Skip to main content

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)


Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?).

Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB), mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir terlalu pribadi lah, merasa kurang berfaedah lah, dan sebagainya).

15 menit, 30 menit berlalu, lelah juga rasanya mentok mindless scrolling melulu. Ibarat menyusuri mal tanpa tahu mau apa -- awal masuk dan mulai melihat-lihat memang penuh dengan perasaan antusias bisa cuci mata, tapi lama-kelamaan bosan, capek, dan bahkan kehilangan semangat (atau hanya saya yang seperti itu?).

Rasanya tak produktif. Setiap hari selalu begitu. Awalnya hanya, "Nge-cek aja sebentar." Tapi akhirnya tetap saja sama: dari satu postingan berlanjut ke postingan berikutnya, dari satu tagar ke tagar lain, dari profil satu ke profil selanjutnya.


Maka tepat di saat itu juga, sambil sesekali terdengar di latar belakang suara sepasang pembawa acara stasiun TV yang menyisipkan obrolan soal hakikat kemerdekaan, hampir secara impulsif saya memutuskan untuk keluar log (logout) dari IG dan FB, kemudian meng-uninstall keduanya dari ponsel pintar saya. Tanpa ada rencana mau berapa lama. Tanpa tahu pasti saya akan bagaimana setelah tidak ada dua aplikasi media sosial (medsos) tersebut.

Ini bukan soal IG-nya atau FB-nya. Ini sudah pasti soal saya yang, di usia sekarang yang sudah lama mengenal dan mencoba beragam media sosial, sayangnya masih saja seperti berada di fase 'euforia medsos-an' -- kayak yang baru tahu medsos aja; kayak yang baru tahu selah serunya medsos; begitulah kira-kira.

Memang, ada banyak hal yang harus saya lewatkan karena absen dari dua media sosial besar itu:
- Kabar berbagai aktivitas daring dan luring;
- Berita-berita terkini yang tak lagi mengharuskan saya menonton program berita di TV ataupun membaca surat kabar;
- Beragam informasi yang-walaupun-tak-dicari-tapi-terhitung-bermanfaat;
- Hal-hal serius maupun receh yang sedang viral dan yang (saya anggap sebelumnya) bisa menambah warna hidup saya;
- Update tentang kehidupan, karir, dan sebagainya dari kawan, kerabat, dan kenalan.

libur dari media sosial
[Ilustrasi oleh ijmaki via Pixabay]

Namun, tanpa IG dan FB selama empat bulanan, saya pun mendapatkan banyak hal lainnya:
- Mengurangi (kalaupun tidak memutus) secara signifikan kebiasaan mindless scrolling yang sangat menyita waktu.
- Kembali ke masa slow-browsing di mana saya bisa menikmati membaca postingan-postingan panjang dari berbagai blog dan web tanpa banyak distraksi. Sudah lama menikmati isi media sosial yang serba cepat-singkat-padat membuat saya melupakan kenikmatan slow-reading dalam menikmati sejumlah blog naratif (walau membaca buku dalam bentuk fisik tetap paling luar biasa).
- Tidak sedikit-sedikit terganggu notifikasi dan godaan "cek IG/FB dulu, ah" setiap beberapa detik/menit sekali.
- Menulis agak lebih banyak dari sebelumnya, termasuk dalam bahasa Inggris, meskipun semua tulisan itu tidak ada yang berhasil menjadi tulisan komersial.
- Mengurangi secara signifikan rasa kepo saya terhadap kehidupan pribadi orang lain. Dengan demikian, secara otomatis pula saya bisa mengurangi percikan-percikan emosi negatif yang biasanya muncul manakala melihat postingan-postingan orang lain yang membuat saya merasa betapa kehidupan mereka jauh lebih cool dari kehidupan saya yang apalah ini.
- Mengurangi atau bahkan menghilangkan sense of urgency untuk selalu showing up hanya agar 'tak terlupakan' (mengingat algoritma IG dan FB yang tak lagi kronologikal).
- Menikmati lebih banyak waktu IRL (in real life) alih-alih terus-menerus terhubung ke dunia maya. Dengan semakin banyaknya hal yang bisa dilakukan hanya melalui aplikasi ponsel pintar, memang membuat saya masih tergantung dengan ponsel saya, tapi dengan mengurangi jumlah aplikasi daring di ponsel membuat saya tak memiliki alasan untuk selalu dalam keadaan daring (online).

Hari ini, setelah lewat dari hitungan empat bulan, saya menemukan bahwa ternyata hidup saya tetap baik-baik saja tanpa IG dan FB. Bahkan rasanya hampir-hampir seperti 'ketagihan' untuk tetap seperti itu seterusnya karena hidup saya (sebagai seorang introvert) terasa lebih sederhana.

Namun, mau tak mau, saya harus realistis pula terhadap pengaruh positif media sosial. Sebagai contoh adalah bagaimana sebelumnya IG mampu menyokong exposure terhadap usaha kue saya semenjak saya baru memulainya di tahun 2013 dengan nama yang lain, walaupun saat itu belum banyak kawan/kerabat/kenalan saya menggunakan IG, sehingga saya harus 'bergantung' pada 'random people' yang 'kebetulan' menemukan akun IG toko saya.

Karena tahun ini saya ingin usaha kue saya aktif lagi, dan karena toko kue saya berbasis daring, saya pun harus menegarkan hati untuk kembali lagi ke IG. Yah, IG saja dulu. Saya belum tahu kapan akan kembali ke FB, meski tetap saja IG dan FB ada di bawah satu kepemilikan dan terhubung.

Satu PR penting bagi saya setelah memiliki pengalaman (beberapa kali) absen dari media sosial: berusaha untuk lebih bijak dalam ber-medsos. Toh, setelah sekian tahun mengenal dan menggunakan media sosial, harusnya saya sudah tidak lagi ada di fase 'euforia medsos-an.'

libur dari media sosial
[Ilustrasi oleh kropekk_pl via Pixabay]

Berikut ini saya rekomendasikan dua artikel yang mampu membuka cakrawala pikiran dan hati terkait penggunaan media sosial:

(Carina Chocano, Vanity Fair)
Berkisah tentang beberapa influencer di suatu wilayah di Australia yang potret kehidupan mereka di Instagram terlihat begitu ideal, sehingga sang penulis pun mencoba mencari tahu apakah aslinya memang demikian. Diselipkan pula sedikit  cerita tentang perubahan Instagram yang menjadi lebih marketing-minded semenjak diambil alih oleh Facebook.

(Andrea Debbink, The Art of Simple)
Bercerita tentang pengalaman pribadi si penulis mengenai pengaruh penggunaan media sosial (termasuk juga pengaruh ponsel pintarnya) terhadap produktivitas dan kreativitas dirinya.

Adakah di antara para pembaca yang memiliki pengalaman serupa dengan saya? Apa yang Anda jadikan pertimbangan saat memutuskan untuk libur sesaat dari (atau bahkan untuk sama sekali tidak memiliki) media sosial? Dan apa saja yang Anda lakukan untuk sekurang-kurangnya selangkah lebih bijak dalam menggunakan media sosial? Silakan ceritakan di kolom komentar di bawah postingan ini, ya.

Dan silakan bagikan juga postingan ini dengan cara klik tulisan "Share" di bawah. Terima kasih.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan . Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh  dan karenanya tidak setahan lama roti biasa. Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam. Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk  slow cooking . Untuk mendapatkan tekstur kering

Cerita Makan, Masak, dan Membuat Kue di Era 2010-an

[ Chocolate chip cookie cake , salah satu eksperimen di tahun 2017, terinspirasi dari  Sally's Baking Addiction ] Bermulanya tahun 2020 menandakan berakhirnya tahun 2000-an dengan dua digit terakhir berupa angka belasan. Mumpung dekade tersebut belum terlalu jauh berlalu, saya ingin kilas balik sedikit  pengalaman saya makan, masak, dan membuat kue di era 2010-an ; apakah sekiranya ada yang meninggalkan kesan mendalam atau membuat saya mempelajari sesuatu. Perlu dicatat terlebih dahulu, bahwa meskipun saya suka makan, saya bukan termasuk orang yang  up to date  mengikuti tren makanan terkini. Saya juga tidak masuk dalam kategori  foodie  yang sering menyambangi beragam tempat makan. Saya sekadar penyuka makan dan penyuka topik makanan yang menyesuaikan situasi dan kondisi. 2010 Karena masih berstatus pengantin baru setelah menikah di tahun sebelumnya, saya, di tahun 2010 , masih memiliki gelora semangat dalam belajar dan eksperimen masak-memasak sert