Skip to main content

Bagaimana Islam Memandang Penggemar Makanan?

foodie dalam islam
(Sumber foto: Eaters Collective di unsplash.com)

Bagi seorang food enthusiast, tekstur dan aroma suatu makanan saja sudah cukup memanjakan. Bahkan hanya membicarakan tentang makanan pun bisa bikin 'klepek-klepek' *agak lebay sedikit*. Namun adakah tempat bagi penggemar makanan dalam Islam?

Selama ini saya banyak membaca bagaimana Quran dan hadits menyebut-nyebut makanan dari sisi yang 'tidak enak,' misalnya bahwa makanan yang kita masukkan ke dalam mulut dan perut merupakan sumber berbagai macam penyakit. Bahkan agar sehat, kita dianjurkan untuk mengurangi makan (atau berpuasa) dan mengurangi tidur.

Imam Ahmad bin Hambal juga pernah menyebutkan bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu agama ketimbang membutuhkan roti dan air minum (makanan), karena ilmu agama dibutuhkan setiap waktu, sementara makanan hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja setiap harinya (sumber: muslim.or.id).

Jadi, seperti apa Islam memandang orang-orang yang menggemari makanan dan/atau memasak?

Boleh Makan Apa Saja, Boleh Masak Apa Saja, Asalkan ...

Saking penasarannya, di Juni 2016 lalu saya menanyakan pada dua orang berilmu bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap para penggemar makanan: pertama, pada Mbak yang sering berbagi materi di kelompok pengajian saya; kedua, pada Ustadz Mubarak A. Rahim via pesan singkat dalam sebuah program di Mujahidin Madani TV (M2TV) Pontianak.

Keduanya memberi penekanan pada satu hal yang sama: silakan makan, silakan minum, asal jangan berlebihan.
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS al-A'raf, 7: 31)
Menurut Mbak Umi dari kelompok pengajian saya, ayat di atas mengisyaratkan perlunya kita mensederhanakan hidangan yang kita konsumsi.

Bahkan sebagian salaf mengatakan, "Allah swt mengklasifikasikan seluruh ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat," dan merujuk pada ayat tersebut di atas (dalam Tafsir Ibnu Katsir 2/210), untuk menunjukkan betapa kesehatan bisa didapatkan 'sesederhana' melalui mengurangi makan atau makan dengan tidak berlebihan.

Secara spesifik, Ust. Mubarak menjelaskan bahwa kita boleh makan apa saja, boleh minum apa saja, juga boleh masak apa saja, asalkan semuanya halal dan baik -> yang mendatangkan kekuatan atau energi bagi kita untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Juga, kita boleh makan apa saja, boleh minum apa saja, dan boleh masak apa saja, asalkan tidak berlebih-lebihan. Allah tidaklah menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Berlebih-lebihan -> melampaui batas kewajaran, hingga mengakibatkan penyakit, menyebabkan kemubaziran, menimbulkan rasa malas untuk beribadah, dan sebagainya.

Jadi semuanya jelas sejelas-jelasnya. Menggemari makan dan/atau memasak sah-sah saja, insya Allah, selama bersumber pada yang halal lagi baik, serta dengan proporsi yang secukupnya.

Referensi:
  • Mubarak A. Rahim, Ust., "Pelanggaran Terhadap Hari Raya" dalam program Majelis Ilmu, Mujahidin Madani TV (M2TV) Pontianak, 29 Juni 2016.
  • muslim.or.id (infografis).
  • Tree Grower Community - Himpunan Profesi Mahasiswa Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), "Makan dan Minum Jangan Berlebihan" dalam http://tgc.lk.ipb.ac.id (20 Juni 2010).
  • Umi Fatonah, "Berpisah dengan Ramadhan" dalam Majelis Taklim Mar'atussholihah, Masjid Nurul Ikhwan, Kabupaten Kubu Raya, 25 Juni 2016.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup