Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup

Pontianak, 26 Tahun di Hati

Pontianak Car Free Day , 2017 26 tahun lalu, sehari setelah hari ulang tahun kota ini, saya menjadi warga Pontianak . Kota yang dulu saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Kota yang pernah membuat saya agak frustrasi saking sepinya, karena sebelumnya saya tinggal di kota Bekasi yang ramai sejauh mata memandang. Saya tetap bangga dengan darah Sunda saya, tentunya (walaupun, ehem, tidak bisa berbahasa Sunda). Dan meskipun saya tinggal di Pontianak hanya sekitar tiga tahunan dan selanjutnya menjadi warga kabupaten di pinggiran Pontianak, Pontianak masihlah menjadi kota kesayangan. Bagaimana tidak, bila sebagian besar aktivitas saya dan keluarga berpusat di kota tersebut. Kapuas Waterfront , 2019 26 tahun menetap di (pinggiran) Pontianak, lidah saya masih belum fasih aksen Melayu. 26 tahun, masih banyak istilah Melayu yang asing bagi saya. 26 tahun, masih belum hapal dengan sebagian besar jalan dan gang yang ada di sini. 26 tahun, masih belum terbiasa makan sayur kelad

Mesin Waktu Bernama Roti Gendom

' Mesin waktu ' terhebat di dunia ini, bagi saya, adalah makanan . Sungguh hebat bagaimana rupa, aroma, tekstur, rasa, hingga -- bahkan -- suara suatu makanan bisa membuat kita melakukan 'teleportasi' ke suatu masa, entah yang masih dekat atau yang sudah jauh. Entah ke masa yang gambarannya masih jelas atau sudah kabur. Seperti roti jadul atau roti gendom buatan Ummu Uzair  ini, yang di suatu sore berhasil membawa saya kembali ke masa pertengahan-akhir SMP. Masa yang, kalau mengingatnya kembali, membuat mata hampir berkaca-kaca. Roti Gendom si Roti Cepek Roti ini mengantarkan saya ke masa-masa pulang sekolah dahulu menggunakan oplet bersama abang saya yang waktu itu sudah SMA. Dia sering menraktir saya roti berukuran mini yang dijual di bawah sebuah pohon besar di tepi pertigaan Jl. A. Yani - Jl. Paris 1 (Parit Haji Husin 1), Pontianak. Kami menyebutnya ' roti cepek ', karena harganya yang seratus rupiah sebuahnya. Setelah dewasa dan menjadi pencin

Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat , hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja. Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend ). Sumber foto: Canva Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan , seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan temp

Menggemari Makanan: Dari Mana Asalnya?

Sumber foto: Brigitte Tohm via Unsplash Di satu sisi, dia memanjakan indera penglihatan dan pengecap saya. Di sisi lain, dia membahagiakan perut dan perasaan saya. Itulah 'keajaiban' makanan (selama dikonsumsi secukupnya). Bagaimana ya, kita bisa menggemari makanan tertentu? Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Physiology & Behavior (BrockenBrough dalam situs Women's Health Magazine, 2011) menyebutkan bahwa sekitar 45% kecenderungan kita akan makanan tertentu dipengaruhi secara genetis . Ini dikarenakan kecenderungan terhadap rasa-rasa tertentu (misalnya rasa manis) sudah terbentuk dalam kode-kode DNA kita. Menurut penelitian yang sama, sisa 55%-nya dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan pelajari dari orang tua kita. Tapi penulis yang juga guru besar Gizi dan Makanan dari California State University at LA, Margaret McWilliams, menyatakan kalau setiap orang pada dasarnya mengembangkan sendiri kecenderungan, pilihan, dan penilaiannya masing-masing

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering

Pengalaman Mengikuti NaNoWriMo 2019

Saya sudah lupa kapan pertama kali mengetahui tentang NaNoWriMo . Pokoknya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi tahun 2019 menjadi pengalaman perdana saya mengikuti NaNoWriMo dengan serius mendaftarkan diri dan sebisa mungkin mengikuti panduan/aturan yang berlaku, walaupun saya tak berhasil menjadi (salah satu) pemenangnya. Apa Itu NaNoWriMo? Sekadar sedikit informasi, NaNoWriMo  adalah singkatan dari National Novel Writing Month . Sejak 1999, setiap bulan November , sejumlah (besar) penulis amatir hingga penulis profesional berbondong-bondong berpartisipasi untuk berkomitmen menulis sebuah ( draft pertama) novel -- tanpa perlu disunting atau diedit -- dengan genre pilihan masing-masing selama 30 hari penuh demi mencapai target menulis sebanyak 50.000 kata . Situs NaNoWriMo menyediakan mesin perekam jumlah kata untuk mencatat sudah seberapa jauh perkembangan jumlah kata dari  draft novel peserta. Tidak akan ada yang memeriksa a

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

[ Chocolate chip cookie cake , salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari  Sally's Baking Addiction ] Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit  pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an ; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu. Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang  up to date  mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori  foodie  yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi. 2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010 , masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak sert

Melihat Kembali Tahun 2019

[Foto oleh Jeremy Gallman via Unsplash ] Melihat kembali setahun ke belakang, ingin rasanya saya merangkum tahun 2019 sebagai tahun saya yang tidak produktif dan tanpa karya berarti. Tapi bila mengingat selama satu tahun itu saya hampir tak pernah berhenti 'ditempelin' oleh bayi saya, berarti saya masih termasuk produktif dong, yaitu memproduksi ASI (air susu ibu) dan menyusui. Belum lagi melakukan segala 'remeh-temeh' tugas rumah tangga yang selalu dalam mode ' replay ' alias tiada habisnya. Jadi ini masalah cara pandang saja. Hari-hari saya selama tahun 2019 (atau pun tahun-tahun sebelumnya) memang tidak (kelihatan) sesibuk, seproduktif, atau bahkan se- cool para wanita dan/atau ibu bekerja di luar sana. Tapi pada dasarnya rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, maka saya harus belajar berdamai dengan itu semua. [Foto oleh Aron Visuals via Unsplash ] Dalam setahun, hari demi hari saya lebih-kurang serupa sa