Pontianak, 26 Tahun di Hati

Pontianak Car Free Day
Pontianak Car Free Day, 2017

26 tahun lalu, sehari setelah hari ulang tahun kota ini, saya menjadi warga Pontianak. Kota yang dulu saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Kota yang pernah membuat saya agak frustrasi saking sepinya, karena sebelumnya saya tinggal di kota Bekasi yang ramai sejauh mata memandang.

Saya tetap bangga dengan darah Sunda saya, tentunya (walaupun, ehem, tidak bisa berbahasa Sunda). Dan meskipun saya tinggal di Pontianak hanya sekitar tiga tahunan dan selanjutnya menjadi warga kabupaten di pinggiran Pontianak, Pontianak masihlah menjadi kota kesayangan. Bagaimana tidak, bila sebagian besar aktivitas saya dan keluarga berpusat di kota tersebut.

Kapuas Waterfront
Kapuas Waterfront, 2019

26 tahun menetap di (pinggiran) Pontianak, lidah saya masih belum fasih aksen Melayu. 26 tahun, masih banyak istilah Melayu yang asing bagi saya. 26 tahun, masih belum hapal dengan sebagian besar jalan dan gang yang ada di sini. 26 tahun, masih belum terbiasa makan sayur keladi (dulu tahunya makan talas goreng dicocol gula pasir doang). 26 tahun, masih suka merasa 'culture shock' kalau berkomunikasi dengan orang yang Melayunya 'medok' banget.

Jembatan Kapuas Pontianak
Jembatan Kapuas, 2017

Kadang masih takjub, bagaimana sepinya dulu Pontianak, tahu-tahu sekarang kepadatan terjadi di berbagai ruas jalan, pagi hingga malam (sebelum pandemi tiba).

Dahulu, keluarga saya tinggal di sebuah rumah model lama yang sekaligus juga difungsikan sebagai sebuah rukan (rumah-kantor) tepat di seberang gedung Jasa Raharja di Jalan Sultan Abdurrachman (kalau tidak salah ingat, sekarang sudah menjadi bangunan ruko BRI atau toko kue Brownies Amanda?). Mau menyeberang jalan masih terbilang sangat mudah (saking sepinya jalanan).

Tugu Khatulistiwa Pontianak
Replika Tugu Khatulistiwa, 2020

Masih takjub juga, bagaimana dulu tidak ada satu pun makanan khas Pontianak (dan sekitarnya) yang saya suka. Pacri nanas? Aneh, kok buah dijadikan lauk. Lempok durian? Hmm... dodol? Pakai durian? Serius? (sambil makannya diemut-emut sedikit demi sedikit karena kepala jadi agak puyeng). Bubur paddas? Aduh, ini kenapa campur-aduk begini rasanya? Bingke? Ih, eneg, ah. Rasa telur.

Itu dulu. Sekarang saya sudah bisa menikmati semua makanan tersebut, yah, walaupun sebagian baru berhasil saat usia beranjak dewasa. Tentunya masih banyak makanan khas kota ini yang saya tidak pernah atau tidak bisa atau tidak mau memakannya, tapi setidaknya hanya beberapa saja sudah 'prestasi' yang lumayan, kan.

Pelabuhan Pontianak
Pelabuhan Peti Kemas Pontianak, 2017

Dan masih takjub, bagaimana setiap pergi ke luar kota, lalu pulangnya merasa terharu-biru ketika tiba di Pontianak lagi. Pulang dari pantai di Singkawang, rasanya mau menangis campur tertawa saking senangnya memasuki hiruk-pikuk pasar Siantan. Pulang dari Jakarta, rasanya jadi orang paling bahagia sejagat raya sewaktu pesawat mulai terbang di atas jalanan kota Pontianak.

Soal makanan, soal jalanan, soal bahasa, bukan lagi masalah. Karena rumah tetaplah rumah.

Comments

  1. Replies
    1. Saya yang tinggal di area tetangga alias Kabupaten Kubu Raya pun kadang suka rindu dengan Pontianak 😁

      Delete

Post a Comment

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: