Skip to main content

Bepergian Praktis Hanya dengan Membawa Dompet

TEMA kali ini barang wajib di tas saat bepergian, tapi berhubung sudah lama saya tidak pernah membawa-bawa tas lagi kalau bepergian jarak dekat (kecuali tas kain belanja yang dilipat kecil untuk dikantongi), saya akan menulis tentang dompet saja deh, ya.

Mungkin karena sudah tidak perlu bawa 'bekal' berupa keperluan anak-anak lagi yang mengharuskan membawa tas bila bepergian sebentar, saya merasa dengan membawa dompet saja (plus ponsel dan tas belanja, kalau pas mau belanja) sudah cukup. Yang penting pakaian yang dikenakan ada kantong(-kantong)nya.

Dompet yang selalu saya bawa-bawa ini sebenarnya bukan dompet betulan, melainkan tempat pensil kain yang sudah tidak digunakan lagi oleh anak saya. Kebetulan dompet saya sebelumnya sudah rusak dan saya lihat tempat pensil ini bisa dilipat dua tanpa merusak kartu-kartu penting yang dimasukkan ke dalamnya, ya sudah, saya pakai ulang saja sebagai dompet.

Isi di dalam dompetnya ya standar lah, yang terpenting segala macam KTP, SIM, STNK motor, dan lain-lain selalu ada.

Bagaimana dengan Anda? Apakah barang bawaan Anda saat bepergian juga seringkas itu?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

  1. Waaah keren, saya belum bisa nih kalau cuma bawa dompet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Khusus untuk bepergian jarak dekat aja ini Mbak, kalau jarak jauh tetap rempong juga printilan bawaannya 😅

      Delete
  2. Aku juga sama kalo kemana mana yang pertama ya dompet sama isinya wkwk

    ReplyDelete
  3. Sama🤣itu yang ku rasakan setelah punya anak kak haha

    Dompet yang penting ringkes, kecil, muat isi uang agak banyak, udah beres

    Males ribet

    Jadi dompet ku sekarang seukuran telapak tangan orang dewasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Males ribet" adalah koentji dari solusi yang dicari ya, Mbak :)

      Delete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng