Skip to main content

Tetap Olahraga (Ringan) Saat Puasa

Sumber foto: Kelly Sikkema via Unsplash

INI tema postingan yang sangat sulit, secara aslinya saya pribadi bukan orang yang gemar berolahraga. Tapi berhubung saat ini sedang berbadan dua dan di usia yang termasuk risiko tinggi karena hamil di atas usia 35 tahun, jadilah setidaknya senam hamil yang ringan-ringan saya sempat-sempatkan, walaupun seringnya hanya sebelum berangkat tidur malam.

Senam hamilnya yang seperti apa? Buat yang sedang atau pernah hamil dan memiliki buku pink alias buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), pasti tahu di bagian belakang buku tersebut ada ilustrasi gerakan-gerakan senam hamil. Sejak zaman kehamilan dengan anak pertama sampai sekarang insyaallah mau yang keempat, saya selalu memakai panduan senam hamil yang terdapat di buku tersebut. Begitu memasuki trimester akhir, biasanya saya tambahkan gerakan-gerakan yang berfokus pada kaki begitu lah, yang sepertinya dulu pernah saya temukan di YouTube.

Di bulan puasa begini sih, memang sudah paling nyaman olahraga ringan seperti itu dilakukan di malam hari, jadi kalau pagi sampai magribnya insyaallah berpuasa, malamnya kecapaian dan jadi haus pun tenang karena bisa langsung minum. Jujur, bagi saya, gerakan senam yang termasuk ringan namun ternyata bikin ngos-ngosan juga sedikit. Atau tergantung usia juga barangkali, ya?

Buat yang sedang berbadan dua, apakah gerakan senam yang terdapat dalam buku pink atau buku KIA juga menjadi panduan Anda dalam berolahraga?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir