Skip to main content

Blog untuk Mewujudkan Mimpi

Sumber foto: Marci Angeles via Unsplash

SEWAKTU membuat blog, punya harapan (besar) apa, sih? Kalau ditanya begitu, sebenarnya bikin bingung mesti jawab apa.

Pengin punya banyak pembaca? Boleh banget.

Pengin memberikan manfaat untuk pembaca? Itu sih, otomatis. Bahkan walaupun mungkin manfaatnya hanya secuil, semoga mengandung berkah.

Pengin dapat uang dari blog? Wih, narablog mana yang nggak mau dapat uang dari blognya sendiri.

Tapi, lebih dari itu semua, harapan besar saya untuk blog (ini) adalah ingin menjadikannya sebagai perwujudan dari mimpi saya.

Jadi, seperti yang pernah saya singgung di postingan sebelumnya, dulu saya pernah bermimpi untuk memiliki dan menerbitkan majalah sendiri.

Seiring berjalannya waktu dan jalan hidup, mimpi tersebut terasa tidak penting lagi untuk saya. Eh, tapi kok, setiap lagi blogwalking, selalu ada semacam perasaan 'rindu' atau apa lah itu yang sulit dijelaskan, bahkan pada diri sendiri.

Kemudian, saya menyadari bahwa dengan memiliki dan menulis di blog sendiri, rasanya (hampir) seperti mewujudkan mimpi semasa dulu di atas yang sebenarnya hingga kini pun sudah tidak menjadi ambisi saya lagi.

Jadi, harapan besar saya untuk blog ini sudah terwujud, dong? Hmm, sudah atau belum, ya? Entah ya, ini pun sulit dijelaskan.

Di satu sisi terasa, ya, ini dia perwujudan mimpi saya, bisa menulis di 'media sendiri'. Namun di sisi lain juga kadang terasa, apa lagi ya, yang bisa saya kerahkan dari blog ini? Konsistensi menulis? (ini tugas besar) Menunjukkan expertise diri sendiri? (ini juga penting, tapi berat)

Kalau kamu, yang punya blog, apa harapan terbesarmu untuk blogmu sendiri?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering