Skip to main content

Cara Membuat Kompos dari Sampah Dapur

kompos rumahan

Sebagian dari kita mungkin sering merasa gak ngeh kalau melewati tempat pembuangan sampah. Saya pribadi lebih sering merasa malu, karena saya tahu saya 'punya andil' menambah sampah di sana, lagi dan lagi. Karenanya, dengan membuat kompos sendiri di rumah, meski tak seberapa, saya merasa bisa mengurangi sedikit 'dosa' nyampah saya.

Latar Belakang

Sudah 2019, maka bukan jamannya lagi muncul pertanyaan, "Kenapa harus (repot-repot) membuat kompos sendiri di rumah?" Ini masalah kesadaran dan keinginan pribadi saja. Tak perlu disertai penjabaran teoretis tentang gaya hidup hijau.

Kesadaran dan keinginan pribadi untuk mengurangi dan mengelola sampah basah atau sampah dapur pertama kali muncul ketika saya masih lajang dan tinggal di rumah orang tua, sekitar tahun 2007.

Setelah membaca berbagai macam referensi, tutorial, dan pengalaman orang, waktu itu akhirnya saya mencoba membuat kompos sistem tanam/timbun/kubur. Berhubung dulu saya bukan 'orang dapur' (karena segala urusan dapur 'dikuasai' orang tua), sebagian besar sampah yang saya jadikan kompos adalah sampah taman. Sayangnya, karena kurang sabar, rutinitas mengumpulkan dan mengubur sampah ini tidak bertahan lama.

Tahun 2009, setelah menikah, saya menguatkan tekad dan mencoba lagi. Kali ini saya menggunakan media ember bekas untuk membuat kompos sendiri (tapi seingat saya dulu bikinnya salah). Lagi-lagi semangat terlalu cepat mengendor, sehingga aktivitas tersebut hanya bertahan tak sampai seumur jagung. Tambahan lagi induk semang (alias pemilik rumah sewaan/kontrakan) saya dulu membuang kompos yang sedang saya buat, jadinya makin putus asalah saya. *drama*

Tahun demi tahun berlalu, segala macam referensi dan tutorial pembuatan kompos rumahan sederhana selalu saya simpan untuk suatu saat saya praktikkan dengan 'iman yang lebih kuat'.

'Suatu saat' tersebut akhirnya terwujud di Januari 2016... dan sampah-sampah dapur yang saya kumpulkan berhasil menjadi kompos di awal Desember 2016.

kompos rumahan

Perjuangan Membuat Kompos Sendiri

Selama hampir 12 bulan di 2016, saya dua kali mengganti wadah pembuatan kompos dan beberapa kali membuang kompos yang masih dalam proses pembuatan, kemudian mengulang kembali dari awal.

Mulai masalah kompos yang dipenuhi belatung (sebenarnya belatung bisa ikut membantu menguraikan sampah basah, tapi saya selalu merinding melihat gerombolan belatung memenuhi komposter saya); kompos yang terlalu basah dan berat; kompos yang menguarkan bau busuk; wadah kompos yang kepenuhan; dan lain sebagainya, semua saya hadapi satu per satu, pelan-pelan, meski kadang dengan rasa enggan dan dengan pikiran, "What the hell am I doing, seriously?"

Hingga kini -- walaupun sudah berhasil memanen kompos sendiri sebanyak empat atau lima kali sejak 2016 sampai 2019 -- saya masih terus berjuang, terutama melawan rasa malas dan rasa tidak-mau-peduli-lagi. 'Pembelaan' saya, mungkin karena berhadapan dengan sampah -- sesuatu yang tidak menyenangkan apalagi 'glamor', makanya saya kurang termotivasi.

Cara Membuat Kompos dari Sampah Dapur

Catatan: Metode yang saya gunakan ini termasuk paling sederhana, yang saya adaptasi dari banyak referensi dan pengalaman orang lain. Harap diingat, pengalaman setiap orang dalam membuat kompos akan berbeda-beda. Selain pengetahuan, diperlukan feeling juga dalam menangani kompos.

Catatan tambahan: Saya tidak menggunakan bio aktivator dalam membuat kompos, sehingga proses pengomposannya jauh lebih lama.

kompos rumahan

1. Siapkan wadah dengan tutup rapat untuk membuat kompos. Saya menggunakan tempat sampah plastik bertutup ukuran sedang. Sesuaikan besar-kecilnya wadah dengan produksi sampah dapur kita, ya. Sebelum digunakan, wadah saya cuci bersih dan keringkan terlebih dahulu.

