Skip to main content

Waktu Luang Yang Dirindukan Saat Ramadan

Sumber foto: Slywia Bartyzel via Unsplash

RAMADAN tahun ini, untuk pertama kalinya, saya mencoba menitipkan kue buatan saya di sebuah cake shop yang cukup terkenal di daerah tengah kota.

Awalnya maju-mundur tidak pe-de begitu. Banyak lah yang bikin saya lewah pikir alias overthinking, mulai dari memikirkan modal, sampai memikirkan harga jual. Ujung-ujungnya malah Mbak Admin cake shop-nya yang mendorong dan meyakinkan saya.

Akhirnya ya sudah, sampai dengan hari ini, hampir dua pekan saya menitipkan kue di pasar juadah yang dibuka di cake shop tersebut.

Membuat kue setiap malam untuk dititipkan keesokan paginya membuat saya sibuk setiap hari, walaupun jumlah kue yang saya buat hanya sedikit.

Namun, ditambah dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak habis-habis, dan belum lagi aktivitas menulis blog untuk Ramadan challenge dari Blogger Perempuan, plus ajang menulis Camp NaNoWriMo yang berlangsung selama April ini, oh, juga reading challenge yang saya ikuti, membuat waktu luang yang saya miliki terasa lebih sedikit (dan sekaligus juga jadi terasa jauh lebih berharga) dibandingkan bulan-bulan Ramadan sebelumnya. Akhirnya, tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan menjadi aktivitas pilihan utama untuk memanfaatkan waktu luang yang tersedia di antara semua aktivitas tersebut di atas.

Di satu sisi, saya bersyukur Ramadan kali ini membuat saya 'sibuk' dengan aktivitas positif sehingga mengurangi malas-malasan saya dan bahwa usaha bakulan kue saya masih bisa terus berjalan, meski tetap dengan pasang-surutnya. Di sisi lain, saya merindukan masa bersantai saya dulu saat Ramadan, ketika tidak harus melulu memikirkan soal berjualan demi menyicil impian merasakan financial independence. Tapi kan, berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian. No pain, no gain. Yuk, bisa, yuk.

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng