Skip to main content

Tetap Olahraga (Ringan) Saat Puasa

Sumber foto: Kelly Sikkema via Unsplash

INI tema postingan yang sangat sulit, secara aslinya saya pribadi bukan orang yang gemar berolahraga. Tapi berhubung saat ini sedang berbadan dua dan di usia yang termasuk risiko tinggi karena hamil di atas usia 35 tahun, jadilah setidaknya senam hamil yang ringan-ringan saya sempat-sempatkan, walaupun seringnya hanya sebelum berangkat tidur malam.

Senam hamilnya yang seperti apa? Buat yang sedang atau pernah hamil dan memiliki buku pink alias buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), pasti tahu di bagian belakang buku tersebut ada ilustrasi gerakan-gerakan senam hamil. Sejak zaman kehamilan dengan anak pertama sampai sekarang insyaallah mau yang keempat, saya selalu memakai panduan senam hamil yang terdapat di buku tersebut. Begitu memasuki trimester akhir, biasanya saya tambahkan gerakan-gerakan yang berfokus pada kaki begitu lah, yang sepertinya dulu pernah saya temukan di YouTube.

Di bulan puasa begini sih, memang sudah paling nyaman olahraga ringan seperti itu dilakukan di malam hari, jadi kalau pagi sampai magribnya insyaallah berpuasa, malamnya kecapaian dan jadi haus pun tenang karena bisa langsung minum. Jujur, bagi saya, gerakan senam yang termasuk ringan namun ternyata bikin ngos-ngosan juga sedikit. Atau tergantung usia juga barangkali, ya?

Buat yang sedang berbadan dua, apakah gerakan senam yang terdapat dalam buku pink atau buku KIA juga menjadi panduan Anda dalam berolahraga?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir