Skip to main content

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020

Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini, ini, dan ini), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo. Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya.

Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu*

Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah.

Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru (cerita singkatnya bisa dibaca di sini).

Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berupa menonton dua episode terbaru dari serial dokumenter Netflix tentang lima pria Jepang favorit saya yang bergabung dalam Arashi (yang sebenarnya kedua episode tersebut diputar tepat di akhir Oktober, tapi saat itu saya sedang konsentrasi menyiapkan outline final cerita saya untuk NaNoWriMo).

Saya sudah merencanakan untuk membeli sesuatu yang manis (secara harfiah) sebagai hadiah untuk pencapaian 10.000 ketiga (30.000 kata), eh, tapi berhubung lagi short of money, lalu dibelokkan jadi istirahat sebentar saja dari menulis untuk NaNoWriMo dan memposting ulang tulisan tentang menghadiri seminar menulis artikel jurnal yang kebetulan waktu itu di bulan November juga di tahun 2017 lalu. Hitung-hitung untuk memompa semangat, soalnya sudah setengah jalan begini lumayan terasa jenuh juga, yang membuat target menulis 50.000 kata terlihat tidak berarti lagi. *kembali mengumpulkan semangat yang berserakan*

Tentang Belajar Menulis (Lagi)

Awal mengetahui info seminar menulis tersebut di atas, saya sempat maju-mundur untuk mendaftar sebagai peserta, soalnya yang mengadakan adalah Magister Pendidikan Bahasa Inggris - FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Untan (Universitas Tanjungpura). Ada kekhawatiran tersendiri kalau acara ini khusus untuk pengajar atau sejenisnya. Walaupun saya lulusan (S1) program studi yang sama dari fakultas bersangkutan, tapi saya bukanlah seorang pengajar. Saya hanya murni tertarik dengan tema seminarnya, "Training on Scopus - Journal Article Writing."

Iya sih, yang dibahas adalah penulisan artikel jurnal, spesifiknya jurnal Scopus. Apalah dan siapalah saya yang bermimpi menulis untuk jurnal apa pun. Menulis satu postingan blog saja harus 'jungkir-balik.' But, the point is, ini tentang kesempatan belajar menulis dari seorang guru besar asal Malaysia yang terkemuka di bidangnya (!).

Long story short, setelah bertanya-tanya, ternyata seminar ini juga bisa untuk umum. Namun bahkan di hari H-nya pun saya masih merasakan khawatir (dan minder) demi melihat para peserta yang rata-rata adalah mahasiswa magister dan dosen. Saya curiga, jangan-jangan cuma saya peserta dari kategori umum sekaligus dari bidang non-pengajaran.

[Maafkan foto si bapak profesor yang nge-blur.]

Untunglah Profesor Jayakaran Mukundan dari Universiti Putra Malaysia tidak melulu bicara soal English language teaching (ELT), yang notabene adalah bidang yang dikuasainya. Materi menulis yang ia sampaikan masih tergolong umum dan tidak terus-menerus journal-minded.

Sang profesor menguraikan penjelasannya dengan campuran bahasa Melayu dan Inggris yang mudah dicerna, dan diselingi humor segar (yang membuat saya lupa bahwa saya -- mungkin -- peserta yang 'beda' sendiri di ruangan aula itu). Di banyak momen, saya malah merasa seakan sedang 'sekadar' belajar tentang menulis untuk media 'biasa.'

Berikut ini beberapa poin penting yang bisa saya ringkas dari "Training on Scopus - Journal Article Writing" dari presentasi Profesor Jayakaran Mukundan:

• Menulislah dengan ikhlas.

As a writer, ask yourself: What motivates you? What is your priority?

First thing first: kaji bidang yang ingin kita tulis. Dalami dulu banyak referensi/literatur, bahkan jauh hingga terbitan tahun-tahun ke belakang.

To be a good writer, be a good reader first. Be interested in reading A LOT.

When you want to write one writing, read at least ten times more.

Be consistent to spend (for example, one hour) every day to write.

Sometimes, a more concentrated writing activity is needed (for instance, lock yourself up in a hotel room for 1-2 days to focus on your writing).

Find other (similar) articles (with your planned one) for your 'model' in writing.

Don't send everything at the same time. Identifikasi dulu jurnal/media (lokal/nasional/internasional) mana yang sekiranya fit-in dengan tulisan kita.

Know your capabilities. Send to small journals/publications first. From there, you can get your confidence. And then you can take the risks to be rejected from bigger journals/publications. So be realistic.

If you wish to copy-paste other writing, do paraphrase with your own words. Remember that plagiarism is a serious disease. If you're aware of plagiarism, you'll be more disciplined in writing (alias tidak semata bermodal copy-paste).

A good writing in Bahasa Indonesia is better than a bad writing in English. Kalau tidak bisa, jangan memaksakan diri harus menulis dalam bahasa Inggris. That's why English translators exist, by the way.

Title and not-more-than-150-word abstracts are important first impressions of your journal article.

Remember that sometimes a journal article is so simple, it gets published. So you don't always have to have a massive research.

Your journal articles are reviewed using the "blind review" method. The editors know nothing about who you are, your academic background, your degree, etc.

Planning to write for Journal X? The secret strategy is to cite more from the journal mentioned.

Writing for publication? Be prepared for rejection (letters).

After one rejection after one another, don't give up. If you give up, it means you have a weak heart.

Writer's block is NORMAL.

Important guidelines:

- What was done?

- Why was it done?

- How was it done?

- What was found?

- What is the significance of the findings?

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para aspiring blogger/writer seperti saya. Ayo sama-sama semangat menulis!

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

[ Chocolate chip cookie cake , salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari  Sally's Baking Addiction ] Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit  pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an ; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu. Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang  up to date  mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori  foodie  yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi. 2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010 , masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak sert