Skip to main content

Meningkatkan Produktivitas Saat Puasa dengan Rutinitas Baru

Sumber foto: Andrew "Donovan" Valdivia via Unsplash

SEBELUMNYA saya sudah bercerita bahwa di bulan puasa tahun ini saya membuat kue dan menitipkannya setiap hari untuk dijual di sebuah cake shop terkenal di Pontianak. Sampai dengan hari ini, tidak terasa sudah hampir dua puluh hari saya menitipkan kue di sana. Di malam hari membuat kue, keesokan paginya mengantar kuenya ke sana, begitu terus setiap hari.

Ini termasuk pengalaman pertama saya beraktivitas seperti itu, di bulan puasa pula. Di awal-awal sih rasanya, duh, capek. Sempat berpikir untuk menyudahi saja. Mungkin karena sebelumnya tidak pernah sedemikian 'sibuk', ya. Tapi setelah mencoba bertahan dan bersabar, lama-lama mulai merasa terbiasa juga. Maksudnya, baru segitu saja -- bahkan kue yang saya buat setiap malamnya hanya sedikit -- bagaimana dengan mereka yang setiap hari kerjanya berjualan dari pagi sampai malam?

Rasa lelah ya tetap ada, namun saya menyadari rutinitas baru seperti ini justru membuat saya merasa lebih produktif. Walaupun biasanya di bulan puasa sering sekali terasa mudah capek dan mengantuk, dengan menjalani rutinitas baru lumayan mengurangi sedikit 'naluri' malas-malasan saya bila sedang di bulan puasa. Intinya, menyibukkan diri -- dengan berjaga-jaga agar tidak sampai terlalu sibuk juga, supaya tidak sampai meninggalkan aktivitas ibadah.

Jadi demikianlah cara sederhana saya meningkatkan produktivitas saat puasa dengan rutinitas baru. Cara apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan produktivitas saat puasa?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

  1. masyaaAllah keren mba, smg laris berkah, dan sehat selalu. aku bikin nastar sekilo aja rasanya udah g karuan badan , heheh, faktor u spertinya :D

    ReplyDelete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir