Skip to main content

5 Tempat Wisata Laut Penuh Kesan yang Tidak Jauh dari Pontianak

[Foto-foto menyusul, ya]

Sumber foto: Samuel Chan via Unsplash

WALAU tidak bisa dibilang sering mengunjungi tempat wisata untuk berlibur (apalagi tahu dan kenal dengan tempat-tempat wisata apa saja yang ada di sekitar saya), setidaknya ada tempat-tempat wisata yang meninggalkan kesan tersendiri di hati saya. Dalam hal ini adalah tempat wisata laut yang tidak jauh dari Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat.

Sebagai 'anak gunung' (maksudnya dulu lahir di area dekat gunung yang cenderung dingin), ternyata saya selalu lebih menyukai wisata laut yang cenderung panas, sejak kecil hingga sekarang di usia dewasa.

1. Pantai Pasir Panjang, Singkawang

Berlokasi sekitar 3-4 jam dari Pontianak, pantai ini merupakan wisata pantai pertama yang saya kunjungi semenjak pindah ke Pontianak dari Bekasi, Jawa Barat, di usia 10 tahun. Dan pantai ini pula yang paling sering saya kunjungi semenjak itu, hingga kini saya sendiri sudah punya anak sulung yang usianya hampir 10 tahun.

Secara fasilitas, es-te-de lah, kurang-lebih dengan pantai-pantai lain di sekitarnya. 

Kenangan saya yang paling epik tentang Pantai Pasir Panjang adalah suatu ketika di masa masih SMP, saya tiba-tiba nyeletuk ke mendiang ayah saya bahwa saya sedang ingin pergi ke pantai, dan seperti tanpa berpikir ayah saya langsung mengiyakan dan meng-ayo-kan (!).

Tanpa persiapan apa-apa, kami berangkat berdua menggunakan mobil dinas ayah saya ke sana. Dan di pantainya, saya hanya bermain air sedikit (dan sebentar), ibarat 'sekadar' menyentuhkan kaki ke pasir dan air pantai, sementara ayah saya menunggu di dalam mobil. Setelah itu pulang, seakan baru kembali dari bepergian biasa saja. Sungguh memori tak terlupakan.

2. Sebuah 'pantai' berlumpur di area Jeruju Besar, Kabupaten Kubu Raya

Kenapa pantainya saya tulis dengan tanda kutip? Karena secara penampakan sama sekali tidak terlihat seperti pantai pada umumnya.

Bagian bibir pantai yang 'seharusnya' menjadi hamparan pasir terlihat berlumpur dan ditumbuhi banyak sekali pepohonan rindang (apakah mangrove? Tapi seingat saya juga ada yang berjenis palem-paleman).

Seumur hidup, hanya satu kali saya pernah ke sana, semasa masih kuliah bersama kawan-kawan saya. Kalau ke sana lagi, saya pasti tidak akan ingat kembali. Awalnya saya bahkan tidak tahu ada wilayah yang bernama Jeruju Besar yang tidak jauh-jauh amat dari Pontianak, apalagi ternyata ia di sisi laut. Kami di sana, sambil menahan risih karena kaki yang kena lumpur, menikmati pemandangan laut di sore hari sebentar saja. Tapi sungguh pengalaman yang luar biasa.

3. Wisata Mangrove Equator Park, Jeruju Besar, Kabupaten Kubu Raya

Saya bersama keluarga saya ke sana saat Idul Adha 2019, saat bisa dikatakan hampir tidak ada apa-apa di sana, berbeda dengan apa yang tampak sekarang seperti yang dapat dilihat di akun Instagram tempat wisata alam tersebut, @equatorparkjerujubesar.

Saya sempat bertanya-tanya, ketika memandangi laut dari kejauhan dari jembatan kecil panjang yang ada di sana, apakah ini adalah tempat yang sama (atau mungkin tetangganya) dengan yang pernah saya kunjungi di masa kuliah dahulu (lihat nomor 2)?

4. Wisata Mangrove Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya

Tempat wisata alam ini kami kunjungi di hari yang sama, langsung setelah kami mengunjungi Equator Park Jeruju Besar tersebut di atas.

Jalan menuju ke sana sama-sama masih belum mulus, tapi harus diakui bahwa suasana tempat wisata mangrove Sungai Kupah ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan tetangganya tadi.

Dan yang sama-sama bikin keki, tak lama setelah kami berkunjung ke sana, barulah dilakukan segala macam perbaikan dan pengembangan, sehingga tampilan tempat wisata ini sekarang jauh lebih cantik dibandingkan sewaktu kami ke sana, seperti terlihat di akun Instagram @mangrovesungaikupah.

5. Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya

Sebenarnya ini bukan tempat wisata, sih. Tapi karena saya sendiri maupun bersama keluarga sudah berkali-kali ke sana, termasuk untuk 'sekadar' menikmati pemandangan laut di ujung Sungai Kakap ini, saya menganggapnya sebagai tempat wisata (seperti nomor 2).

Di sana dulu ada semacam, apa ya namanya, gazebo kecil begitu, yang bisa digunakan untuk memandangi laut sambil menikmati tiupan angin yang sejuk dan menenangkan.

Juga, hingga sekarang, ada sebuah rumah makan boga bahari yang sudah eksis semenjak saya baru pindah ke Pontianak. Pengalaman tersendiri kan, bisa menikmati boga bahari sambil menikmati pemandangan laut sekaligus kapal-kapal kecil penumpang dan nelayan yang lalu-lalang.

Salah satu pengalaman tidak terlupakan adalah sewaktu saya dan suami memutuskan untuk 'piknik' di gazebo yang saya ceritakan di atas. Waktu itu saya baru saja mengalami keguguran pada kehamilan pertama dan belum lama selesai tindakan kuretase. Jadi kami berpiknik semacam untuk menghibur hati mungkin, ya.

Tempat wisata apa dan di mana yang meninggalkan kesan mendalam di hati Anda?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge:

Comments

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng