saya lakukan)

Bahan-bahan:

  • 1 btr telur ukuran besar

  • 50 gr gula pasir (sesuaikan selera -- di resep asli 100 gr)

  • secubit garam (di resep asli ¼ sdt)

  • 50 ml minyak nabati

  • 65 ml santan instan (di resep asli santan kental)

  • 150 gr tepung terigu serbaguna (di resep asli tepung terigu protein tinggi)

  • ¼ sdt baking powder (di resep asli double acting baking powder)

Cara membuat:

  1. Siapkan dan panaskan oven (saya menggunakan oven tangkring di atas api cenderung sedang).

  2. Siapkan juga cetakan yang akan digunakan (saya pernah menggunakan cetakan pie berbahan aluminium foil -- oles terlebih dahulu dengan minyak atau margarin -- dan pernah juga menggunakan kertas cetakan cupcake atau muffin).

  3. Di dalam wadah, kocok telur, gula, dan garam menggunakan pengocok manual atau whisk.

  4. Masukkan minyak nabati dan santan, aduk rata.

  5. Tambahkan campuran terigu (yang dicampur dengan baking powder), aduk rata. Adonan akan menjadi kental dan padat, ya.

  6. Tuang adonan ke dalam cetakan, panggang hingga matang (di resep asli selama 15-20 menit).

Selamat mencoba! Dan silakan bagikan resep ini melalui media sosial dengan mengeklik tulisan "Share", ya.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Mengikuti NaNoWriMo 2019

Saya sudah lupa kapan pertama kali mengetahui tentang NaNoWriMo . Pokoknya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi tahun 2019 menjadi pengalaman perdana saya mengikuti NaNoWriMo dengan serius mendaftarkan diri dan sebisa mungkin mengikuti panduan/aturan yang berlaku, walaupun saya tak berhasil menjadi (salah satu) pemenangnya. Apa Itu NaNoWriMo? Sekadar sedikit informasi, NaNoWriMo  adalah singkatan dari National Novel Writing Month . Sejak 1999, setiap bulan November , sejumlah (besar) penulis amatir hingga penulis profesional berbondong-bondong berpartisipasi untuk berkomitmen menulis sebuah ( draft pertama) novel -- tanpa perlu disunting atau diedit -- dengan genre pilihan masing-masing selama 30 hari penuh demi mencapai target menulis sebanyak 50.000 kata . Situs NaNoWriMo menyediakan mesin perekam jumlah kata untuk mencatat sudah seberapa jauh perkembangan jumlah kata dari  draft novel peserta. Tidak akan ada yang memeriksa a