Skip to main content

2 Akun Instagram Resep Makanan Gluten Free

Sumber foto: Humphrey Muleba via Unsplash

TREN makanan gluten-free alias makanan tanpa gluten, khususnya tanpa tepung terigu, semakin meningkat, ya. Bahkan menurut data yang pernah dikemukakan oleh perencana keuangan, Yuszak M. Yahya, alasan terbesar kenapa orang mengonsumsi makanan gluten free adalah tanpa alasan atau no reason at all.

Hal tersebut bisa menunjukkan dua hal, menurut saya: entah orang-orang merasakan FOMO atau fear of missing out, atau karena mengonsumsi makanan tanpa gluten memang 'semata' mulai menjadi kebiasaan.

Tak heran kalau produk berbasis gluten free semakin banyak dibuat dan sekaligus dicari. Plus, resep-resep makanan gluten free pun banyak dicari dan diminati juga, mulai dari makanan ringan alias camilan, makanan penutup atau dessert, sampai makanan berat.

Website, blog, channel YouTube, juga akun Instagram resep makanan, walau tidak mengkhususkan diri di resep gluten free, sesekali mulai menyisipkan resep makanan tanpa gluten.

Nah, ada 2 akun Instagram resep makanan gluten free yang jadi favorit saya (dan banyak orang lainnya) selama beberapa tahun terakhir ini, yaitu:

1. Mbak Kiki (@dianandariskia)

Selain sering memposting resep makanan gluten free, Mbak Kiki yang humoris ini juga terkenal dengan gaya hidup minim sampah yang diusungnya. Termasuk mempraktikkannya ke dalam resep-resep karyanya, semisal membuat resep makanan dari ampas jus atau membuat resep masakan dari sampah kulit buah pisang.

2. Mbak Vara (@varajaneeta)

Mbak Vara, seperti Mbak Kiki, tak hanya sering membagikan resep makanan (terutama dessert) gluten free, namun juga menyajikannya dalam foto-foto yang nyaman dilihat saking cantiknya. Resep-resep di akun Instagram Mbak Vara pun termasuk simpel, dengan jumlah bahan baku yang umumnya sedikit saja.

Apakah dua selebgram di atas juga menjadi favorit Anda?

Catatan:

Postingan ini saya tulis sebagai kepesertaan saya dalam BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup