Puasa Saat Pandemi, Kali Kedua

Sumber foto: Elisa via Unsplash

SUDAH yang kedua kalinya umat muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi Covid-19. Mulai dari mengalami masa masih takut untuk keluar rumah, sampai sekarang berani keluar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan (dan tetap memilih serta memilah mana yang menjadi prioritas, mana yang bisa di-skip), sama-sama membuat perasaan lumayan tidak menentu.

Pandemi ini masih menimbulkan keragu-raguan dalam melakukan aktivitas, tak hanya semata aktivitas terkait bulan Ramadan. Apalagi melihat orang-orang di sekitar saya yang kelihatan tetap sehat-sehat saja meski sejak setahunan ini terlihat tidak ketat dalam menerapkan pemakaian masker. Tapi bolak-balik rasa ragu dan takut juga muncul begitu mendengar kabar orang-orang yang saya tahu siapa bisa sampai positif terkena Covid-19.

Memasuki tahun kedua pandemi, kadang terpikirkan imajinasi aneh-aneh; siapa sih, 'dalang' dari pandemi ini sampai bisa kejadian? Adakah pihak yang bisa 'dengan mudah' disalahkan? Ataukah ini takdir semata untuk umat sedunia supaya slowing down sejenak?

Kadang juga muncul kekhawatiran -- bagaimana bila ternyata kita harus seperti ini hingga seterusnya? Like, literally, seriously? Tapi kadang pun terbit optimisme melihat aktivitas manusia yang mulai mencoba normal kembali, meski tidak sepenuhnya.

Ujung-ujungnya, selalu hanya kepada Sang Kuasa saja kita bisa bergantung. Terlebih di momen Ramadan ini, ketika doa-doa yang kita panjatkan insyaallah diijabah. Saya yakin, setahunan terakhir ini, begitu banyak doa yang disampaikan yang mengharapkan musnahnya virus yang telah membuat kehidupan manusia di dunia menjadi 'porak-poranda'. Semoga hikmah selalu bisa kita petik dari puasa saat pandemi ini.

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: