Skip to main content

Resep Cookies Pandan

KUE kering bebikinan beberapa tahun lalu ini saya adaptasi dari sebuah resep dasar kue kering, yang kemudian saya variasikan menjadi kue kering pandan, supaya kuenya tidak sekadar berasa tepung dan margarin (hal yang biasanya sering saya rasakan saat makan kue kering).

Kebetulan di halaman belakang rumah saya dahulu menanam tanaman pandan (pemberian seorang tetangga) yang tumbuh subur, yang sebelumnya tidak terlalu dimanfaatkan karena saya jarang sekali memasak atau baking menggunakan daun pandan. Maka dari itu, agar ada alasan untuk merapikan tanaman tersebut yang mulai 'gondrong', daunnya yang bejibun saya jadikan sari pandan.

Karena warna dari sari pandan tidak sepekat sari daun suji, warna kue kering ini hijaunya termasuk samar, namun tetap menyegarkan untuk dilihat. Aroma dan rasa pandannya, dengan porsi yang menurut saya pas, membuat dominasi rasa margarin dan terigu bisa menjadi lebih rendah hati.

Dan terlepas dari rasa kuenya yang menurut saya agak kemanisan, secara keseluruhan cookies ini menyenangkan hati untuk dinikmati. Target selanjutnya adalah mencoba resep ini menjadi versi non-terigu.

Resep Cookies Pandan

Resep asli: Drop Cookies oleh Teh Nenis - BKR

Diadaptasi oleh: Diar Adhihafsari (resep di bawah ditulis ulang menggunakan kata-kata saya sendiri, disesuaikan dengan pengalaman dan bahan yang saya gunakan dalam membuatnya)

Bahan-bahan:

• 100 gr -- margarin (bila keberatan dengan kandungan lemak transnya, silakan gunakan mentega)

• 100 gr -- gula pasir berbutir halus

• 1 -- kuning telur

• 1/2 btg -- vanilla bean, keruk isinya (bila tidak ada, gunakan esens vanila sesuai selera)

• sejumput -- garam

• 180 gr -- tepung terigu serbaguna

• secukupnya -- sari pandan (saya buat dengan cara menghaluskan sejumlah daun pandan tanpa air menggunakan chopper, lalu diperas langsung tanpa menambahkan air)

• secukupnya -- biji wijen putih, sangrai (untuk taburan)

Cara membuat:

1. Menggunakan mikser dengan kecepatan tinggi, kocok margarin bersama gula pasir sampai lembut.

2. Masukkan kuning telur, vanila, dan garam sambil tetap mengocok hingga semua tercampur rata.

3. Matikan mikser. Masukkan tepung terigu ke dalam adonan, aduk menggunakan spatula.

4. Tambahkan sari pandan (sesuaikan sampai mendapatkan warna hijau yang diinginkan -- harap diingat, warnanya tidak akan terlalu pekat). Adonan akan terasa lembut, namun masih bisa dipulung.

5. Bulat-bulatkan adonan, kemudian pipihkan di atas loyang (tidak perlu menyemir loyang dengan margarin), atau bentuk sesuai selera. Beri taburan biji wijen putih.

6. Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan sekitar 160° C hingga cookies matang (sesuaikan dengan karakter oven masing-masing).

Catatan:
- Menghasilkan sekitar 350 gr cookies.

- Resep versi asli dari cookies ini tersedia di halaman Facebook Teh Nenis - BKR.

- Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Mengikuti NaNoWriMo 2019

Saya sudah lupa kapan pertama kali mengetahui tentang NaNoWriMo . Pokoknya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi tahun 2019 menjadi pengalaman perdana saya mengikuti NaNoWriMo dengan serius mendaftarkan diri dan sebisa mungkin mengikuti panduan/aturan yang berlaku, walaupun saya tak berhasil menjadi (salah satu) pemenangnya. Apa Itu NaNoWriMo? Sekadar sedikit informasi, NaNoWriMo  adalah singkatan dari National Novel Writing Month . Sejak 1999, setiap bulan November , sejumlah (besar) penulis amatir hingga penulis profesional berbondong-bondong berpartisipasi untuk berkomitmen menulis sebuah ( draft pertama) novel -- tanpa perlu disunting atau diedit -- dengan genre pilihan masing-masing selama 30 hari penuh demi mencapai target menulis sebanyak 50.000 kata . Situs NaNoWriMo menyediakan mesin perekam jumlah kata untuk mencatat sudah seberapa jauh perkembangan jumlah kata dari  draft novel peserta. Tidak akan ada yang memeriksa a

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu