Melihat Kembali Tahun 2019


Melihat kembali setahun ke belakang, ingin rasanya saya merangkum tahun 2019 sebagai tahun saya yang tidak produktif dan tanpa karya berarti. Tapi bila mengingat selama satu tahun itu saya hampir tak pernah berhenti 'ditempelin' oleh bayi saya, berarti saya masih termasuk produktif dong, yaitu memproduksi ASI (air susu ibu) dan menyusui. Belum lagi melakukan segala 'remeh-temeh' tugas rumah tangga yang selalu dalam mode 'replay' alias tiada habisnya. Jadi ini masalah cara pandang saja.

Hari-hari saya selama tahun 2019 (atau pun tahun-tahun sebelumnya) memang tidak (kelihatan) sesibuk, seproduktif, atau bahkan se-cool para wanita dan/atau ibu bekerja di luar sana. Tapi pada dasarnya rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, maka saya harus belajar berdamai dengan itu semua.


Dalam setahun, hari demi hari saya lebih-kurang serupa saja, sehingga tidak banyak yang bisa saya highlight ketika melihat kembali tahun 2019, kecuali tiga hal berikut:

1. Saya belajar untuk tidak sedikit-sedikit menumpahkan perasaan saya di dunia maya.
Dulu, merasakan emosi sedikit, saya akan mudah buka-bukaan di media sosial. Beberapa tahun berikutnya, saya coba lebih mengontrol ragam perasaan saya melalui postingan yang lebih ke arah kode; itu pun kalau sudah kepepet nggak tahan. Namun lama-kelamaan akhirnya saya mulai mampu menelan sendiri berbagai macam emosi saya tanpa harus dikabarkan di dunia maya. Di usia sekarang, saya rasa sudah bukan masanya saya masih kode-kodean apalagi melampiaskan perasaan terkait persoalan pribadi lewat media sosial.

Bukan hal yang luar biasa sebenarnya, tapi bagi saya pribadi penting untuk setidaknya selama beberapa waktu tak merasa terikat apalagi tergantung dengan media sosial. Dan pada akhirnya merupakan pengalaman empat bulan yang paling liberating dibandingkan bulan-bulan lainnya sepanjang 2019.

3. Saya akhirnya menulis cukup banyak lagi di tahun ini (walau bukan jenis tulisan komersial).
Lagi-lagi bukan hal yang istimewa banget, namun mengingat kondisi saya yang memiliki seorang bayi yang masih sedikit-sedikit menempel di ibunya dan saya pun mengerjakan hampir segala urusan rumah tangga seorang diri, bisa menulis sedikit saja (dan walau hanya menulis beberapa paragraf yang 'apalah') sudah luar biasa rasanya. Belum lagi saya harus membiasakan diri menulis menggunakan aplikasi di ponsel (karena bila menggunakan laptop sudah pasti membuat ketiga anak saya -- terutama si bayi -- 'merasa harus mengganggu' ibu mereka) plus berhadapan dengan kondisi tubuh yang semakin cepat mengantuk meski malam belum larut, padahal justru di waktu malamlah sebenarnya saya bisa agak lebih bebas. Seringnya, saat harus memilih antara tidur atau menulis, saya patuh pada rasa kantuk saya.


Jadi begitulah sedikit kilas-balik satu tahun masehi yang saya jalani. Selesai sudah tahun dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Tiba saatnya tahun dengan dua digit terakhir berupa angka puluhan.

Membaca highlight di atas, setahun yang saya lewati terlihat biasa saja. Untuk menghibur hati, saya harus selalu mengingat kata-kata yang diadaptasi dari Ashley C. Ford oleh Grace Bonney:
"You are more than the best and worst thing you've ever done. ... We are all more than a single thing we do, produce, or conceive of."
Bagaimana dengan pengalaman para pembaca? Hal istimewa apa yang sudah dilakukan di tahun 2019? Silakan cerita di kolom komentar di bawah ini, ya.

Dan bila Anda menyukai postingan ini, silakan bagikan ke media sosial Anda dengan cara klik tulisan "Share" yang ada di bawah postingan ini. Terima kasih.

Comments