Lebaran di Mata Seorang Introvert: Momen yang Membuat Anxiety Meningkat

Sumber foto: Sixteen Miles Out via Unsplash

SEBAGAI seorang introvert yang sekaligus juga pendiam dan pemalu, saya menganggap Lebaran sebagai hari raya yang lumayan membuat anxiety saya meningkat, terutama untuk urusan anjangsana ke rumah keluarga, kerabat, kenalan, tetangga, dan bahkan kawan akrab sendiri.

Jangankan bertamu ke rumah orangnya langsung, sekadar menulis pesan teks apalagi menelepon untuk sekadar berbasa-basi mengucapkan selamat Lebaran saja rasanya beraaat dan seakan membuat saya mengalami panic attack.

Kesannya lebay ya, tapi ya hal itulah yang tidak pernah saya ceritakan ke orang-orang terdekat saya. Rasanya tabu membicarakan hal-hal yang mental-related seperti itu. Dan, saya yakin, orang-orang belum tentu (mau) memahami apa yang saya rasakan dan alami setiap Lebaran tiba.

Ini lebih dari sekadar membuat 'penyakit' pendiam dan pemalu saya 'kumat'. Ini lebih dari itu. Seperti yang saya sebut sebelumnya di atas -- ini membuat tingkat kecemasan meningkat, atau bahkan mungkin malah berupa panic attack.

Terlepas dari sisi membahagiakannya -- makanan lezat berlimpah dan suasana ceria keluarga, nyatanya sisi lain dari Lebaran tidak bisa saya lepaskan, yang sangat mempengaruhi diri saya yang seorang introvert.

Jadi bisa dibilang bahwa selama ini tidak pernah ada momen Lebaran yang betul-betul berkesan bagi saya. Kalau sudah ingat Lebaran, sebisa mungkin akan saya alihkan dan fokuskan ingatan saya kepada segala makanan khasnya yang menyenangkan hati, bukan kepada segala kecemasan dan bahkan kelelahan menghadapi banyak orang.

Semoga saya bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini setiap Lebaran, ya. Ada yang serupa juga kan, seperti saya?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: