Skip to main content

7 Hal yang Paling Membuat Seorang Introvert Bahagia

Sumber foto: Elena Koycheva via Unsplash

SEBAGAI seorang introvert yang sekaligus seorang pendiam dan pemalu, kadang saya merasa bahwa dunia ini sengaja di-setting untuk kenyamanan para ekstrovert. Atau saya saja yang terlalu baperan? Apa ada yang merasa demikian juga?

Supaya tetap dengan vibrasi positif, yuk, kita daftarkan 7 hal yang paling membuat seorang introvert bahagia, meski -- mengutip kata-kata Susan Cain, penulis buku tentang introvert yang berjudul "Quiet" -- hidup di dunia yang tak pernah berhenti bicara:

1. Tidak harus berbasa-basi melulu (atau setidaknya, kalau memang perlu banget, basa-basinya sebentar saja, deh).

2. Tidak dipaksa untuk harus berbicara di tengah pertemuan atau acara suatu kelompok, kalau memang konteksnya tidak ada yang harus diutarakan.

3. Tidak dinyinyiri kalau tidak atau sedikit berbicara di tengah suatu pertemuan atau acara.

4. Tidak dinyinyiri apalagi ditertawakan kalau 'tiba-tiba' mau berbicara di tengah suatu pertemuan atau acara. Nggak ngomong 'salah', sekalinya ngomong, eh, 'salah' juga.

5. Dibolehkan tidak berlama-lama menghadiri suatu pertemuan atau acara yang isinya penuh dengan orang ramai, di mana kita tidak ngapa-ngapain (dan kalaupun tidak berada di sana juga sebenarnya tidak ngaruh buat siapa-siapa).

6. Tidak 'ujug-ujug' ditelepon atau didatangi tanpa 'peringatan' (pemberitahuan) sebelumnya. Ingat judul komik tentang introvert ini: Text, don't call. Tampaknya tidak semua orang paham bahwa bagi sebagian orang, menerima panggilan telepon (bahkan dari orang terdekat kita sekalipun) bisa terasa 'berat'.

7. Diberikan waktu untuk diri sendiri, meski hanya sebentar. Ponsel saja boleh di-charge dulu 'sendirian', masa kita yang sama-sama manusia tidak boleh sendirian dulu sebentar.

Buat yang sama-sama introvert (dan pendiam dan pemalu) seperti saya, apakah tujuh hal di atas juga sama-sama membuat bahagia bagimu?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

  1. Halo Kak Diar! Aku suka juga baca bukunya Susan Cain gara2 rekom temen aku yg INFJ. Padahal aku ENTJ yaa tp orang bilang ENTJ itu sebenernya the introvert of extrovert😂 Jadi aku jg relate sama bbrp poin di atas. Terutama soal basa-basi. Aku tipikal yg to the point dan ga suka light talks apalagi yg menurut aku cukup offensive. Sbg extro aku akui sebagian extrov lain jg ada yg tabiatnya cukup annoying bagi introv bahkan untuk sesama extrov sendiri :') Anw, semangat lanjutin 30 Day Challenge nya yaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih support-nya, Mbak Bintang 😊

      Delete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng