Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto: Julian Steenberger via Unsplash

BERKUTAT di bidang bisnis kuliner, meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih.

Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah. Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami.

Harta dan Kebaikan

Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair/baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh.

Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, serta menggunakan ilmu dan harta tersebut secara baik.

Karenanya kita tidak dibolehkan merasa iri pada orang lain, KECUALI pada dua kelompok orang berikut:

• Orang yang membaca Alquran pada waktu pagi, siang, dan malam.

• Orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian mensedekahkannya di jalan kebaikan.

Bisnis dalam Islam

Disebutkan bahwa Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, karena di dalam riba ada ketidakjujuran dan kezaliman.

Sejak usia enam tahun, Rasul sudah berwirausaha dengan jasa menggembalakan kambing.

Dalam Islam, yang paling penting dalam bisnis adalah mendapatkan keberkahan, bukan semata memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, menjalankan bisnis harus beretika, dan etika bisnis paling utama yang dicontohkan oleh Rasul adalah:

• Jujur.

• Amanah.

Dengan bersikap jujur dan amanah, insyaallah bisnis kita mendapat untung dan berkah, tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Jual-beli akan menjadi haram, bila:

• Ada unsur riba.

• Ada unsur penipuan.

• Ada unsur judi.

• Ada unsur zalim.

Rasul mendoakan rahmat bagi mereka yang menjual dengan mudah dan bagi mereka yang membeli dengan mudah. Intinya, pedagang tidak 'menyusahkan' pembeli, dan pembeli pun tidak 'menyusahkan' pedagang, serta keduanya bisa sama-sama rida (ridho) dalam melakukan transaksi.

Hal-hal lain terkait jual-beli dalam Islam yang juga perlu diingat:

• Tidak boleh menawar suatu barang dagangan yang tengah dalam proses ditawar oleh orang lain (khiar majlis).

• Barang (tertentu) yang sudah dibeli bisa diberi tenggang waktu sekian hari agar pembeli bisa mencoba, karena siapa tahu terdapat cacat pada barang tersebut (khiar syarat).

• Barang (tertentu) yang sudah dibeli dapat dikembalikan lagi bila ternyata memiliki cacat (khiar ain).

• Tidak boleh menjual barang yang kita tidak memiliki barangnya di tangan, kecuali bila kita misalnya adalah agen resmi suatu produk yang memiliki hak untuk menjual.

• Memesan barang yang belum dibuat dibolehkan (akad jual-beli salam).

• Jual-beli lelang dibolehkan, selama akadnya jelas merupakan akad jual-beli lelang, dan bukan akad jual-beli biasa.

• Jual-beli kontan maupun cicilan untuk barang yang sama meski harga berbeda dibolehkan, dengan syarat akadnya jelas (akad kontan saja atau akad cicilan saja).

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: