Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

chocolate chip cookie cake
[Chocolate chip cookie cake, salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari Sally's Baking Addiction]

Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu.

Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang up to date mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori foodie yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi.

2010

Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010, masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak serta bebikinan kue, walaupun cuma berfondasikan sebuah kompor minyak tanah, satu kuali, satu panci kecil, dan satu panci agak besar yang sekaligus berfungsi menjadi pengukus.

Dengan alat-alat seadanya itulah saya akhirnya untuk pertama kalinya belajar cara membuat berbagai masakan dan kue, yang kadang berhasil, kadang gagal. Mulai dari tahu-tempe goreng sampai tumis kangkung. Dari sayur asem sampai opor ayam. Dari pempek ikan tongkol sampai somay udang-ayam. Dari cireng sampai gemblong. Dari bubur sumsum sampai bolu kukus. Kalau diingat lagi, saya jadi malu juga; kenapa makin ke sini saya sudah tidak serajin, setelaten, juga sesemangat kala itu dalam bebikinan makanan, ya?

Dan namanya juga masih awal menikah serta masih berdua, di tahun 2010 pun saya dan suami cukup sering makan dan/atau jajan di luar. Salah satu jajanan yang paling saya ingat sering sekali kami beli di tahun 2010 (sebenarnya semenjak 2009), yang lumayan hype di Pontianak waktu itu, adalah martabak atau apam pinang mini yang dijual di Jl. Pangeran Natakusuma (ada yang pernah coba juga?). Bahkan saat menulis ini, saya kembali teringat bagaimana empuk, lembut, dan lembapnya martabak mini tersebut, terutama yang isi keju. Hmmm!

2011

Seiring dengan dinamika saya dan suami kembali ke rumah orang tua (setelah sebelumnya tinggal di rumah kontrakan), saya hamil, melahirkan anak pertama, kami pindah ke rumah sendiri, dan saya kembali mengajar dengan jadwal yang cukup padat, tahun 2011 menjadi tahun di mana saya paling jarang bebikinan di dapur dan lebih sering makan di atau takeaway dari luar (mi tiaw goreng dan bubur ketan hitam adalah makanan yang paling banyak saya makan hampir di sepanjang masa kehamilan saya).

Seingat saya, di tahun ini, saya dan suami suka sekali dengan dan paling sering membeli nasi goreng serta mi tiaw goreng Pakde Blambangan yang lokasinya tidak jauh dari jalan masuk Sungai Raya Dalam (Serdam). Hingga beberapa tahun berikutnya, saya menganggap itulah nasi goreng dan mi tiaw goreng terenak yang pernah saya nikmati dengan bumbu dasar bawang putih yang kuat dan gurih.

2012

Mulai pertengahan tahun 2012, saya sudah tidak bekerja lagi. Tapi di waktu luang di rumah, saya ternyata lebih menikmati eksperimen membuat kue daripada masak-memasak.

Di tahun itu, untuk pertama kalinya saya punya oven tangkring sendiri, sehingga bisa mencoba membuat resep kue-kue yang dipanggang, termasuk resep paling grande yang pernah saya coba, yaitu lapis Surabaya (yang hasilnya jauh dari sempurna, tapi tetap membuat saya puas karena berani menaklukkan resep tersebut).

brownie balls
[Brownie Balls, salah satu produk usaha kue saya dahulu. Foto oleh @makanape]

2013

Di awal tahun 2013, dengan campuran keinginan berpenghasilan sendiri lagi, dorongan dari seorang tetangga, dan kenekatan, saya memulai usaha kue saya sendiri. Kala itu usaha kue saya masih bernama Browniesery, karena kue yang paling sering saya buat, yang lumayan genah dari segi bentuk dan rasa, serta yang sudah mendapat testimonial positif adalah brownies kukus yang resepnya saya pelajari sejak masih jadi pengantin baru.

Di tahun itu juga saya mulai tertarik dan mencoba-coba belajar membuat kue berbahan non-terigu, diawali dengan berbekal mengadaptasi resep brownies kukus tanpa gluten dari pakar nutrisi, Wied Harry. Pada akhirnya brownies kukus berbahan dasar tepung beras pun masuk ke dalam menu jualan saya.

Setelah itu, hasil dari coba-coba memodifikasi kue pertama yang saya buat ketika masih single dulu, kue jualan saya bertambah lagi dengan Brownie Balls (brownies panggang berbahan dasar tepung beras yang dihancurkan, dicampur dengan selai cokelat, dibentuk bulat-bulat kecil, dan dilapis cokelat leleh).

Bisa dibilang bahwa tahun tersebut menjadi tahun yang penuh dengan cokelat.

2014

Anak kedua saya lahir di tahun 2014 dan menjadi tahun di mana saya vakum dulu dari berjualan kue. Namun, beberapa bulan setelah melahirkan, saya sering memiliki keinginan kuat untuk makan dan membuat kue. Maka, terkadang sambil menggendong bayi saya, saya mencoba berbagai resep kue yang sederhana saja.

Di tahun tersebut saya juga mulai mencoba-coba menggunakan tepung mocaf (modified cassava flour) untuk bebikinan kue. Seperti tepung beras, tepung mocaf juga cukup kompleks untuk diolah menjadi keik (cake) dan sejenisnya. Eksperimen-eksperimen saya banyak sekali yang gagal begitu mencoba mengadaptasi resep keik biasa untuk menjadi resep versi tanpa gluten, sehingga rasanya hampir frustrasi.

2015

Di sekitar pertengahan tahun 2015 saya kembali berjualan kue, namun memutuskan untuk rebranding dengan nama baru yang lebih Indonesia, yaitu Sepiring Kue, dan menspesialisasikan diri di keik berbahan dasar tepung mocaf.

Kurang puas dan agak galau dengan kue-kue di menu, saya masih terus eksperimen mengembangkan dan memperbaiki resep lama serta mencoba resep-resep baru non-terigu. Sungguh, keik non-terigu itu sangat 'merepotkan.'

cheesecake brownies
[Brownies Cheesecake dari Sepiring Kue, 2017]

2016

Di tahun 2016, setelah sekian kali eksperimen, saya menetapkan hati pada varian kue baru untuk usaha kue saya, yaitu Brownies Cheesecake (atau kalau dengan kaidah bahasa Inggris disebut Cheesecake Brownies) yang pada akhirnya menjadi menu tunggal saya hingga tahun selanjutnya. Tapi jujur, kebanyakan membuat kue ini rasanya bikin 'kenyang' juga, hahaha!

2017

Tahun 2017 menjadi tahun terakhir saya berjualan sebelum akhirnya melakukan hiatus yang paling lama. Manajemen usaha dari company of one ternyata tidak mudah, ya.

Namun di tahun ini saya masih sempat eksperimen kue-kue baru (ini tahun di mana saya paling banyak berurusan dengan cream cheese rasanya). Plus masih sempat juga mengikuti penyuluhan kesehatan pangan untuk industri rumah tangga yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya. Iya, saya seserius itu kok, dengan usaha kue saya.

Satu lagi memori berkesan: di bulan puasa di tahun tersebut saya mulai mengenal dan langsung jatuh cinta pada sosis Solo (selama ini saya ke mana aja?). Sayangnya kudapan gurih dengan rasa isian yang khas ini tidak selalu available.

mini lemon cheesecake
[Cheesecake yang menjadi salah satu eksperimen bebikinan di 2018]

2018

Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya paling banyak makan buah salak, hampir setiap hari selama masa kehamilan saya. Mungkin bawaan bayi. Dan di tahun ini juga anak ketiga saya lahir.

Di tahun tersebut, entah bagaimana awalnya, keluarga saya mulai memiliki kebiasaan membeli kue-kue basah untuk sarapan yang masih berlanjut di tahun selanjutnya. Kebiasaan lain yang mulai saya lakukan adalah meminum kopi instan hampir setiap pagi.
Sisa tepung mocaf yang saya miliki di tahun 2019 hanya digunakan sebatas untuk menggoreng lauk dan/atau pisang. Untuk bebikinan kue saya kembali ke tepung terigu biasa supaya lebih praktis. Kue-kue yang saya buat juga saya pilih yang mudah-mudah saja, misalnya panekuk (pancake).

Tapi begitu anak kedua juga mulai bersekolah dengan jam pulang yang masih termasuk awal, saya mulai agak kelimpungan dalam manajemen waktu untuk memasak di pagi hari, terutama bila saya kebagian giliran untuk menjemput anak saya. Waktu memasak yang singkat di pagi hari membuat saya memilih untuk memasak seadanya saja atau bahkan seringkali hanya membeli lauk jadi. Bebikinan kue juga perlahan mulai ditinggalkan jelang akhir tahun.

---

Begitulah cerita singkat era 2010-an saya yang sepertinya lebih banyak di seputar eksperimen bebikinan dan usaha kue saya, ya.

Baca juga dua artikel berikut tentang tren makanan di dekade terakhir ini:

(Lauren Masur, The Kitchn)

(Naufal Al Rahman, IDN Times)

Bagaimana cerita 2010-an para pembaca? Tuliskan di kolom komentar di bawah ya, bila ada yang berkesan. Jangan lupa juga klik tulisan "Share" di bawah untuk membagikan postingan ini via media sosial Anda. Terima kasih.

Comments