Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat, hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja.

Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend).

Melihat Koleksi Peranti Keramik Museum Kalimantan Barat
Sumber foto: Canva

Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan, seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan tempayan.

Dilihat dari beberapa keterangan yang tertera di dinding area ekshibisi, barang-barang yang disebutkan di atas -- terhitung sejak zaman prasejarah -- digunakan tak semata sebagai peranti makan-minum maupun wadah penyimpanan. Peranti keramik juga digunakan sebagai kelengkapan upacara religi dan/atau adat.

Dan tidak hanya keramik atau gerabah tanah liat lokal, keramik asing pun dipakai oleh masyarakat Indonesia -- termasuk Kalimantan Barat. Mulai dari keramik Cina, Jepang, Thailand, hingga Eropa, semua tersebar di negara kita.

Menurut keterangan di Museum, penyebaran keramik asing di Kalimantan Barat sendiri sudah dimulai sejak abad X (sepuluh). Hal itu dilakukan melalui hubungan dagang maritim dengan Tiongkok, yang sebelumnya telah dirintis oleh beberapa kerajaan di Indonesia. Selepas itu, keramik dari negara-negara lain turut berdatangan.

Selain dari perdagangan dan peninggalan pihak asing, diketemukan juga peranti keramik dari bawah laut akibat musibah tenggelamnya sejumlah kapal dagang asing yang memuat peranti tersebut. Koleksi keramik di Museum Kalimantan Barat sendiri yang didapat sebagai temuan bawah air berasal dari Selat Galasa (Bangka-Belitung), Pulau Maya (Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat), Desa Parit Serong (Sungai Mati, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat), dan Laut Natuna (Kepulauan Riau).

Berdasarkan keterangan sejarah yang terdapat di Museum, Kalimantan Barat pertama kali memiliki keramik lokal pada sekitar tahun 1937 di Desa Saliung, Singkawang. Keramik lokal ini, hingga sekarang, terkenal dengan sebutan Keramik Singkawang.

Namanya ibu-ibu ya, melihat koleksi peranti keramik yang kebanyakan masih dalam keadaan baik dan bermotif cantik rasanya sungguh menggugah hati. Terutama saya paling naksir dengan rantang dan teko yang dipamerkan di sana. Dari dulu hingga kini, peranti dapur jadul memang bagus-bagus, ya. Coba deh, tengok peranti keramik milik nenek kita.

Bagi yang sudah pernah ke Museum Kalimantan Barat, koleksi keramik yang mana yang paling disukai?

Tambahan:

Akhir 2019 lalu saya mengajak ketiga anak saya mengisi awal masa libur sekolah dengan mengunjungi Museum Kalimantan Barat. Berikut sedikit video dokumentasi apa adanya yang kami masukkan ke YouTube (bisa klik link ini https://youtu.be/CJQy-SKdw5k atau klik kotak video di bawah). Silakan like dan subscribe juga, ya. Terima kasih :)


Comments

PALING BANYAK DIBACA PEKAN INI: