Skip to main content

Pencapaian Tertinggi dalam Hidup: Menjadi Diri Sendiri

Sumber foto: Lukas Juhas via Unsplash

JUDULNYA berasa judul buku self-healing atau buku tentang self-love, ya. Tapi inilah judul yang saya rasa paling cocok yang muncul di pikiran setelah hampir seharian saya brainstorming soal tema ngeblog hari ini.

Pencapaian (duniawi) dalam hidup ya alhamdulillah ada lah, walau tidak terbilang banyak. Tapi, kok, ya tidak ada yang membuat saya berminat buat menceritakannya untuk tema seputar pencapaian tertinggi dalam hidup.

Di usia yang secara perlahan insyaallah menuju 40 tahun, terutama dengan status sebagai seorang istri, ibu, dan ibu rumah tangga (yang nyambi jadi bakul kue), hidup hampir selalu terasa seperti melulu menjadi tiga 'sosok' tersebut.

Kadang terasa perasaan rindu dipanggil dengan nama sendiri, just because. Kadang terasa ingin menekan tombol pause untuk menjauh sejenak dari 'ingar bingar' kehidupan berkeluarga.

Ironis rasanya bagaimana kita meninggalkan masa lajang dengan semangat tinggi mengharapkan kebahagiaan (tambahan) dengan hidup bersama 'orang asing' yang kemudian menjadi pasangan kita dan bersama 'orang-orang baru' yang kita lahirkan, untuk kemudian tiba di satu titik di mana kita merindukan diri kita yang dulu ketika masih muda dan melajang. Apa cuma saya yang seperti ini? Apa ini hanya sebuah fase hidup yang sifatnya sementara?

Untunglah masih ada yang namanya waktu luang dalam hidup -- meski sedikit dan mungkin juga 'receh' -- untuk menikmati secuil 'kehidupan sebagai diri sendiri': membaca buku yang bukan buku seputar kehidupan berkeluarga atau seputar menjadi orang tua; memiliki dan menulis di blog milik diri sendiri; dan mempunyai serta mengurus bisnis sendiri (meski masih sering bergantung secara finansial pada pasangan).

Bisa merasakan menjadi diri sendiri di waktu-waktu tersebut sudah terasa seperti sebuah pencapaian tertinggi dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng