Skip to main content

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?
Sumber foto: Brigitte Tohm via Unsplash

Di satu sisi, dia memanjakan indera penglihatan dan pengecap saya. Di sisi lain, dia membahagiakan perut dan perasaan saya. Itulah 'keajaiban' makanan (selama dikonsumsi secukupnya). Bagaimana ya, kita bisa menggemari makanan tertentu?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Physiology & Behavior (BrockenBrough dalam situs Women's Health Magazine, 2011) menyebutkan bahwa sekitar 45% kecenderungan kita akan makanan tertentu dipengaruhi secara genetis. Ini dikarenakan kecenderungan terhadap rasa-rasa tertentu (misalnya rasa manis) sudah terbentuk dalam kode-kode DNA kita.

Menurut penelitian yang sama, sisa 55%-nya dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan pelajari dari orang tua kita. Tapi penulis yang juga guru besar Gizi dan Makanan dari California State University at LA, Margaret McWilliams, menyatakan kalau setiap orang pada dasarnya mengembangkan sendiri kecenderungan, pilihan, dan penilaiannya masing-masing terhadap makanan.

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?
Sumber foto: Devon Divine via Unsplash

Saat kita merasa sangat menyukai sesuatu (termasuk makanan), sistem dopamin di dalam otak secara otomatis mengirimkan perasaan nyaman, perasaan bahagia. Hal ini kemudian disimpan dalam sebuah memori di dalam otak.

Makanan yang membuat kita merasa nyaman ini adalah makanan yang kita hubungkan dengan emosi-emosi positif. Kata Brian Wansink -- penulis Mindless Eating, meskipun memori tentang makanan tersebut samar-samar, perasaan menggugah yang muncul bisa mendorong kita kepada makanan bersangkutan untuk meningkatkan mood atau menjaga perasaan bahagia.

Sama seperti seorang pendukung klub sepak bola yang akan mengenakan berbagai macam atribut untuk menunjukkan loyalitasnya terhadap klub tersebut, kita juga biasanya akan mempertahankan kegemaran kita akan makanan tertentu yang menghubungkan kita dengan agama dan latar belakang etnis kita. Atau bisa pula yang berkaitan dengan simbol-simbol, memori, asosiasi, dan rasa tertentu. Bahkan kondisi budaya dan sosial di sekitar kita juga mampu mempengaruhi cara pandang kita akan makanan.

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?
Sumber foto: Andrew Wong via Unsplash

Setelah kita memahami faktor-faktor yang mempengaruhi makanan yang kita suka, yang kita makan, dan cara kita memakannya, Elizabeth R. Lombardo -- penulis A Happy You -- mengatakan bahwa kita dapat mengusahakan bagaimana agar setiap pengalaman baru dengan makanan menjadi menyenangkan. Menurut Lombardo, yang terpenting adalah mengizinkan diri kita sendiri untuk menikmati apa yang ada di piring kita.

Toh, sebagai orang dewasa, kita sudah mengerti perlunya proporsi makan yang seimbang. Jadi, sebesar apa pun kegemaran kita akan makanan tertentu, kita sudah bisa mengira-ngira batasannya.

---

Referensi:

John Hamilton, "How Did Our Brains Evolve to Equate Food with Love?" dalam rubrik The Salt, situs NPR (1 Maret 2013)

Margaret McWilliams, "Food" dalam The World Book Encyclopedia Vol. 7 (1988, World Book, Inc.: USA)

Martha BrockenBrough, "Why We Love Food" dalam situs Women's Health Magazine (2 Februari 2011)

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat, hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja.Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend). Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan, seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan tempayan.Dilihat dari beberapa keterangan yang tertera…

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan.

Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh dan karenanya tidak setahan lama roti biasa.
Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam.
Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk slow cooking. Untuk mendapatkan tekstur kering dan crusty di permukaannya, ro…

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata.

Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pembers…