Skip to main content

Pengalaman Mengikuti NaNoWriMo 2019


Saya sudah lupa kapan pertama kali mengetahui tentang NaNoWriMo. Pokoknya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi tahun 2019 menjadi pengalaman perdana saya mengikuti NaNoWriMo dengan serius mendaftarkan diri dan sebisa mungkin mengikuti panduan/aturan yang berlaku, walaupun saya tak berhasil menjadi (salah satu) pemenangnya.


Apa Itu NaNoWriMo?

Sekadar sedikit informasi, NaNoWriMo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Sejak 1999, setiap bulan November, sejumlah (besar) penulis amatir hingga penulis profesional berbondong-bondong berpartisipasi untuk berkomitmen menulis sebuah (draft pertama) novel -- tanpa perlu disunting atau diedit -- dengan genre pilihan masing-masing selama 30 hari penuh demi mencapai target menulis sebanyak 50.000 kata.

Situs NaNoWriMo menyediakan mesin perekam jumlah kata untuk mencatat sudah seberapa jauh perkembangan jumlah kata dari draft novel peserta. Tidak akan ada yang memeriksa apa yang peserta tulis atau memeriksa jumlah kata yang sudah ditulis secara real. Semuanya murni tergantung dari kejujuran peserta.

Walaupun nama event ini "national," nyatanya siapa saja dari belahan dunia mana pun boleh berpartisipasi. Dan walau nama event-nya juga dalam bahasa Inggris, peserta bebas menulis novel dalam bahasa apa saja. Saya juga baru tahu kalau ternyata sekarang peserta NaNoWriMo boleh menulis apa pun, tidak harus berupa novel.

Peserta yang sebelum atau sampai dengan 30 November (waktu setempat masing-masing) berhasil mencapai target menulis sebanyak atau lebih dari 50.000 kata otomatis resmi menjadi pemenang NaNoWriMo. Bisa dibayangkan ya, kira-kira ada berapa banyak pemenangnya bila pesertanya sedunia dan sebagiannya berhasil meraih target tersebut.

Hadiah untuk pemenang? Ada badge dan sertifikat digital yang menyatakan bahwa peserta tersebut berhasil memenangkan NaNoWriMo. ITU SAJA? Iya (tahun ini juga ada hadiah diskon-diskon untuk kelas dan/atau aplikasi menulis berbayar). Tapi saya yakin bagi yang hidupnya lekat dengan menulis pasti akan merasakan kebanggaan tersendiri dan luar biasa kalau sampai berhasil menang di event NaNoWriMo.

Setelah November berakhir, peserta masih dapat membuat proyek baru di dashboard NaNoWriMo dengan target jumlah kata sesuai keinginan masing-masing. Bagi yang berusia di bawah 18 tahun dan/atau bagi orang dewasa yang memfasilitasi anak-anak dalam menulis bisa juga mengikuti Camp NaNoWrimo di bulan April dan Juli yang lebih santai daripada NaNoWriMo versi November.

Pengalaman Saya Mengikuti NaNoWriMo 2019

Bisa dibilang bahwa keputusan saya berpartisipasi dalam NaNoWriMo November lalu itu dadakan. Ceritanya, waktu lagi hiatus dari Instagram dan Facebook selama empat bulan kemarin ini, saya sempat bingung sesaat mau ngapain (karena sebelumnya sudah telanjur kebiasaan menghabiskan membuang waktu dengan mindless scrolling). Maka saya pun beralih mencari kesempatan untuk menulis apa saja (kecuali menulis postingan blog dan/atau artikel yang bagi saya kala itu terasa terlalu serius -- plus saya sedang malas). Lagipula rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis.

Awalnya saya mencoba rutin latihan menulis menggunakan sebuah aplikasi daring (online) yang lebih seperti jurnal pribadi -- karena menulis menggunakan buku fisik terlalu berisiko dengan adanya seorang bayi yang selalu menempel dengan saya -- tapi lama-lama bosan juga melihat tulisan saya seringnya berujung menjadi curhat semata, sehingga gaya tulisan saya akhirnya begitu-begitu saja. Saya butuh tantangan *ciyeee*.

Di sekitar pertengahan Oktober, tiba-tiba saya teringat dengan event NaNoWriMo. Tanpa terlalu pikir panjang (atau tepatnya secara impulsif), saya langsung mendaftarkan diri di situsnya, padahal belum juga terpikir mau menulis tentang apa (dan padahal kalau dulu pasti langsung takut duluan).

Jadilah di sisa Oktober itu saya sibuk melakukan brainstorming untuk calon novel saya. Dan ternyata dua mingguan masih belum cukup untuk mematangkan persiapan saya. Niatnya mau menulis novel yang ada bau-bau sejarahnya, tapi kok, referensinya cuma ketemu sedikit.

Akhirnya saya memulai NaNoWriMo dengan banyak kabut di sekitar otak saya sambil tetap berusaha menyemangati diri sendiri bahwa sambil jalan pun saya akan mendapat ilham lebih lanjut untuk cerita novel saya. Kalau di NaNoWriMo, situasi saya yang gabungan antara spontan dan sedikit perencanaan ini masuk dalam kategori plantser.

Sebenarnya saya sudah sering menulis fiksi, khususnya cerita pendek atau cerpen (yang bahkan juga pernah tiga kali dimuat di The Jakarta Post *maaf bukan riya*), TAPI itu DULU. Menulis fiksi lagi, kali ini untuk NaNoWrMo, saya mendapati diri saya ibarat orang yang tidurnya 'salah bantal' alias kaku. Mulai dari alur cerita sampai pemilihan kata, hampir semuanya kaku. Masa iya karena saya lebih sering baca komik dua tahunan terakhir ini?

Selama 30 hari sepanjang November, pengalaman saya mengikuti NaNoWriMo 2019 bisa diringkas seperti berikut:

1. Saya baru bisa fokus menulis di malam hari setelah anak bayi saya tertidur.
Tapi ada pula malam-malam di mana saya lebih memilih untuk tidur daripada menulis (sungguh, rasa ngantuk di malam hari itu nikmat yang luar biasa!).

2. Kadang, di pagi, siang, dan sore hari saya mengalami dilema -- menulis atau mengerjakan urusan rumah tangga? Demi kewarasan di rumah, tentunya saya harus memilih mengutamakan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

3. Menulis menggunakan aplikasi Google Docs di ponsel dan melihat penuhnya layar yang kecil dengan tulisan sering membuat saya mengira bahwa saya sudah menulis ribuan kata, tapi setelah dicek ternyata saya baru menulis sedikit sekali. Ah.

4. Di pertengahan November, saya mendapat 'distraksi' dari memulai sebuah proyek YouTube bersama anak-anak saya, sehingga ada hari-hari di mana saya mengerjakan sesuatu yang lebih fresh dulu, yaitu proyek tersebut.

5. Sampai dengan 30 November 2019, saya 'hanya' berhasil menulis sebanyak 11.007 kata.
Kecewa, sih. Tapi saya rasa saya akan lebih kecewa lagi kalau tidak pernah mencoba memulai pengalaman pertama ini.
Lagipula, NaNoWriMo menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk belajar berkomitmen, konsisten, disiplin, kreatif, dan pastinya membuat otak terus aktif 'berolahraga.'

"... it's good to remember that no matter how much we plan and prep, sometimes it's best to just write."(Salah satu cuitan NaNoWriMo di Twitter)

Akankah saya mencoba berpartisipasi lagi di NaNoWriMo selanjutnya? Ya! *semangat amat*, walaupun belum tahu akan menulis fiksi atau non-fiksi. Juga walaupun belum tahu apakah akan bisa membuat saya lebih berkomitmen kuat daripada sebelumnya. Pokoknya niat saja dulu.

Adakah pembaca yang pernah mengikuti NaNoWriMo juga? Atau berniat untuk berpartisipasi di November 2020 mendatang? Silakan ceritakan di kolom komentar di bawah, ya. Silakan bagikan juga postingan ini di media sosial Anda dengan mengeklik tulisan "Share" di bawah postingan ini. Terima kasih.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

[ Chocolate chip cookie cake , salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari  Sally's Baking Addiction ] Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit  pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an ; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu. Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang  up to date  mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori  foodie  yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi. 2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010 , masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak sert