Skip to main content

Mesin Waktu Bernama Roti Gendom

roti gendom atau roti jadul

'Mesin waktu' terhebat di dunia ini, bagi saya, adalah makanan. Sungguh hebat bagaimana rupa, aroma, tekstur, rasa, hingga -- bahkan -- suara suatu makanan bisa membuat kita melakukan 'teleportasi' ke suatu masa, entah yang masih dekat atau yang sudah jauh. Entah ke masa yang gambarannya masih jelas atau sudah kabur.

Seperti roti jadul atau roti gendom buatan Ummu Uzair ini, yang di suatu sore berhasil membawa saya kembali ke masa pertengahan-akhir SMP. Masa yang, kalau mengingatnya kembali, membuat mata hampir berkaca-kaca.

Roti Gendom si Roti Cepek

Roti ini mengantarkan saya ke masa-masa pulang sekolah dahulu menggunakan oplet bersama abang saya yang waktu itu sudah SMA. Dia sering menraktir saya roti berukuran mini yang dijual di bawah sebuah pohon besar di tepi pertigaan Jl. A. Yani - Jl. Paris 1 (Parit Haji Husin 1), Pontianak. Kami menyebutnya 'roti cepek', karena harganya yang seratus rupiah sebuahnya. Setelah dewasa dan menjadi pencinta rerotian, saya baru tahu kalau orang Pontianak menyebutnya sebagai roti gendom.

Sekilas tidak ada yang istimewa dari sebuah roti gendom. Saat keluar dari oven, dia masih 'bersatu' dengan kawan-kawannya, seperti roti sobek. Tapi jangan dibandingkan dengan roti sobek ala Jepang, ya. Segmen pasarnya sudah pasti berbeda. Dari rupanya pun roti gendom terlihat biasa dan 'hambar', tidak bisa dibilang cantik. Setelah dicicipi, akan terasa manis yang sangat tipis. Biasa saja. Namun ajaibnya, semua yang biasa saja dan 'apa adanya' dari roti gendom terasa lebih dari cukup bagi penikmatnya.

roti gendom atau roti jadul

Kalau dulu, roti yang biasa kami beli, biarpun seringnya dalam keadaan masih hangat, tapi suka terasa seret di mulut dan tenggorokan. Meskipun demikian, mungkin karena kami termasuk jarang ngemil, si Roti Cepek ini terasa nikmat-nikmat saja buat kami. Bahkan bisa hampir setiap hari kami beli sepulang sekolah.

Saya tidak ingat bagaimana awalnya bisa tahu dan kenal dengan roti tersebut, karena kalau dipikir lagi lokasi penjual rotinya 'tidak strategis' untuk perjalanan pulang kami dari rute Terminal Kemuning di Kota Baru ke Terminal Soedarso di Sungai Raya Dalam. Kenapa kami jadi bisa membeli roti yang titik lokasinya ada di lebih dari pertengahan rute pulang sekolah kami?

Yang saya ingat, kadang ada saat di mana saya merasa terharu sekaligus senang kalau di tengah perjalanan pulang abang saya mengajak turun dan singgah dulu di simpang Paris 1 itu untuk membeli roti untuk kami berdua, walaupun setelahnya harus menunggu lama lagi (dan mengeluarkan uang ekstra) untuk oplet berikutnya.

Saya jadi berpikir, sebenarnya roti seratusan tersebut tidak dapat 'berdiri sendiri' sebagai faktor utama pemberi efek nostalgia saya kali ini. Karena nyatanya, di saat yang bersamaan dengan melihat dan mencicipi roti sejenis (kembali, setelah lebih dari sepuluh tahun) saya jadi mengingat jelas momen-momen 'pengiringnya'. Mungkin yang membuat si Roti Cepek itu dulu istimewa bukan karena rotinya sendiri, melainkan karena kebersamaan saya dengan abang saya saat membelinya sepulang sekolah?

Roti Gendom si Roti Jadul

Meski penampilan roti buatan Ummu Uzair ini 'sejadul' namanya, tapi ukuran rotinya jauh lebih besar dari si Roti Cepek zaman saya SMP, teksturnya lebih lembut, dan rasa manisnya sangat menyenangkan (dan 'menyenangkan' adalah istilah yang sangat tepat bagi saya yang pencinta roti manis tapi tidak menyukai rasa manis berlebih). Ini enak dan sungguh menghasilkan nostalgic aftertaste.

Tidak terlalu sulit menemukan roti gendom di Pontianak. Biasanya di toko kue kecil di pinggir jalan ada saja yang memajang roti jenis tersebut di rak kaca etalasenya. Dan setiap melihatnya, saya teringat roti cepek di bawah pohon besar simpang Paris 1 yang sudah lama tidak ada lagi. Saya bahkan tidak ingat lagi seperti apa rupa penjualnya. Tapi perasaan ketika membeli dan menikmatinya akan selalu menghangatkan hati.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Blog Sepiring Kue, Sepiring Narasi Rasa

Sumber foto: Instagram @sepiringkue SEMENJAK pertama kali ngeblog di sekitar 2006-an, dan hingga kini sudah beberapa kali mengganti nama dan konsep blog (sudah berkali-kali saya mencoba berhenti saja menulis blog karena merasa tidak bisa konsisten menulis secara rutin, tapi ternyata pada akhirnya saya selalu kembali lagi ke media menulis ini), sebagian besar nama blog saya selalu terdiri dari dua kata dan dalam bahasa Inggris. Hampir semuanya, kecuali satu blog soal gaya hidup 'hijau', satu blog tentang persiapan pernikahan saya (yang ini lebih dari dua kata), dan blog ini sekarang, yang berbahasa Indonesia, termasuk isi postingannya. Masing-masing memiliki sejarah, filosofi, serta arti nama blog tersendiri. Ada yang penjabarannya bisa panjang-lebar, ada juga yang bisa dijelaskan secara singkat saking simpelnya. Kenapa blog ini namanya Sepiring Kue? Apa arti nama blog Sepiring Kue? Dan kenapa tidak semua postingannya bercerita tentang kue? Awalnya, sepe