Skip to main content

7 Fakta Tentang Diri Sendiri: Seberapa Kenal dengan Diri Sendiri?

INI sebenarnya penting-tidak penting untuk diketahui, tapi ternyata untuk mendaftarkan tujuh fakta tentang diri sendiri lumayan susah, ya.

Hampir berusia 40 tahun, mendapatkan tema menulis seperti ini kok, jadi merasa sulit sendiri. Apa saya tidak betul-betul mengenal diri saya sendirikah?

Tapi berhubung waktu ketika saya sedang menulis ini sudah hampir tengah malam, yang berarti hari baru berikutnya sudah ada 'tugas' menulis dengan tema yang baru lagi, mari kita coba kupas 7 fakta tentang diri saya sendiri:

1. Saya tidak suka dan tidak pandai mengobrol, termasuk mengobrol basa-basi.

Yah, basa-basi sedikit sih, bisa lah (untuk dipaksakan). Tapi sekiranya bisa dihindari, akan saya pilih untuk hindari.

Begitu pun dalam hal mengobrol biasa, terutama di tengah beberapa apalagi banyak orang, kalau memang tidak ada yang ingin atau perlu saya katakan, saya akan memilih diam saja. Atau kalau ada, saya akan membuat 'skenario' kata-kata yang MUNGKIN saja ingin saya ucapkan -- tapi biasanya tidak akan saya keluarkan.

2. Saya bisa melipat lidah saya menjadi dua ke arah kanan saya.

Ini rambang banget, ya 😄 Tapi ya memang saya bisa. Walau bukan hal yang bisa dibanggakan, tapi itu adalah bagian dari fakta tentang diri saya sendiri.

3. Saya dahulu tidak menyukai segala sesuatu yang berbau Jepang (kecuali komik-komik di zaman 1990-an), tapi idol group Jepang bernama Arashi membuat saya lumayan berubah pikiran.

Bukan berubah jadi Jepang-mania juga, sih. Tapi ada lah hal-hal seputar Jepang yang kini bisa lebih saya hargai daripada waktu-waktu sebelumnya.

4. Saya baru bisa menyalakan korek api di usia hampir dewasa.

Fakta yang tidak penting, namun menjadi 'life skill' yang penting bagi saya.

5. Saya sudah terbiasa dengan panggilan nama saya yang masih sering salah hingga kini, baik tulisan apalagi lisan.

Diar, Diar. Bukan Dinar, bukan Dian, bukan Diah, bukan Dias, bukan Diaz.

6. Saya menikmati setiap tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) yang saya ikuti semenjak masa kuliah hingga di usia sekarang yang sudah tidak memiliki keperluan apa-apa lagi menggunakan hasil tes TOEFL.

Ini sulit dijelaskan. Walaupun ada bagian sulitnya (plus manajemen waktu mengerjakan soal yang selalu jadi masalah saya), saya tetap saja suka mengerjakan tes TOEFL (termasuk mengikuti kompetisinya). Bisa dibilang, lebih baik saya mengerjakan 100 soal TOEFL daripada harus mengerjakan 10 soal Matematika.

7. Saya bisa kalap makan kalau lauknya sambal goreng kentang atau teri balado.

Intinya sih, saya menyukai masakan pedas. Tapi entah kenapa, sambal goreng kentang dan teri balado yang paling bisa membuat saya kalap.

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering