Skip to main content

Menikmati Nikmatnya Lemak di Kue Boterkoek (Plus Resep)

Boterkoek

PERTAMA-TAMA, saya tidak menemukan referensi mengenai penulisan yang tepat untuk nama kue yang saya sebutkan di judul postingan ini. Hasil pencarian di Google sewaktu saya menuliskan "botterkoek": "Mungkin maksud Anda adalah: boterkoek" muncul di bagian paling atas. Jadi mungkin penulisan yang tepat seperti demikian? Adakah pembaca yang mengetahui jawabannya?

Pertemuan Pertama dengan Boterkoek

Waktu awal mengetahui tentang resep boterkoek ini -- bertahun-tahun lalu -- saya tidak memiliki ketertarikan terhadap kue tersebut. Membaca sekilas resep-resep yang beredar, entah mengapa secara otomatis saya berpikir bahwa kue ini pasti kering dan bikin seret *sok tau*. Meskipun harus saya akui, ada beberapa foto yang menggambarkan boterkoek dengan cara yang membuat saya cukup tergiur.

Saya baru benar-benar tertarik dengan si boterkoek ketika menghadiri majelis ilmu khusus muslimah di rumah seorang tetangga. Saat itu, sang tuan rumah menyuguhkan boterkoek untuk kami.

Botterkoek

Itulah pertama kalinya saya mencicipi kue bernama boterkoek. Kue ini apa ya, kering di tekstur, namun terasa lembut-lumer di lidah. Padat tapi beremah, beremah tapi lembut. Bukan deskripsi yang bagus, saya tahu. Namun begitulah yang saya rasakan. Sungguh pengalaman rasa yang menyenangkan dalam menikmati lemaknya elemen lemak (dalam hal ini margarin -- cuma pakai margarin saja sudah terasa luar biasa, apalagi kalau pakai mentega, ya).

Lumayan terkejut rasanya begitu mendengar bahwa untuk membuat kue tersebut hanya memerlukan satu butir telur saja, padahal alam bawah sadar saya sempat meyakini bahwa kue-kue semacam itu sudah pasti memerlukan banyak telur -- minimal empat atau lima lah -- dalam proses pembuatannya. Saya lupa pernah berpikir kalau kue ini kering, eh, tapi secara kontras juga berpikir kalau kue ini butuh banyak telur. *tepok jidat*

Makanya, begitu ibu-ibu tetangga lainnya sesama peserta majelis ilmu pada berebutan meminta resep, saya pun hampir tanpa sadar ikut meminta juga. Mbak tuan rumah ini, dalam keterangannya, menemukan resep tersebut via Facebook, yang akhirnya gambar tangkapan layar (screenshot)-nya saya simpan sampai sekarang di dalam memori ponsel saya. Saya pun tidak ingat lagi sudah berapa kali saya membuat boterkoek dengan resep itu, walaupun tidak pernah mengikuti sama persis seperti resepnya, karena menyesuaikan dengan bahan-bahan di rumah.

Serba-serbi Boterkoek

Yuharrani Aisyah, dalam tulisannya di kompas.com yang berjudul "Resep Lekker Holland, Kue Butter Khas Belanda" (12 Februari 2021), menyebutkan bahwa lekker holland atau Dutch butter cake (boterkoek) adalah sebutan untuk kue mentega khas Belanda.

Ia juga menyebutkan bagaimana simpelnya resep kue tersebut karena hanya butuh 4 bahan utama, yaitu mentega, tepung terigu protein sedang, gula, dan telur.

Sementara itu, Lianny Hendrawati dalam satu artikel di blog kulinernya, liannyhendrawati.com, yang berjudul "Nikmatnya Rasa Lekker Holland (Boterkoek)" (29 Oktober 2016) memaparkan ciri khas kue tersebut yang berwarna kuning keemasan dengan motif garis-garis pada bagian atasnya. Namun, kue aslinya disajikan polos tanpa topping dan biasa disantap dengan cara dipotong kecil-kecil.

Mengocok adonan buttercake dengan whisk

Membuat Boterkoek Tanpa Mikser Elektrik

Berhubung besi pengocok kue untuk mikser saya sudah 'purnatugas' alias pensiun, saya harus mengocok adonan boterkoek buatan saya menggunakan pengocok telur manual (whisk). Saat digunakan untuk mengocok margarin dan gula pasir, tentunya membutuhkan waktu lama hingga tercapai adonan yang lembut dan warnanya memutih.

Karenanya, setiap membuat kue ini, saya hanya mengocok adonannya semampu tenaga tangan saya saja -- tidak sampai lembut-lembut amat seperti bila memakai mikser elektrik, tapi pokoknya masih terlihat dan terasa cukup lembut untuk melanjutkan ke tahap pembuatan berikutnya.

Hasil akhir kuenya, meski adonan hanya dikocok secara manual, bagi saya tetap lembut di lidah dengan gurih margarin yang khas paling mendominasi setiap gigitan dan kunyahan.

---

Dutch buttercake

Resep Botterkoek

Sumber resep: Tetangga saya, yang dia dapatkan dari Facebook

Diadaptasi oleh: Diar Adhihafsari (bahan dan cara membuat ditulis sesuai dengan penyesuaian resep yang sudah saya lakukan)

Bahan-bahan:

  • 200 gr margarin

  • 50 gr gula pasir

  • 1 btr telur

  • 220 gr tepung terigu serbaguna

  • 25 gr susu bubuk (bila suka, susu bubuk bisa diganti dengan kopi bubuk untuk menjadikan kue ini sebagai boterkoek rasa kopi, tapi takarannya dikurangi, ya)

Pugasan (topping), sesuai selera:

Keju cheddar parut atau meises

Cara membuat:

  1. Panaskan oven (suhu di resep asli 170° C). Saya menggunakan oven tangkring dengan termometer oven tambahan.

  2. Siapkan loyang persegi ukuran 20 x 20 x 4 cm, olesi margarin (di resep asli menggunakan loyang persegi 22 cm). Bisa juga ditambahkan baking paper atau kertas roti dan dioles tipis margarin.

  3. Dalam wadah besar, campur margarin, gula pasir, dan telur. Aduk menggunakan pengocok manual (whisk) hingga lembut (menggunakan mikser elektrik tentunya lebih mudah dan cepat).

  4. Masukkan tepung terigu dan susu bubuk, aduk rata menggunakan spatula. Adonan akan terlihat dan terasa agak kental dan berat.

  5. Tuang adonan ke dalam loyang, ratakan, taburi topping. Di resep aslinya, permukaan adonan diolesi kuning telur, kemudian dikerat dengan garpu, baru ditaburi topping).

  6. Panggang hingga kue matang, menyesuaikan dengan oven masing-masing (di resep asli selama sekitar 30 menit).

  7. Setelah kue berada di suhu ruang, potong-potong (setiap membuat kue ini, saya tidak pernah mengeluarkan kue dari loyang dan memindahkannya ke piring saji, melainkan langsung memotong-motongnya saja di loyang).

Selamat mencoba! Dan silakan bagikan resep ini melalui media sosial dengan mengeklik tulisan "Share", ya.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe