Skip to main content

Lapis Legit, Kue Lebaran yang Wajib Ada di Kota Pontianak

SEBELUM pindah ke kota Pontianak, Lebaran saya di tempat tinggal sebelumnya -- Bekasi -- dan di kampung halaman -- Kuningan -- terasa biasa-biasa saja.

Pertama kali merayakan Lebaran di Pontianak, saya terkaget-kaget melihat betapa setiap meja tamu di setiap rumah yang kami kunjungi penuh dengan stoples berisi kue kering dan makanan ringan. Minuman kaleng aneka rasa berjejer rapi, siap untuk dipilih. Dan ada satu kue basah yang pasti selalu tersedia -- lapis legit.

Pengalaman saya akan kue lapis legit, di usia sekolah dasar kala itu, hanyalah sejauh lapis legit merk X yang terkenal, yang bisa dibeli di pasar swalayan. Begitu berkenalan dengan lapis legit khas Pontianak, walau sempat terkejut dengan teksturnya yang lembut dan lembap (bahkan ada juga yang basah), saya langsung terpesona dan terpikat. Bagaimana bisa di Bekasi dan Kuningan tidak ada yang seperti ini?

Seiring berjalannya waktu, varian kue lapis legit di Pontianak saya temukan semakin beragam -- pandan, belacan (cokelat), kacang, keju, lempok (dodol durian), prunes, hingga Nutella dan Oreo. Termasuk jarang menemukan lapis legit klasik 'berbumbu' rempah spekuk.

Lapis legit Pontianak biasanya terbagi menjadi dua kategori -- premium dan ekonomis. Versi premium bisa mencapai harga di atas tiga ratus atau bahkan empat ratus ribu rupiah, karena menggunakan puluhan kuning telur dan mentega kualitas terbaik. Yang juga menjadi ciri khas kue lapis Pontianak, yaitu tidak menggunakan tambahan tepung apa pun di dalam adonannya. Jadi bisa terbayang ya, kelembutan dan kelembapannya.

Apa kue Lebaran yang wajib ada di rumah dan/atau kota tempat tinggal Anda?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir