Sepiring Bacaan (2): Seputar Identitas


Sepiring Bacaan kali ini terdiri dari dua tulisan dengan satu topik yang serupa, yaitu identitas. Artikel pertama mungkin agak "berat", tapi artikel setelahnya bisa segera mengurangi atau bahkan menghilangkan "beban berat" tersebut. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

1. "Diverse Identities are Central to Food Writing, says Nik Sharma" (Dianne Jacob)

Sebenarnya ini tulisan tahun 2018, tapi saya rasa isi tulisannya masih relevan hingga sekarang. Tak bisa dipungkiri, isu-isu seputar identitas berupa warna kulit, ras, dan bahkan pilihan seksual hampir selalu menjadi topik yang tak selesai-selesai.

Jadi, semakin ke sini, termasuk di dunia kuliner (khususnya penulisan kuliner), orang-orang merasa semakin perlu untuk menunjukkan identitas mereka. Terlebih bila mereka "berbeda."

Seperti Nik Sharma, yang melalui tulisan-tulisan dan foto-foto kulinernya berusaha menunjukkan siapa dia: seorang imigran asal India, seorang yang berkulit non-putih, dan seorang gay yang menikah.

Di artikel ini, Dianne Jacob mewawancarai Nik Sharma seputar isu identitas tersebut dan pengaruhnya dalam karirnya di penulisan dan fotografi kuliner.

Untuk digarisbawahi, sesuai dengan keyakinan yang saya anut, saya tidak mendukung "pilihan hidup" sebagai gay dan sejenisnya (not to be debatable, in my opinion) -- tentunya saya tetap menghormati mereka sebagai sesama manusia. Namun yang ingin saya tekankan di sini, dengan merekomendasikan untuk membaca artikel ini, adalah bahwa hal ini bisa menjadi inspirasi tersendiri.

Mereka yang "berbeda" (di mata saya) saja bisa dengan tegas dan bahkan bangga menunjukkan siapa mereka. Karenanya saya (dan kita), yang mungkin merasa "normal" tapi bisa saja di mata sebagian orang lain ternyata "berbeda" (entah, hanya sebagai contoh, karena berasal dari satu suku yang sudah menjadi rahasia umum memiliki stereotipe negatif tertentu; atau karena mengenakan hijab yang katanya kepanjangan -- sampai ada yang bilang, "Biasa-biasa aja lah dalam beragama" dan "Ini bukan di Arab"; dll.), tentunya harus sama tegas dan bangganya, atau lebih, dengan identitas sendiri, kemudian menunjukkannya dalam karya.
"For people of color like me, we have to keep knocking at the door. Persistence and not giving up are really important."
2. "What's Your Email Sign-Off?" (Joanna Goddard)

Masih berkaitan dengan identitas, ini bacaan yang super-ringan, bahkan bisa membuat tersenyum (at least I did), yaitu tentang salam khas di akhir email.

Artikel ini diawali dengan mengungkapkan arti yang tepat dari XOXO yang sering digunakan (secara khusus di Barat) sebagai salam penutup dalam surat konvensional maupun surat elektronik. Penasaran kan, apa arti XOXO yang sebenarnya? Apa betul "peluk dan cium"?

Oh iya, baca juga bagian komentar di artikel tersebut, ya. Ada beragam contoh salam penutup email yang digunakan orang-orang, mulai dari yang standar sampai yang membingungkan dan dari yang lucu sampai yang membuat hati terasa hangat (cieee...).

Setelah membaca artikel ini, hampir bisa dipastikan jadi pengin punya salam khas juga untuk menutup setiap email yang dikirim sebagai identitas tersendiri :)
"What about idiosyncratic sign-offs? My friend David writes, “All good things,” which feels so elegant. “Love and other indoor sports” is the way a Judy Blume character signed all her letters. Writer Sadie Stein goes with “As ever.” An old crush once ended an email, “Yours and yours and yours,” and I almost blacked out from the romance."
Baca juga:
Sepiring Bacaan (1): Tentang Blog dan Pola Makan

Comments