2. Buat lubang-lubang kecil di bagian bawah wadah. Agar bisa digunakan untuk sampah basah apa saja (sampah dapur maupun sampah halaman), komposter ini menggunakan metode anaerob, yang tidak memerlukan oksigen dalam prosesnya. Saya melubangi bagian bawah wadah kompos menggunakan ujung obeng yang dipanaskan di api. Lubang-lubang ini nantinya untuk jalan keluar air berlebih dari sampah basah kita.

3. Letakkan wadah kompos di halaman belakang (saya meletakkan di teras belakang). Kalau mau, bisa tambahkan penyangga di bawah wadah, supaya lubang di wadah tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Tempat sampah yang saya gunakan kebetulan sudah memiliki penyangga. Tapi langsung diletakkan di atas tanah atau rumput juga tak masalah.

4. Siapkan sampah kita. Secara teori (sependek riset saya yang tak seberapa mendalam), kompos terbentuk dari perbandingan sampah basah/hijau (nitrogen/N) dan kering/coklat (carbon/C) yang proporsional, yaitu 2N : 1C. Jadi, dalam satu wadah, idealnya jumlah sampah basah adalah dua kali lipatnya sampah kering. Sampah N, misalnya kulit buah, sisa potongan sayur, tanaman busuk, dll. Sampah C, misalnya daun kering, sobekan koran atau kertas, 'sekam' gergaji, dll.

5. Susun sampah berlapis-lapis antara sampah N dan sampah C, dimulai dengan sampah C terlebih dahulu di bagian paling dasar. Hal ini dimaksudkan agar pengomposan berjalan lebih cepat. Agar lebih cepat lagi, biasanya digunakan bio aktivator atau mikroba tertentu sebagai pengompos, sekaligus untuk membunuh belatung yang bisa saja muncul.

6. Tambahkan sampah dapur dan/atau sampah halaman setiap kapan pun ada produksi sampah di rumah. Aduk-aduk sedemikian sehingga sampah yang baru dimasukkan berada di bagian tengah atau bagian dalam kompos yang sedang dibuat.

7. Aduk-aduk kompos beberapa hari sekali. Bila terlalu basah, tambahkan sampah C.

8. Panen kompos saat isi wadah berkurang dan terlihat seperti tanah atau terlihat seperti kompos yang biasa dijual di pedagang tanaman (gunakan feeling). Gunakan kompos untuk tanaman di rumah kita. Kompos bisa disaring terlebih dulu untuk dipisahkan dari kompos yang belum jadi. Sisa sampah dalam wadah bisa dilanjutkan lagi proses pengomposannya dengan rutin ditambahkan sampah N dan C.

Tambahan lagi:

a. Saya tidak memasukkan sampah dapur yang sebelumnya bersentuhan dengan minyak (misalnya sisa sayur tumis), agar dalam wadah kompos tidak muncul belatung dan agar kompos tidak bau.

b. Sebelumnya saya biasa memasukkan sisa nasi basi ke dalam komposter, tapi karena di halaman belakang saya banyak burung berseliweran, saya akhirnya lebih memilih melempar sisa nasi ke tanah agar dihabiskan oleh kawanan burung tersebut.

c. Di internet banyak tersedia referensi mengenai apa saja yang bisa menjadi sampah N dan sampah C. Rajin-rajin saja mencari dan membaca.

d. Cara paling gampang untuk 'mengeringkan' kompos yang terlalu basah adalah dengan menambahkan 'sekam' gergaji. Siapkan selalu stoknya dengan meminta sisa serutan kayu di tukang kayu terdekat.

e. Sabar dan semangat selalu. Kalau kadang malas 'menengok' keadaan kompos gak apa-apa (saya juga masih sering begitu), tapi jangan kelamaan, ya.

Selamat mencoba!

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat, hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja.Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend). Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan, seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan tempayan.Dilihat dari beberapa keterangan yang tertera…

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan.

Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh dan karenanya tidak setahan lama roti biasa.
Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam.
Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk slow cooking. Untuk mendapatkan tekstur kering dan crusty di permukaannya, ro…

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata.

Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pembers…