Skip to main content

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan.

Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh dan karenanya tidak setahan lama roti biasa.

Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam.

Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk slow cooking. Untuk mendapatkan tekstur kering dan crusty di permukaannya, roti ini dipanggang dengan suhu yang besar (di resep ini 246° C).

Untuk betul-betul memulai mencoba membuat roti (artisan) pertama saya, saya harus membaca ulang postingan Mbak Sally dalam kurun waktu beberapa hari. Saya ingin memastikan sekaligus memvisualisasikan langkah-langkah yang akan saya lakukan. Syukurnya tulisannya begitu jelas, runut, dan sangat mendetail, sedemikian sehingga seorang pemula seperti saya pun bisa merasa cukup percaya diri untuk mempraktikkan.

Salah satu hal yang memudahkan (selain fakta bahwa bahan yang diperlukan hanya ada empat) adalah bahwa roti yang saya buat setengah resep ini menggunakan ragi instan. Mungkin lain kali -- kalau (kalau, ya) mau repot sedikit -- boleh coba belajar bikin ragi alami dulu.

Resep Roti Artisan (dengan ragi instan)

Diadaptasi oleh: Diar Adhihafsari

Catatan:
- Adonan roti ini saya buat sehari sebelum saya panggang.
- Roti ini versi dasar dengan rasa tawar cenderung agak asin.

Bahan:
• 210 gr tepung terigu protein tinggi
• 2 sdt ragi instan
• 1 sdt garam meja (di resep asli menggunakan garam kasar dengan takaran 2x lebih banyak)
• 180 ml air putih matang (suhu sejuk setelah disimpan sebentar di dalam kulkas)

Cara membuat:

1. Menggunakan spatula, campur dan aduk rata bahan-bahan kering di dalam sebuah wadah. Tuang air, aduk lagi. Adonan akan terlihat dan terasa sangat lengket. Masih di dalam wadah yang sama, bentuk adonan menjadi bulat dengan bantuan spatula.

2. Tutup wadah berisi adonan dengan kain (di resep asli, adonan ditutup dengan rapat), biarkan di suhu ruang selama 2-3 jam. Setelah adonan terlihat mengembang, pindahkan wadah ke dalam kulkas, tetap dalam keadaan tertutup. Biarkan hingga keesokan harinya (menurut resep aslinya, adonan akan berfermentasi secara lebih perlahan dalam suhu dingin dan bisa dibiarkan hingga tiga hari di dalam kulkas).

3. Esok harinya, siapkan sebuah loyang untuk memanggang rotinya (saya menggunakan loyang datar untuk kue kering), taburi dengan sedikit tepung terigu. Sisihkan. Keluarkan adonan roti dari kulkas (mungkin karena saya tidak menutup wadah dengan rapat, bagian atas adonan terlihat dan terasa agak kering), letakkan di wadah datar yang sudah ditaburi terigu (saya memakai loyang datar tadi). Dengan tangan yang 'dibedaki' terigu, bentuk adonan sesuai selera. Dengan adonan di dalam loyang, tutupi dengan plastik atau kain, biarkan selama sekitar 45 menit.

4. Siapkan oven (saya menggunakan oven tangkring di atas kompor gas) dengan api besar dan rak besi berada di bagian tengah oven. Dengan termometer eksternal yang diletakkan di dalam oven, pastikan suhu mencapai sekitar 250° C (di resep asli 246° C). Siapkan juga panci kecil (pastikan muat di bawah rak oven) berisi air secukupnya, sisihkan.

5. Saat akan memanggang roti, panaskan air di panci kecil tadi hingga mendidih. Sementara itu beri guratan di permukaan roti dengan menggunakan pisau (guratan di roti saya tidak kelihatan karena guratannya kurang dalam). Masukkan panci berisi air mendidih ke bagian terbawah oven (bila muat, bisa dialasi loyang datar) (katanya, uap panas dari air dalam panci akan membantu proses terbentuknya permukaan roti yang lebih kering dan berkerak -- sumber lain mengatakan uap panas ini membantu meratakan panas di dalam oven), disusul dengan memasukkan loyang berisi adonan roti di rak di atasnya. Panggang roti selama sekitar 20-25 menit hingga permukaan roti terlihat kecoklatan. Periksa, apabila permukaan roti diketuk lalu terdengar seperti suara gema, maka roti bisa dikeluarkan dari oven.

Roti artisan ini lebih enak dinikmati dalam keadaan hangat. Diirisnya juga lebih mudah bila rotinya masih hangat. Tapi karena permukaannya keras dan kering, siap-siap dikomentari bahwa rotinya gagal, hehehe. Eh, kecuali kalau mau repot-repot memberikan penjelasan tentang ciri khas roti artisan yang berbeda dari roti biasa agar si komentator tidak salah paham, ya silakan juga :)

Karena ini versi paling dasar dan rasanya tawar (plus agak asin), roti ini bisa diperlakukan seperti roti tawar atau serupa roti baguette. Misalnya dengan diolesi margarin atau mentega (pastikan pilih margarin dan mentega berkualitas baik atau dengan rasa yang enak). Kemarin ini rotinya saya makan dengan dicelupkan ke kuah gulai, ternyata enak juga. Bila mau mencoba mengadaptasi gaya Barat, para pembaca juga bisa menjadikan roti ini sebagai pelengkap sup dan pasta.

Selamat mencoba, ya. Silakan bagikan juga resep ini melalui media sosial Anda dengan cara mengeklik tulisan Share di bawah. Terima kasih :)

Comments

  1. Mba mau nanya termometernya yg seperti apa ya? Kira- kira berapaan kah harganya?
    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentuknya bulat gitu, Mbak. Dan ada 'kaki' untuk bisa diberdirikan sama ada cantolan biar bisa diganyung di rak oven. Bisa di-search pakai kata kunci "termometer oven", Mbak. Beberapa tahun lalu saya beli harganya nggak sampai 100ribu pokoknya. Semoga membantu ya, Mbak :)

      Delete
    2. Bentuknya bulat gitu, Mbak. Dan ada 'kaki' untuk bisa diberdirikan sama ada cantolan biar bisa diganyung di rak oven. Bisa di-search pakai kata kunci "termometer oven", Mbak. Beberapa tahun lalu saya beli harganya nggak sampai 100ribu pokoknya. Semoga membantu ya, Mbak :)

      Delete

Post a Comment

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

[ Chocolate chip cookie cake , salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari  Sally's Baking Addiction ] Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit  pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an ; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu. Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang  up to date  mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori  foodie  yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi. 2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010 , masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak sert