Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Mesin Waktu Bernama Roti Gendom

'Mesin waktu' terhebat di dunia ini, bagi saya, adalah makanan. Sungguh hebat bagaimana rupa, aroma, tekstur, rasa, hingga -- bahkan -- suara suatu makanan bisa membuat kita melakukan 'teleportasi' ke suatu masa, entah yang masih dekat atau yang sudah jauh. Entah ke masa yang gambarannya masih jelas atau sudah kabur.

Seperti roti jadul atau roti gendom buatan Ummu Uzair ini, yang di suatu sore berhasil membawa saya kembali ke masa pertengahan-akhir SMP. Masa yang, kalau mengingatnya kembali, membuat mata hampir berkaca-kaca.
Roti Gendom si Roti CepekRoti ini mengantarkan saya ke masa-masa pulang sekolah dahulu menggunakan oplet bersama abang saya yang waktu itu sudah SMA. Dia sering menraktir saya roti berukuran mini yang dijual di bawah sebuah pohon besar di tepi pertigaan Jl. A. Yani - Jl. Paris 1 (Parit Haji Husin 1), Pontianak. Kami menyebutnya 'roti cepek', karena harganya yang seratus rupiah sebuahnya. Setelah dewasa dan menjadi pencinta rerotian, saya baru…

Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat, hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja.Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend). Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan, seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan tempayan.Dilihat dari beberapa keterangan yang tertera…

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?

Di satu sisi, dia memanjakan indera penglihatan dan pengecap saya. Di sisi lain, dia membahagiakan perut dan perasaan saya. Itulah 'keajaiban' makanan (selama dikonsumsi secukupnya). Bagaimana ya, kita bisa menggemari makanan tertentu?Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Physiology & Behavior (BrockenBrough dalam situs Women's Health Magazine, 2011) menyebutkan bahwa sekitar 45%kecenderungan kita akan makanan tertentu dipengaruhi secara genetis. Ini dikarenakan kecenderungan terhadap rasa-rasa tertentu (misalnya rasa manis) sudah terbentuk dalam kode-kode DNA kita.Menurut penelitian yang sama, sisa 55%-nya dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan pelajari dari orang tua kita. Tapi penulis yang juga guru besar Gizi dan Makanan dari California State University at LA, Margaret McWilliams, menyatakan kalau setiap orang pada dasarnya mengembangkan sendiri kecenderungan, pilihan, dan penilaiannya masing-masing terhadap makanan. Saat kita merasa sangat menyukai sesuatu …

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan.

Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh dan karenanya tidak setahan lama roti biasa.
Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam.
Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk slow cooking. Untuk mendapatkan tekstur kering dan crusty di permukaannya, ro…

Pengalaman Mengikuti NaNoWriMo 2019

Saya sudah lupa kapan pertama kali mengetahui tentang NaNoWriMo. Pokoknya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi tahun 2019 menjadi pengalaman perdana saya mengikuti NaNoWriMo dengan serius mendaftarkan diri dan sebisa mungkin mengikuti panduan/aturan yang berlaku, walaupun saya tak berhasil menjadi (salah satu) pemenangnya.

Apa Itu NaNoWriMo? Sekadar sedikit informasi, NaNoWriMo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Sejak 1999, setiap bulan November, sejumlah (besar) penulis amatir hingga penulis profesional berbondong-bondong berpartisipasi untuk berkomitmen menulis sebuah (draft pertama) novel -- tanpa perlu disunting atau diedit -- dengan genre pilihan masing-masing selama 30 hari penuh demi mencapai target menulis sebanyak 50.000 kata.
Situs NaNoWriMo menyediakan mesin perekam jumlah kata untuk mencatat sudah seberapa jauh perkembangan jumlah kata dari draft novel peserta. Tidak akan ada yang memeriksa apa yang peserta tulis atau memeriksa jumlah kata yang sudah…

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu.
Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang up to date mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori foodie yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi.
2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010, masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak serta bebikinan kue, walaupun cuma berfondasikan sebuah kompor minyak tanah, satu kuali, satu panci kecil, dan satu panci agak besar yang sekaligus berfungsi m…

Melihat Kembali Tahun 2019

Melihat kembali setahun ke belakang, ingin rasanya saya merangkum tahun 2019 sebagai tahun saya yang tidak produktif dan tanpa karya berarti. Tapi bila mengingat selama satu tahun itu saya hampir tak pernah berhenti 'ditempelin' oleh bayi saya, berarti saya masih termasuk produktif dong, yaitu memproduksi ASI (air susu ibu) dan menyusui. Belum lagi melakukan segala 'remeh-temeh' tugas rumah tangga yang selalu dalam mode 'replay' alias tiada habisnya. Jadi ini masalah cara pandang saja.
Hari-hari saya selama tahun 2019 (atau pun tahun-tahun sebelumnya) memang tidak (kelihatan) sesibuk, seproduktif, atau bahkan se-cool para wanita dan/atau ibu bekerja di luar sana. Tapi pada dasarnya rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, maka saya harus belajar berdamai dengan itu semua.

Dalam setahun, hari demi hari saya lebih-kurang serupa saja, sehingga tidak banyak yang bisa saya highlight ketika melihat kembali tahun 2019, kecuali tiga hal berikut:
1. Saya belajar un…