Belajar Bahasa Jepang Gara-gara Idol Group Jepang, Arashi

Sumber foto: Manuel Cosentino via Unsplash

SEJAK memasuki usia 'matang', saya sempat memiliki keyakinan terhadap diri sendiri bahwa saya tidak akan mungkin 'mampir' lagi ke fase menyukai pop culture dan sejenisnya seperti yang pernah terjadi pada saya di usia muda.

Cukup jauh sebelum menjejak di usia matang tersebut, sebenarnya selesai sudah kesukaan saya pada film dan serial Hollywood, serta pada lagu-lagu Barat, juga sejumlah budaya pop lainnya. Just like that; pokoknya selesai. Bahkan 'demam Korea' sejak beberapa tahun terakhir ini pun tidak berhasil menyentuh hati saya.

Makanya, bisa dibilang saya terkaget-kaget ketika tahu-tahu, di akhir 2019, saya jadi menyukai idol group asal Jepang yang kini tengah hiatus, Arashi.

Awalnya karena ketidaksengajaan (dan rasa penasaran) menonton variety show mereka, VS Arashi. Saat itu saya sama sekali tidak tahu bahwa kata Arashi di judul acara itu mengacu pada idol group bersangkutan. Karena menganggap orang-orang Jepang mukanya mirip semua, saya bahkan tidak paham yang mana host acaranya dan yang mana bintang tamunya.

Setelah beberapa kali menonton, eh, kok, pada lucu, ya. Padahal saya sempat bingung dengan humor orang Jepang yang ditampilkan di televisi. Sampai akhirnya sebuah iklan acara tersebut menyebutkan secara jelas bahwa Arashi adalah sebuah idol group terkenal di Jepang. Sampai saat itu pun saya masih bingung yang mana saja anggotanya -- sumpah, orang-orang bermata sipit khas Asia itu lumayan sulit dibedakan.

Barulah di akhir 2019 saya tergerak untuk melakukan pencarian terhadap Arashi via Google. Dan akhirnya tahu bahwa mereka sudah eksis sejak 1999 dan memutuskan hiatus di akhir 2020.

Fixed, sejak itu, perlahan saya mulai bisa membedakan wajah para anggotanya. Dan fixed, sejak itu, telinga saya mulai lebih memperhatikan bahasa Jepang itu seperti apa. Dan demi apa coba, saya mulai mempelajari (secara kasual) bahasa (lisan) Jepang (yang ternyata lumayan sulit) melalui televisi dan media sosial. Siapa sangka, tumbuhlah kesukaan saya belajar bahasa Jepang gara-gara idol group Jepang, Arashi.

Dan gara-gara ibunya asyik sendiri belajar bahasa Jepang dari televisi, dua anak pertama saya pun jadi ikut tertarik dan mulai memahami serta mempraktikkan kata-kata sederhana semacam kawaii, sugoi, arigatou, dan iiyo.

Tentu saja, kata-kata sederhana belum cukup bagi saya. Saya juga ingin bisa lebih banyak memahami kosa kata dalam bahasa Jepang. Terlebih, saya ingin bisa memahami cara menyusun kalimat sederhana juga dalam bahasa tersebut. Setidaknya untuk saya nikmati sendiri pun sudah cukup memuaskan hati.

Ada yang punya pengalaman serupa dengan saya?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: