Skip to main content

Resep Donat Tanpa Telur

donat tanpa telur

Sesuai janji (yang sudah terlalu lama), saya bagikan kembali resep adaptasi donat tanpa telur yang selalu saya gunakan setiap kepikiran pengin bebikinan donat di rumah.

Dulu, sewaktu blog ini masih dengan platform Wordpress, pernah saya tuliskan juga resepnya. Tapi, waktu itu versi menguleni seadanya, sedemikian sehingga bentuk donatnya seadanya juga.

Terakhir mencoba resep ini lagi (dua kali, dan sudah sekian bulan lalu), saya berhasil menguleni adonannya dengan lebih baik dibanding sebelumnya. Dari dua kali aplikasi resep tersebut, pertama saya bentuk donatnya secara manual, kedua menggunakan cetakan (dari botol minum yang agak besar, lubang di tengahnya dari mulut botol minum yang kecil).

Saya suka sekali dengan bentuk donat versi cetak, namun sayangnya adonannya saya giling terlalu tipis, sehingga mengembangnya tidak terlalu besar. Secara keseluruhan, saya tetap merasakan kepuasan tersendiri. Meluangkan waktu mencari tahu cara menguleni donat via YouTube ternyata tak sia-sia.

donat tanpa telur

Menguleni donat (dengan baik dan benar) ternyata gampang-gampang susah. Bagian terberatnya? Harus bersabar karena proses menuju siapnya adonan bisa dibentuk itu lumayan lama.

Untuk donat yang dibentuk secara manual, saya hanya memberikan pugasan standar berupa olesan tipis margarin dan taburan meses. Sedangkan donat yang dicetak saya pugas dengan lelehan krim cokelat Oreo dan taburan remah halus Oreo. Namun berhubung krimnya tidak cukup untuk semua donat, sisanya saya ganti dengan olesan margarin.

donat tanpa telut

Resep Donat Tanpa Telur dengan Pugasan (Topping) Oreo

Oleh Diar Adhihafsari, diadaptasi dari resep Eggless Donut milik Vie Orshanty (via Facebook Group Natural Cooking Club)

Bahan-bahan:
  • 250 gr tepung terigu
  • 50 gr margarin
  • 1 + 1/2 sdm gula pasir (bila suka manis, bisa ditambah sesuai selera)
  • 1/4 bks ragi instan (dari kemasan 12 gr atau sejenisnya)
  • 125 ml susu cair hangat (saya pakai susu bubuk khusus baking yang dicampur air hangat)
  • 1 bks Oreo (saya pakai yang isian cokelat), pisahkan krim dan biskuitnya. Lelehkan krimnya dengan cara ditim (saya pakai cara masukkan krim dalam mug tahan panas, lalu masukkan mug ke dalam panci kecil berisi sedikit air di atas kompor). Haluskan biskuitnya (saya menggunakan pelumat atau blender khusus untuk bahan kering)
Cara membuat:

1. Campurkan tepung terigu, gula pasir, dan ragi instan dalam satu wadah, aduk rata menggunakan sendok atau spatula.

2. Masukkan margarin, remas-remas adonan memakai tangan.

3. Tambahkan susu cair hangat sedikit demi sedikit, uleni dengan teknik melipat adonan ke bagian dalam atau bawah, ulangi terus sampai adonan tidak lengket dan terasa kalis.

4. Bulat-bulatkan adonan dan bolongi bagian tengahnya menggunakan jempol tangan. Atau bisa juga digiling dengan rolling pin (saya pakai botol minum plastik), lalu dicetak dengan ring cetakan donat (atau pakai apa saja yang ada di rumah, misalnya mulut botol minum atau mulut gelas).

5. Tutup adonan donat dengan kain bersih dan diamkan hingga adonan mengembang.

6. Goreng donat dalam minyak banyak dengan api sedang, lalu tiriskan.

7. Setelah donat dingin, oleskan krim Oreo leleh secukupnya, lalu masukkan ke dalam wadah berisi remah halus Oreo.

Selamat mencoba.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup