Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Pengalaman Membuat Donat Panggang (yang Tidak Berbentuk Donat) (Plus Resep)

KADANG, dalam hidup, ada resep-resep yang sudah kita catat dengan lengkap, tapi belum tentu mendorong kita untuk langsung mempraktikkannya. Entah kenapa. Di sisi lain, ada pula resep-resep yang sekian lama sudah tersimpan dalam buku catatan resep kita (atau zaman sekarang di folder ponsel atau bahkan di cloud storage kita), dan akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, 'tiba-tiba' saja membuat kita tergoda dan langsung beranjak membuatnya. Ini juga entah kenapa. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika 'ujug-ujug' mata saya tertahan selama beberapa waktu di satu resep donat panggang . Bahan-bahannya terbaca, cara membuatnya terbaca, proses dan hasil akhirnya juga tervisualisasi di pikiran. Tapi, apa daya, begitu turun langsung ke dapur, hasil praktiknya kok, berbeda jauh, ya. Donat Panggang, Donat yang Tidak Digoreng Ya iyalah, sudah jelas di judul postingan ini bahwa yang saya buat adalah donat yang dipanggang . Setelah sempat terkejut dengan bentu

Menikmati Nikmatnya Lemak di Kue Boterkoek (Plus Resep)

PERTAMA-TAMA, saya tidak menemukan referensi mengenai penulisan yang tepat untuk nama kue yang saya sebutkan di judul postingan ini. Hasil pencarian di Google sewaktu saya menuliskan "botterkoek" : "Mungkin maksud Anda adalah: boterkoek" muncul di bagian paling atas. Jadi mungkin penulisan yang tepat seperti demikian? Adakah pembaca yang mengetahui jawabannya? Pertemuan Pertama dengan Boterkoek Waktu awal mengetahui tentang resep boterkoek ini -- bertahun-tahun lalu -- saya tidak memiliki ketertarikan terhadap kue tersebut. Membaca sekilas resep-resep yang beredar, entah mengapa secara otomatis saya berpikir bahwa kue ini pasti kering dan bikin seret *sok tau* . Meskipun harus saya akui, ada beberapa foto yang menggambarkan boterkoek dengan cara yang membuat saya cukup tergiur. Saya baru benar-benar tertarik dengan si boterkoek ketika menghadiri majelis ilmu khusus muslimah di rumah seorang tetangga. Saat itu, sang tuan rumah menyuguhkan boterkoek untuk kami. Itu

Ringkasan Kajian: Berbisnis ala Rasulullah

Sumber foto:   Julian Steenberger via Unsplash BERKUTAT di bidang bisnis kuliner , meski (amat sangat) kecil-kecilan, wajar rasanya kalau saya merasa berkewajiban untuk terus berusaha mencari dan menambah ilmu, apalagi dari kajian fiqih . Ahad, 29 Oktober 2017 silam, langkah saya diringankan untuk mendatangi kajian fiqih muslimah (Kafilah) bulanan yang diselenggarakan oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) Pontianak yang berjudul Berbisnis ala Rasulullah . Berikut ringkasannya. Bila terdapat kesalahan, mohon dikoreksi, siapa tahu saya sempat salah dengar atau salah memahami. Harta dan Kebaikan Dalam introduksinya, Ustadz Didik M. Nur Haris membicarakan harta terlebih dahulu. Bahwa di dalam Alquran (misalnya di surat al-Baqarah: 180) Allah menyebut kata harta berdampingan dengan kata khair /baik. Ini menunjukkan bahwa harta bisa mendatangkan kebaikan, asalkan berada di tangan orang yang saleh. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang berilmu dan berharta, s

Resep Cookies Pandan

KUE kering  bebikinan beberapa tahun lalu ini saya adaptasi dari sebuah resep dasar kue kering , yang kemudian saya variasikan menjadi kue kering pandan , supaya kuenya tidak sekadar berasa tepung dan margarin (hal yang biasanya sering saya rasakan saat makan kue kering). Kebetulan di halaman belakang rumah saya dahulu menanam tanaman pandan (pemberian seorang tetangga) yang tumbuh subur, yang sebelumnya tidak terlalu dimanfaatkan karena saya jarang sekali memasak atau baking menggunakan daun pandan. Maka dari itu, agar ada alasan untuk merapikan tanaman tersebut yang mulai 'gondrong', daunnya yang bejibun saya jadikan sari pandan. Karena warna dari sari pandan tidak sepekat sari daun suji , warna kue kering ini hijaunya termasuk samar, namun tetap menyegarkan untuk dilihat. Aroma dan rasa pandannya, dengan porsi yang menurut saya pas, membuat dominasi rasa margarin dan terigu bisa menjadi lebih rendah hati. Dan terlepas dari rasa kuenya yang menurut saya agak

Lebaran di Mata Seorang Introvert: Momen yang Membuat Anxiety Meningkat

Sumber foto:  Sixteen Miles Out via Unsplash SEBAGAI seorang introvert yang sekaligus juga pendiam dan pemalu , saya menganggap Lebaran sebagai hari raya yang lumayan membuat anxiety saya meningkat, terutama untuk urusan anjangsana ke rumah keluarga, kerabat, kenalan, tetangga, dan bahkan kawan akrab sendiri. Jangankan bertamu ke rumah orangnya langsung, sekadar menulis pesan teks apalagi menelepon untuk sekadar berbasa-basi mengucapkan selamat Lebaran saja rasanya beraaat dan seakan membuat saya mengalami panic attack . Kesannya lebay ya, tapi ya hal itulah yang tidak pernah saya ceritakan ke orang-orang terdekat saya. Rasanya tabu membicarakan hal-hal yang mental-related seperti itu. Dan, saya yakin, orang-orang belum tentu (mau) memahami apa yang saya rasakan dan alami setiap Lebaran tiba. Ini lebih dari sekadar membuat 'penyakit' pendiam dan pemalu saya 'kumat'. Ini lebih dari itu. Seperti yang saya sebut sebelumnya di atas -- ini membuat tingkat

Lapis Legit, Kue Lebaran yang Wajib Ada di Kota Pontianak

SEBELUM pindah ke kota Pontianak , Lebaran saya di tempat tinggal sebelumnya -- Bekasi -- dan di kampung halaman -- Kuningan -- terasa biasa-biasa saja. Pertama kali merayakan Lebaran di Pontianak , saya terkaget-kaget melihat betapa setiap meja tamu di setiap rumah yang kami kunjungi penuh dengan stoples berisi kue kering dan makanan ringan. Minuman kaleng aneka rasa berjejer rapi, siap untuk dipilih. Dan ada satu kue basah yang pasti selalu tersedia -- lapis legit . Pengalaman saya akan kue lapis legit , di usia sekolah dasar kala itu, hanyalah sejauh lapis legit merk X yang terkenal, yang bisa dibeli di pasar swalayan. Begitu berkenalan dengan lapis legit khas Pontianak , walau sempat terkejut dengan teksturnya yang lembut dan lembap (bahkan ada juga yang basah), saya langsung terpesona dan terpikat. Bagaimana bisa di Bekasi dan Kuningan tidak ada yang seperti ini? Seiring berjalannya waktu, varian kue lapis legit di Pontianak saya temukan semakin beragam -- pandan, be

Rutinitas Saat Menunggu Buka Puasa ala Keluarga Kami

Sumber foto:  Lucas Alexander via Unsplash BISA dibilang keluarga kami tidak memiliki rutinitas khusus saat menunggu buka puasa . Apalagi anak-anak sudah semakin besar dan punya kawan main sendiri di kompleks tempat tinggal kami, sehingga biasanya mereka akan menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa dengan kawan-kawan mereka -- mulai dari bermain biasa, sampai berolahraga bulu tangkis. Sementara saya di rumah, seperti di hari-hari biasa saja, mengurus dan menyelesaikan segala urusan rumah tangga, terutama mencuci peralatan makan dan masak sisa sahur dan bekas pakai si anak bayi yang tidak berpuasa. Terkadang juga saya memanfaatkan waktu sebelum berbuka untuk mencuci dan menjemur pakaian. Suami saya, bila tidak ada 'jadwal' buka puasa di luar, biasanya 'bertugas' membeli makanan ringan dan minuman manis untuk berbuka puasa sepulangnya dari tempat kerja. Atau terkadang saya yang mendapat bagian beli-beli tersebut. Kadang anak-anak ikut, kadang tidak. Yang jela

Mi Instan, Makanan Favorit Saat Sahur

Sumber foto:  M. W via Unsplash SESUAI dengan makanan andalan saat Ramadan , keluarga kami selalu makan sahur dengan makanan yang praktis dimasak dan/atau disiapkan, terutama yang tinggal ditumis ataupun digoreng, atau bisa juga yang tinggal beli jadi. Seperti umumnya terjadi, sekitar semingguan hingga dua mingguan awal Ramadan, makan sahur di rumah kami masih yang homemade alias buatan sendiri, walaupun sederhana. Tapi semakin mendekati akhir Ramadan, makan sahur jadi lebih sering dengan makanan hasil beli atau bahkan makanan instan. Setiap Ramadan , khususnya menjelang akhir Ramadan, makanan favorit saat sahur bagi saya pribadi adalah mi instan yang disandingkan dengan lauk (sederhana) lain. Entah kenapa, ada yang terasa istimewa ketika makan mi instan di bulan Ramadan (mungkin karena jadi semakin jarang makan makanan tersebut ya, pas di bulan tersebut). Kalau di hari dan bulan biasa rasanya (seringnya) biasa juga saat menikmati mi instan. Namun, begitu berada di bula

Makanan Andalan Saat Ramadan

Sumber foto: Maddi Bazzocco via Unsplash BIASANYA, memasuki bulan Ramadan , lemari pendingin di rumah saya akan dijejali dengan stok bumbu dasar putih, kuning, dan merah, yang masing-masing dikemas dalam plastik es kecil sesuai dengan perkiraan takaran untuk satu kali masak. Saya juga menyiapkan satu stoples kecil baceman bawang putih untuk mempermudah proses tumis-menumis. Tapi Ramadan tahun ini saya tidak menyiapkan itu semua. Beberapa hari di awal Ramadan ini saya hanya menyetok sebungkus bakso sapi dan sebungkus mixed vegetables (wortel, jagung, kacang polong, buncis) dari pasar swalayan di dekat rumah. Berhubung keluarga saya sudah hampir tidak pernah lagi makan berat untuk berbuka puasa, segala stok bahan makanan tersebut tentunya hanya dimanfaatkan untuk memasak makanan sahur. Makanan andalan kami sekeluarga untuk sahur? Kalau masak sendiri, tentu saja makanan yang tinggal ditumis dan digoreng. Semakin bertambah hari Ramadan, yah, kami realistis dan praktis saja,

Meningkatkan Produktivitas Saat Puasa dengan Rutinitas Baru

Sumber foto: Andrew "Donovan" Valdivia via Unsplash SEBELUMNYA saya sudah bercerita bahwa di bulan puasa tahun ini saya membuat kue dan menitipkannya setiap hari untuk dijual di sebuah cake shop terkenal di Pontianak . Sampai dengan hari ini, tidak terasa sudah hampir dua puluh hari saya menitipkan kue di sana. Di malam hari membuat kue, keesokan paginya mengantar kuenya ke sana, begitu terus setiap hari. Ini termasuk pengalaman pertama saya beraktivitas seperti itu, di bulan puasa pula. Di awal-awal sih rasanya, duh, capek . Sempat berpikir untuk menyudahi saja. Mungkin karena sebelumnya tidak pernah sedemikian 'sibuk', ya. Tapi setelah mencoba bertahan dan bersabar, lama-lama mulai merasa terbiasa juga. Maksudnya, baru segitu saja -- bahkan kue yang saya buat setiap malamnya hanya sedikit -- bagaimana dengan mereka yang setiap hari kerjanya berjualan dari pagi sampai malam? Rasa lelah ya tetap ada, namun saya menyadari rutinitas baru seperti ini justru

Tetap Olahraga (Ringan) Saat Puasa

Sumber foto:  Kelly Sikkema via Unsplash INI tema postingan yang sangat sulit, secara aslinya saya pribadi bukan orang yang gemar berolahraga. Tapi berhubung saat ini sedang berbadan dua dan di usia yang termasuk risiko tinggi karena hamil di atas usia 35 tahun, jadilah setidaknya senam hamil yang ringan-ringan saya sempat-sempatkan, walaupun seringnya hanya sebelum berangkat tidur malam. Senam hamilnya yang seperti apa? Buat yang sedang atau pernah hamil dan memiliki buku pink alias buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), pasti tahu di bagian belakang buku tersebut ada ilustrasi gerakan-gerakan senam hamil. Sejak zaman kehamilan dengan anak pertama sampai sekarang insyaallah mau yang keempat, saya selalu memakai panduan senam hamil yang terdapat di buku tersebut. Begitu memasuki trimester akhir, biasanya saya tambahkan gerakan-gerakan yang berfokus pada kaki begitu lah, yang sepertinya dulu pernah saya temukan di YouTube. Di bulan puasa begini sih, memang sudah paling nyaman olah

Menikmati Memilih dan Membeli Kue-kue untuk Takjil Buka Puasa Setiap Sore Ramadan

Sumber foto:  Zeno Aras via Unsplash SETIAP Ramadan, yang paling bikin anak-anak saya semangat menanti-nantinya tentu saja kegiatan membeli kue-kue untuk takjil berbuka puasa ketika hari sudah sore. Alhamdulillah lokasi rumah kami, walau sering disebut 'pedalaman' saking jauhnya, tapi masih terbilang strategis kalau mau mencari apa-apa. Walaupun masuk ke kabupaten, tapi karena letaknya tepat di perbatasan kabupaten dengan ibu kota, jadi masih lumayan dekat ke mana-mana. Apalagi jalan tembus ke arah kota tersedia beberapa jalur. Termasuk kalau mau mencari makanan apa saja, salah satunya makanan ringan untuk takjil berbuka puasa , alhamdulillah banyak pilihannya. Makanya, kegiatan mencari, memilih, dan membeli kue-kue tersebut (di beberapa tempat yang berganti-ganti, supaya tidak bosan) selalu dinantikan, bahkan satu hingga dua bulan sebelum bulan Ramadan tiba. Kalau sudah begini, jadi menyadari betapa sebenarnya hal-hal kecillah yang biasanya terasa paling menyentu

Puasa Saat Pandemi, Kali Kedua

Sumber foto:  Elisa via Unsplash SUDAH yang kedua kalinya umat muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi Covid-19 . Mulai dari mengalami masa masih takut untuk keluar rumah, sampai sekarang berani keluar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan (dan tetap memilih serta memilah mana yang menjadi prioritas, mana yang bisa di- skip ), sama-sama membuat perasaan lumayan tidak menentu. Pandemi ini masih menimbulkan keragu-raguan dalam melakukan aktivitas, tak hanya semata aktivitas terkait bulan Ramadan. Apalagi melihat orang-orang di sekitar saya yang kelihatan tetap sehat-sehat saja meski sejak setahunan ini terlihat tidak ketat dalam menerapkan pemakaian masker. Tapi bolak-balik rasa ragu dan takut juga muncul begitu mendengar kabar orang-orang yang saya tahu siapa bisa sampai positif terkena Covid-19. Memasuki tahun kedua pandemi, kadang terpikirkan imajinasi aneh-aneh; siapa sih, 'dalang' dari pandemi ini sampai bisa kejadian? Adakah pihak yang bis

Waktu Luang Yang Dirindukan Saat Ramadan

Sumber foto:  Slywia Bartyzel via Unsplash RAMADAN tahun ini, untuk pertama kalinya, saya mencoba menitipkan kue buatan saya di sebuah cake shop yang cukup terkenal di daerah tengah kota. Awalnya maju-mundur tidak pe-de begitu. Banyak lah yang bikin saya lewah pikir alias overthinking , mulai dari memikirkan modal, sampai memikirkan harga jual. Ujung-ujungnya malah Mbak Admin cake shop -nya yang mendorong dan meyakinkan saya. Akhirnya ya sudah, sampai dengan hari ini, hampir dua pekan saya menitipkan kue di pasar juadah yang dibuka di cake shop tersebut. Membuat kue setiap malam untuk dititipkan keesokan paginya membuat saya sibuk setiap hari, walaupun jumlah kue yang saya buat hanya sedikit. Namun, ditambah dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak habis-habis, dan belum lagi aktivitas menulis blog untuk Ramadan challenge dari Blogger Perempuan , plus ajang menulis Camp NaNoWriMo yang berlangsung selama April ini, oh, juga reading challenge yang saya ikuti, membuat w

Saat Hari Libur dan Hari Biasa Terasa Sama Saja Bagi Ibu Rumah Tangga

Sumber foto:  Annie Spratt via Unsplash SEBAGAI seorang ibu rumah tangga purnawaktu , hari biasa dan hari libur tipiiis sekali perbedaannya. Apalagi kalau sudah memasuki bulan Ramadan ; rasanya tanggal hitam semua, deh. 😅 Makanya begitu mendapat tema tentang kegiatan yang dilakukan saat hari libur , saya jadi cukup bingung harus menulis apa. Ya soalnya memang kegiatan yang saya lakukan saat hari libur masih kurang lebih sama seperti kegiatan yang saya lakukan di hari-hari biasa. Palingan biasanya saat hari libur, saya bisa meminta keringanan pada suami saya untuk tidak memasak. Aktivitas rumah tangga lainnya (yang sejibun) ya tetap saja harus saya lakukan -- tidak memandang hari libur atau bukan. Saking terbiasanya dengan segala aktivitas rumah tangga tersebut, saya hampir tidak pernah terpikirkan lagi soal tanggal hitam dan tanggal merah. Untuk ibu-ibu rumah tangga purnawaktu di luar sana, adakah yang senasib-sepenanggungan dengan saya? ✋ Catatan: Postingan ini saya tul

2 Akun Instagram Resep Makanan Gluten Free

Sumber foto:  Humphrey Muleba via Unsplash TREN makanan gluten-free alias makanan tanpa gluten , khususnya tanpa tepung terigu, semakin meningkat, ya. Bahkan menurut data yang pernah dikemukakan oleh perencana keuangan, Yuszak M. Yahya , alasan terbesar kenapa orang mengonsumsi makanan gluten free adalah tanpa alasan atau no reason at all. Hal tersebut bisa menunjukkan dua hal, menurut saya: entah orang-orang merasakan FOMO atau fear of missing out , atau karena mengonsumsi makanan tanpa gluten memang 'semata' mulai menjadi kebiasaan. Tak heran kalau produk berbasis gluten free semakin banyak dibuat dan sekaligus dicari. Plus, resep-resep makanan gluten free pun banyak dicari dan diminati juga, mulai dari makanan ringan alias camilan, makanan penutup atau dessert , sampai makanan berat. Website, blog, channel YouTube, juga akun Instagram resep makanan, walau tidak mengkhususkan diri di resep gluten free , sesekali mulai menyisipkan resep makanan tanpa gluten . Nah, a

Pengalaman Bertahun-tahun Tanpa Hobi Baru

Sumber foto:  Margarida Afonso via Unsplash TEMANYA tentang hobi terbaru , tapi sayangnya, lebih dari tiga puluh lima tahun hidup di dunia, hobi saya tetap sama dari masa ke masa alias dari masih kecil, yaitu membaca dan menulis . Garing dan agak geeky , cuma ya mau bagaimana lagi, perkembangan dan perubahan zaman nyatanya tidak juga membuat saya setidaknya menambah satu hobi baru. Bahkan masa pandemi Covid-19 yang konon membuat banyak orang di seluruh dunia menemukan hobi dan minat baru, ternyata tidak berlaku pada diri saya. Orang-orang beramai-ramai bercocok tanam tanaman hias, tidak menggugah diri saya. Membedakan tanaman satu dengan yang lain pun saya tidak paham. Banyak orang berbondong-bondong bersepeda, selain karena tidak memiliki sepeda, pengalaman lampau juga membuat saya tidak terdorong untuk menyukai sepedaan. Yang jelas, membaca dan menulis tidak pernah membuat saya merasa ingin berhenti. Bahkan membaca juga sudah menjadi kebiasaan saya hampir setiap saya makan. M

Belajar Bahasa Jepang Gara-gara Idol Group Jepang, Arashi

Sumber foto:  Manuel Cosentino via Unsplash SEJAK memasuki usia 'matang', saya sempat memiliki keyakinan terhadap diri sendiri bahwa saya tidak akan mungkin 'mampir' lagi ke fase menyukai pop culture dan sejenisnya seperti yang pernah terjadi pada saya di usia muda. Cukup jauh sebelum menjejak di usia matang tersebut, sebenarnya selesai sudah kesukaan saya pada film dan serial Hollywood, serta pada lagu-lagu Barat, juga sejumlah budaya pop lainnya. Just like that ; pokoknya selesai. Bahkan 'demam Korea' sejak beberapa tahun terakhir ini pun tidak berhasil menyentuh hati saya. Makanya, bisa dibilang saya terkaget-kaget ketika tahu-tahu, di akhir 2019, saya jadi menyukai idol group asal Jepang yang kini tengah hiatus, Arashi . Awalnya karena ketidaksengajaan (dan rasa penasaran) menonton variety show mereka, VS Arashi . Saat itu saya sama sekali tidak tahu bahwa kata Arashi di judul acara itu mengacu pada idol group bersangkutan. Karena menganggap ora

Membuat Rencana 5 Tahun ke Depan untuk Usaha Mikro

Sumber foto:  Duane Mendes via Unsplash ENTAH kenapa, semakin bertambah usia, semakin saya tidak terpikir untuk membuat rencana yang bagaimana-bagaimana untuk jangka panjang. Makanya bahkan target saya di tahun 2021 ini saja adalah no target . Jadi, begitu dapat tema menulis postingan soal rencana 5 tahun ke depan , saya langsung bingung. 😅 Setelah melakukan brainstorming , saya putuskan untuk menuliskan rencana 5 tahun ke depan untuk usaha mikro saya saja, Sepiring Kue  (yang, tentu saja, baru terpikirkan sambil saya menulis ini): 1. Memiliki sejumlah pelanggan tetap yang setia dengan produk-produk Sepiring Kue. 2. Memiliki pelanggan baru yang perlahan namun pasti terus bertambah dan menyukai produk-produk Sepiring Kue. 3. Sudah menerima dan memiliki, serta melengkapi berbagai legalitas yang diperlukan, salah satunya izin edar pangan industri rumah tangga (P-IRT). 4. Memiliki perlengkapan dan peralatan baking yang lebih mumpuni, meski tetap untuk skala rumah tangga.

7 Hal yang Paling Membuat Seorang Introvert Bahagia

Sumber foto:  Elena Koycheva via Unsplash SEBAGAI seorang introvert yang sekaligus seorang pendiam dan pemalu, kadang saya merasa bahwa dunia ini sengaja di-setting untuk kenyamanan para ekstrovert. Atau saya saja yang terlalu baperan? Apa ada yang merasa demikian juga? Supaya tetap dengan vibrasi positif, yuk, kita daftarkan 7 hal yang paling membuat seorang introvert bahagia , meski -- mengutip kata-kata Susan Cain, penulis buku tentang introvert yang berjudul "Quiet" -- hidup di dunia yang tak pernah berhenti bicara: 1. Tidak harus berbasa-basi melulu (atau setidaknya, kalau memang perlu banget, basa-basinya sebentar saja, deh). 2. Tidak dipaksa untuk harus berbicara di tengah pertemuan atau acara suatu kelompok, kalau memang konteksnya tidak ada yang harus diutarakan. 3. Tidak dinyinyiri kalau tidak atau sedikit berbicara di tengah suatu pertemuan atau acara. 4. Tidak dinyinyiri apalagi ditertawakan kalau 'tiba-tiba' mau berbicara di tengah suatu

Meningkatkan Mood Tanpa Lagu

Sumber foto:  Joshua Woroniecki via Unsplash SUDAH lama saya tidak lagi 'menggantungkan diri' pada musik dan lagu untuk meningkatkan mood atau untuk sekadar 'memanjakan' mood yang sedang terasa di hati . Walau harus diakui, saya masih menyimpan beberapa lagu milik idol group Jepang, Arashi . Palingan yang agak sulit itu ketika sedang melakukan perjalanan darat yang cukup panjang. Kalau sudah mati gaya karena ngemil sudah merasa cukup, melihat-lihat pemandangan juga sudah membuat jenuh, akhirnya menyerah dan menyalakan radio atau memutar lagu (lagu Arashi). Namun secara umum di keseharian saya tidak lagi merasa membutuhkan musik dan lagu, apalagi untuk meningkatkan mood. Sepertinya mood saya lebih bisa meningkat bila ada asupan makanan, khususnya makanan manis. Jadi postingan dengan tema kali ini (harusnya ini tema kemarin, tapi baru saya tulis hari ini) tidak bisa saya jabarkan lebih panjang, ya. Sudah mentok, soalnya 😅 Apakah ada yang samaan -- bisa menin

Sumber Inspirasi Saat Jenuh

Sumber foto:  Andreas Kretschmer via Unsplash ADA yang bilang, kalau lagi jenuh dalam hal apa pun dan inspirasi tidak kunjung datang, rehat saja dulu, nanti juga inspirasi akan tiba. Tapi ada juga yang bilang, yang namanya inspirasi itu tidak bisa ujug-ujug datang sendiri, melainkan kita yang harus mengusahakannya. Bagi saya fifty-fifty sih, rasanya. Kadang rasa-rasanya seperti menghampiri sendiri dan kadang terasa seperti baru muncul begitu saya bergerak berikhtiar terlebih dahulu. Bagi saya pribadi, apa sih, yang sering atau biasanya menjadi sumber inspirasi saat sedang jenuh ? Hmm, apa, ya? Rasanya rambang ya, bisa dari apa saja atau bahkan dari siapa saja. Seperti misalnya ketika terasa mentok, tidak tahu mau menulis tema apa lagi untuk blog. Pernah saya sengaja berseluncur di internet hanya untuk mencari ide-ide tulisan yang bisa saya gali atau pernah juga dengan melakukan brainstorming sendiri. Tapi baru-baru ini inspirasi tentang mau menulis apa lagi di blog muncul beg

5 Buku Fiksi dan Non-Fiksi Favorit Versi Pribadi

Sumber foto:  Olena Sergienko via Unsplash SETELAH membaca banyak sekali buku sejak usia dini hingga usia dewasa sekarang, tetap selalu sulit untuk memilih mana buku favorit saya. Bahkan saat sudah dikategorikan menjadi buku fiksi dan buku non-fiksi, masih saja susah memilih satu buku yang menjadi favorit. Jadi, dengan segala kesulitan yang muncul dalam memilih, berikut 5 buku fiksi dan non-fiksi favorit versi saya pribadi: 1. Buku Fiksi (anak): Coraline (Neil Gaiman) Walaupun ada bagian yang lumayan menyeramkan (atau mungkin lebih tepatnya menegangkan?), saya merasa setiap anak yang sudah mau dan mampu membaca buku cerita panjang harus membaca buku yang sudah difilmkan versi animasi ini. Saya yang orang dewasa saja menyukai buku ini. Membacanya membuat pembaca berpikir ulang tentang yang namanya keinginan, serta belajar mensyukuri apa yang sudah dimiliki.  2. Buku Fiksi (remaja perempuan -- tentang mengenal diri sendiri): Looking for Alibrandi / Mencari Jati Diri (Melina

Bepergian Praktis Hanya dengan Membawa Dompet

TEMA kali ini barang wajib di tas saat bepergian, tapi berhubung sudah lama saya tidak pernah membawa-bawa tas lagi kalau bepergian jarak dekat (kecuali tas kain belanja yang dilipat kecil untuk dikantongi), saya akan menulis tentang dompet saja deh, ya. Mungkin karena sudah tidak perlu bawa 'bekal' berupa keperluan anak-anak lagi yang mengharuskan membawa tas bila bepergian sebentar, saya merasa dengan membawa dompet saja (plus ponsel dan tas belanja, kalau pas mau belanja) sudah cukup. Yang penting pakaian yang dikenakan ada kantong(-kantong)nya. Dompet yang selalu saya bawa-bawa ini sebenarnya bukan dompet betulan, melainkan tempat pensil kain yang sudah tidak digunakan lagi oleh anak saya. Kebetulan dompet saya sebelumnya sudah rusak dan saya lihat tempat pensil ini bisa dilipat dua tanpa merusak kartu-kartu penting yang dimasukkan ke dalamnya, ya sudah, saya pakai ulang saja sebagai dompet. Isi di dalam dompetnya ya standar lah, yang terpenting segala macam KTP

5 Tempat Wisata Laut Penuh Kesan yang Tidak Jauh dari Pontianak

[Foto-foto menyusul, ya] Sumber foto:  Samuel Chan via Unsplash WALAU tidak bisa dibilang sering mengunjungi tempat wisata untuk berlibur (apalagi tahu dan kenal dengan tempat-tempat wisata apa saja yang ada di sekitar saya), setidaknya ada tempat-tempat wisata yang meninggalkan kesan tersendiri di hati saya. Dalam hal ini adalah tempat wisata laut yang tidak jauh dari Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat . Sebagai 'anak gunung' (maksudnya dulu lahir di area dekat gunung yang cenderung dingin), ternyata saya selalu lebih menyukai wisata laut yang cenderung panas, sejak kecil hingga sekarang di usia dewasa. 1. Pantai Pasir Panjang, Singkawang Berlokasi sekitar 3-4 jam dari Pontianak, pantai ini merupakan wisata pantai pertama yang saya kunjungi semenjak pindah ke Pontianak dari Bekasi, Jawa Barat, di usia 10 tahun. Dan pantai ini pula yang paling sering saya kunjungi semenjak itu, hingga kini saya sendiri sudah punya anak sulung yang usianya hampir 10 tahu

Saat Target di Tahun 2021 Adalah No Target

Sumber foto:  Aaron Staes via Unsplash SUDAH sekian tahun lamanya saya tidak pernah lagi membuat resolusi atau goals atau target atau word of the year atau apa pun lah namanya untuk setiap satu tahun baru berjalan. Bisa dibilang my target is no target , termasuk untuk tahun 2021 ini. As lame as it sounds , saya hanya berharap bisa survive another day, another week, another month, and another year. As simple as that. Apakah itu termasuk target hidup? Kesannya hidup saya ini menyedihkan sekali, ya? *baru nyadar* Tapi ya memang demikianlah adanya. Saya ingin menjalani hidup ini sambil terus bertumbuh dan berkembang sebagai seorang individu. Apakah itu juga termasuk target? Kalaupun ditanya, apa keinginan yang pengin banget bisa diraih? Hmm, mungkin to be financially independent ? Tapi saya rasa itu tidak akan terjadi di tahun 2021. Bukannya pesimis, cuma menganalisis. Jadi, postingan ini tidak akan bisa panjang karena mau dipaksa dipanjang-panjangin pun, kesimpulannya teta

5 Serial TV Favorit Tahun '90-an Sampai 2000-an

Sumber foto:  Ajeet Mestry via Unsplash IYA, dari judulnya saja sudah bisa ditebak saya anak zaman kapan, kan? Sampai dengan masa sekolah menengah atas (SMA), televisi masih menjadi 'makanan' sehari-hari saya. Mulai dari menonton sinetron (ini zaman SD, nih), serial dan film Hollywood, film India (yang ini bisa dihitung pakai jari), sampai pertandingan sepak bola. Apalagi saat itu, stasiun-stasiun televisi swasta masih banyak menayangkan serial dan film Barat yang beragam; beda dengan masa sekarang. Berikut 5 serial TV favorit tahun '90-an sampai 2000-an yang merupakan pilihan pribadi saya sendiri: 1. Friends Ini sih, the best of the best bagi saya. Dari masih rutin ditayangkan di televisi sampai akhirnya tamat di season 10, cerita-cerita dari hampir semua episodenya masih bisa dikategorikan relatable hingga zaman sekarang. Dan yang jelas, mau ditonton sampai berapa kali pun, unsur komedinya masih tetap bisa membuat tertawa lepas. Sangat menyegarkan. 2. Ally M

7 Fakta Tentang Diri Sendiri: Seberapa Kenal dengan Diri Sendiri?

INI sebenarnya penting-tidak penting untuk diketahui, tapi ternyata untuk mendaftarkan tujuh fakta tentang diri sendiri lumayan susah, ya. Hampir berusia 40 tahun, mendapatkan tema menulis seperti ini kok, jadi merasa sulit sendiri. Apa saya tidak betul-betul mengenal diri saya sendirikah? Tapi berhubung waktu ketika saya sedang menulis ini sudah hampir tengah malam, yang berarti hari baru berikutnya sudah ada 'tugas' menulis dengan tema yang baru lagi, mari kita coba kupas 7 fakta tentang diri saya sendiri: 1. Saya tidak suka dan tidak pandai mengobrol, termasuk mengobrol basa-basi. Yah, basa-basi sedikit sih, bisa lah (untuk dipaksakan). Tapi sekiranya bisa dihindari, akan saya pilih untuk hindari. Begitu pun dalam hal mengobrol biasa, terutama di tengah beberapa apalagi banyak orang, kalau memang tidak ada yang ingin atau perlu saya katakan, saya akan memilih diam saja. Atau kalau ada, saya akan membuat 'skenario' kata-kata yang MUNGKIN saja ingin saya u