Skip to main content

Bepergian Praktis Hanya dengan Membawa Dompet

TEMA kali ini barang wajib di tas saat bepergian, tapi berhubung sudah lama saya tidak pernah membawa-bawa tas lagi kalau bepergian jarak dekat (kecuali tas kain belanja yang dilipat kecil untuk dikantongi), saya akan menulis tentang dompet saja deh, ya.

Mungkin karena sudah tidak perlu bawa 'bekal' berupa keperluan anak-anak lagi yang mengharuskan membawa tas bila bepergian sebentar, saya merasa dengan membawa dompet saja (plus ponsel dan tas belanja, kalau pas mau belanja) sudah cukup. Yang penting pakaian yang dikenakan ada kantong(-kantong)nya.

Dompet yang selalu saya bawa-bawa ini sebenarnya bukan dompet betulan, melainkan tempat pensil kain yang sudah tidak digunakan lagi oleh anak saya. Kebetulan dompet saya sebelumnya sudah rusak dan saya lihat tempat pensil ini bisa dilipat dua tanpa merusak kartu-kartu penting yang dimasukkan ke dalamnya, ya sudah, saya pakai ulang saja sebagai dompet.

Isi di dalam dompetnya ya standar lah, yang terpenting segala macam KTP, SIM, STNK motor, dan lain-lain selalu ada.

Bagaimana dengan Anda? Apakah barang bawaan Anda saat bepergian juga seringkas itu?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

  1. Waaah keren, saya belum bisa nih kalau cuma bawa dompet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Khusus untuk bepergian jarak dekat aja ini Mbak, kalau jarak jauh tetap rempong juga printilan bawaannya 😅

      Delete
  2. Aku juga sama kalo kemana mana yang pertama ya dompet sama isinya wkwk

    ReplyDelete
  3. Sama🤣itu yang ku rasakan setelah punya anak kak haha

    Dompet yang penting ringkes, kecil, muat isi uang agak banyak, udah beres

    Males ribet

    Jadi dompet ku sekarang seukuran telapak tangan orang dewasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Males ribet" adalah koentji dari solusi yang dicari ya, Mbak :)

      Delete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering