Skip to main content

Blogging, Buat Apa?


KALAU zaman dulu (saat internet masih terbilang baru buat kita), sebagian besar orang membuat blog dan menulis di blog alias ngeblog (blogging) -- sepengalaman saya -- untuk alasan pribadi. Mulai dari mencurahkan isi hati alias menjadikan blog sebagai buku harian digital, membagikan pengalaman dalam melakukan sesuatu, sampai menulis puisi gubahan sendiri.

Kalau zaman sekarang, saat kecepatan informasi via internet sudah sampai tahap bikin overwhelming, blogging sudah menjadi sarana untuk personal branding. Pokoknya dibuat lebih serius dan lebih profesional, deh. Bahkan meskipun itu 'sekadar' blog pribadi. Iya, nggak, sih?

Di postingan sebelumnya, saya sudah menyinggung tentang bagaimana -- sebelum memiliki blog Sepiring Kue ini -- saya sudah pernah berkali-kali on dan off  ngeblog dengan berbagai macam niche topik. Ada yang murni pribadi, ada yang untuk tujuan serius alias profesional dan komersial.

Sewaktu mulai ngeblog pertama kali di awal tahun 2007 (tanpa tahu istilah blogging pada mulanya), saya menggunakan LiveJournal.com dengan nama blog The Debutante. Kenapa? Karena saat itu saya merasakan (dan menganggap) diri saya sebagai seorang 'debutan' -- baru lulus kuliah, lalu alhamdulillah memulai pekerjaan di sebuah perguruan tinggi swasta sebagai seorang pengajar. Melakukan itu semua di usia yang masih 22 tahun, saya merasakan dorongan untuk mendokumentasikan (secara kasual) apa yang saya lakukan dan rasakan di sebuah jurnal digital.

Walau saat ini bisa dibilang sebagai eranya media sosial alih-alih eranya blog, tidak tahu kenapa saya masih selalu merasa 'membutuhkan' blog. Ada yang merasakan hal serupa seperti saya? Entah karena sejak awal kenal internet saya sudah suka menulis (ingat Geocities-nya Yahoo?), seakan-akan menulis sebuah artikel majalah (dulu saya bermimpi mempunyai majalah terbitan sendiri), atau bagaimana. Dulu, bisa bikin satu halaman di Geocities saja rasanya sudah kayak punya situs sendiri :))

Intinya, akan selalu ada alasan kenapa kita memulai ngeblog. Mau itu alasan 'receh' atau alasan  'serius', blog akan selalu mampu mewadahi alasan kita, mimpi kita, dan bahkan 'kegabutan' kita.

Boleh saja anak muda zaman sekarang 'mengagungkan' media sosial dengan segala fitur wow-nya. Tapi buat 'anak zaman dulu', yang sempat mengecap nikmatnya ngeblog secara 'kasual' (tanpa harus memikirkan soal menampilkan foto yang bagus, soal SEO 'search engine optimization', ataupun soal kata kunci atau keyword yang efektif), blog -- bahkan sampai kini dengan segala karakteristik lamanya maupun transformasi barunya -- akan tetap punya tempat di hati sebagai wadah menulis, bercerita, dan berbagi yang tidak bisa tergantikan oleh media sosial apa pun.

Ada yang terpikir untuk memulai ngeblog (atau memulai kembali)? Apa alasanmu?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng