Skip to main content

Makanan Andalan Saat Ramadan

Sumber foto: Maddi Bazzocco via Unsplash

BIASANYA, memasuki bulan Ramadan, lemari pendingin di rumah saya akan dijejali dengan stok bumbu dasar putih, kuning, dan merah, yang masing-masing dikemas dalam plastik es kecil sesuai dengan perkiraan takaran untuk satu kali masak. Saya juga menyiapkan satu stoples kecil baceman bawang putih untuk mempermudah proses tumis-menumis. Tapi Ramadan tahun ini saya tidak menyiapkan itu semua.

Beberapa hari di awal Ramadan ini saya hanya menyetok sebungkus bakso sapi dan sebungkus mixed vegetables (wortel, jagung, kacang polong, buncis) dari pasar swalayan di dekat rumah. Berhubung keluarga saya sudah hampir tidak pernah lagi makan berat untuk berbuka puasa, segala stok bahan makanan tersebut tentunya hanya dimanfaatkan untuk memasak makanan sahur.

Makanan andalan kami sekeluarga untuk sahur? Kalau masak sendiri, tentu saja makanan yang tinggal ditumis dan digoreng. Semakin bertambah hari Ramadan, yah, kami realistis dan praktis saja, palingan masak telur atau nasi goreng. Kalau sudah bosan dan malas, ya beli lauk jadi saja.

Bagaimana dengan makanan andalan kami untuk berbuka puasa? Kami lebih menyukai membeli beragam kue manis dan asin yang dijual di sejumlah pasar juadah yang ada di sekitar tempat tinggal kami.

Kalau sedang rajin (sedikit), seperti di Ramadan tahun-tahun sebelumnya, saya sesekali membuat sendiri makanan ringan untuk berbuka puasa. Yang gampang-gampang saja -- kolak pisang, puding susu, jeli, dan sebagainya yang masuk kategori gampang.

Ada yang makanan andalannya serupa seperti keluarga saya di bulan Ramadan?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir