Skip to main content

Lebaran di Mata Seorang Introvert: Momen yang Membuat Anxiety Meningkat

Sumber foto: Sixteen Miles Out via Unsplash

SEBAGAI seorang introvert yang sekaligus juga pendiam dan pemalu, saya menganggap Lebaran sebagai hari raya yang lumayan membuat anxiety saya meningkat, terutama untuk urusan anjangsana ke rumah keluarga, kerabat, kenalan, tetangga, dan bahkan kawan akrab sendiri.

Jangankan bertamu ke rumah orangnya langsung, sekadar menulis pesan teks apalagi menelepon untuk sekadar berbasa-basi mengucapkan selamat Lebaran saja rasanya beraaat dan seakan membuat saya mengalami panic attack.

Kesannya lebay ya, tapi ya hal itulah yang tidak pernah saya ceritakan ke orang-orang terdekat saya. Rasanya tabu membicarakan hal-hal yang mental-related seperti itu. Dan, saya yakin, orang-orang belum tentu (mau) memahami apa yang saya rasakan dan alami setiap Lebaran tiba.

Ini lebih dari sekadar membuat 'penyakit' pendiam dan pemalu saya 'kumat'. Ini lebih dari itu. Seperti yang saya sebut sebelumnya di atas -- ini membuat tingkat kecemasan meningkat, atau bahkan mungkin malah berupa panic attack.

Terlepas dari sisi membahagiakannya -- makanan lezat berlimpah dan suasana ceria keluarga, nyatanya sisi lain dari Lebaran tidak bisa saya lepaskan, yang sangat mempengaruhi diri saya yang seorang introvert.

Jadi bisa dibilang bahwa selama ini tidak pernah ada momen Lebaran yang betul-betul berkesan bagi saya. Kalau sudah ingat Lebaran, sebisa mungkin akan saya alihkan dan fokuskan ingatan saya kepada segala makanan khasnya yang menyenangkan hati, bukan kepada segala kecemasan dan bahkan kelelahan menghadapi banyak orang.

Semoga saya bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini setiap Lebaran, ya. Ada yang serupa juga kan, seperti saya?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir