Skip to main content

Mi Instan, Makanan Favorit Saat Sahur

Sumber foto: M. W via Unsplash

SESUAI dengan makanan andalan saat Ramadan, keluarga kami selalu makan sahur dengan makanan yang praktis dimasak dan/atau disiapkan, terutama yang tinggal ditumis ataupun digoreng, atau bisa juga yang tinggal beli jadi.

Seperti umumnya terjadi, sekitar semingguan hingga dua mingguan awal Ramadan, makan sahur di rumah kami masih yang homemade alias buatan sendiri, walaupun sederhana. Tapi semakin mendekati akhir Ramadan, makan sahur jadi lebih sering dengan makanan hasil beli atau bahkan makanan instan.

Setiap Ramadan, khususnya menjelang akhir Ramadan, makanan favorit saat sahur bagi saya pribadi adalah mi instan yang disandingkan dengan lauk (sederhana) lain. Entah kenapa, ada yang terasa istimewa ketika makan mi instan di bulan Ramadan (mungkin karena jadi semakin jarang makan makanan tersebut ya, pas di bulan tersebut).

Kalau di hari dan bulan biasa rasanya (seringnya) biasa juga saat menikmati mi instan. Namun, begitu berada di bulan Ramadan, karena kita 'sibuk' menginginkan makanan lain, mi instan pun tersisihkan (bahkan mungkin terpikirkan pun belum tentu).

Setelah mulai 'puas' mendapatkan dan menikmati makanan lain, barulah perlahan timbul rasa rindu yang sebenarnya sederhana saja terhadap kehadiran mi instan -- entah itu yang versi mi kuah atau mi goreng.

Eh, bukan hanya saya saja kan, yang menjadikan mi instan sebagai makanan favorit saat sahur?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

  1. Hahhahahah, saya juga mbak. Andalan banget ini, karena ngerasa udah mulai ga selera masak di pagi saat sahur, malah bocil saya semangat banget kalau sahur pakai mie. wkwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa kangennya itu lho Mbak, setiap jelang akhir Ramadan, hihihi... :))

      Delete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Menikmati Nikmatnya Lemak di Kue Boterkoek (Plus Resep)

PERTAMA-TAMA, saya tidak menemukan referensi mengenai penulisan yang tepat untuk nama kue yang saya sebutkan di judul postingan ini. Hasil pencarian di Google sewaktu saya menuliskan "botterkoek" : "Mungkin maksud Anda adalah: boterkoek" muncul di bagian paling atas. Jadi mungkin penulisan yang tepat seperti demikian? Adakah pembaca yang mengetahui jawabannya? Pertemuan Pertama dengan Boterkoek Waktu awal mengetahui tentang resep boterkoek ini -- bertahun-tahun lalu -- saya tidak memiliki ketertarikan terhadap kue tersebut. Membaca sekilas resep-resep yang beredar, entah mengapa secara otomatis saya berpikir bahwa kue ini pasti kering dan bikin seret *sok tau* . Meskipun harus saya akui, ada beberapa foto yang menggambarkan boterkoek dengan cara yang membuat saya cukup tergiur. Saya baru benar-benar tertarik dengan si boterkoek ketika menghadiri majelis ilmu khusus muslimah di rumah seorang tetangga. Saat itu, sang tuan rumah menyuguhkan boterkoek untuk kami. Itu

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe