Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Bagaimana Islam Memandang Penggemar Makanan?

(Sumber foto: Eaters Collective di unsplash.com ) Bagi seorang food enthusiast , tekstur dan aroma suatu makanan saja sudah cukup memanjakan. Bahkan hanya membicarakan tentang makanan pun bisa bikin 'klepek-klepek' *agak lebay sedikit*. Namun adakah tempat bagi penggemar makanan dalam Islam? Selama ini saya banyak membaca bagaimana Quran dan hadits menyebut-nyebut makanan dari sisi yang 'tidak enak,' misalnya bahwa makanan yang kita masukkan ke dalam mulut dan perut merupakan sumber berbagai macam penyakit. Bahkan agar sehat, kita dianjurkan untuk mengurangi makan (atau berpuasa) dan mengurangi tidur. Imam Ahmad bin Hambal juga pernah menyebutkan bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu agama ketimbang membutuhkan roti dan air minum (makanan), karena ilmu agama dibutuhkan setiap waktu, sementara makanan hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja setiap harinya (sumber: muslim.or.id). Jadi, seperti apa Islam memandang orang-orang yang menggemari makanan dan/atau

Resep Donat Tanpa Telur

Sesuai janji (yang sudah terlalu lama) , saya bagikan kembali resep adaptasi donat tanpa telur yang selalu saya gunakan setiap kepikiran pengin bebikinan donat di rumah. Dulu, sewaktu blog ini masih dengan platform Wordpress, pernah saya tuliskan juga resepnya. Tapi, waktu itu versi menguleni seadanya, sedemikian sehingga bentuk donatnya seadanya juga. Terakhir mencoba resep ini lagi (dua kali, dan sudah sekian bulan lalu), saya berhasil menguleni adonannya dengan lebih baik dibanding sebelumnya. Dari dua kali aplikasi resep tersebut, pertama saya bentuk donatnya secara manual, kedua menggunakan cetakan (dari botol minum yang agak besar, lubang di tengahnya dari mulut botol minum yang kecil). Saya suka sekali dengan bentuk donat versi cetak, namun sayangnya adonannya saya giling terlalu tipis, sehingga mengembangnya tidak terlalu besar. Secara keseluruhan, saya tetap merasakan kepuasan tersendiri. Meluangkan waktu mencari tahu cara menguleni donat via YouTube ternyata

Cara Membuat Kompos dari Sampah Dapur

Sebagian dari kita mungkin sering merasa gak ngeh kalau melewati tempat pembuangan sampah. Saya pribadi lebih sering merasa malu, karena saya tahu saya 'punya andil' menambah sampah di sana, lagi dan lagi. Karenanya, dengan membuat kompos sendiri di rumah, meski tak seberapa, saya merasa bisa mengurangi sedikit 'dosa' nyampah saya. Latar Belakang Sudah 2019, maka bukan jamannya lagi muncul pertanyaan, "Kenapa harus (repot-repot) membuat kompos sendiri di rumah?" Ini masalah kesadaran dan keinginan pribadi saja. Tak perlu disertai penjabaran teoretis tentang gaya hidup hijau. Kesadaran dan keinginan pribadi untuk mengurangi dan mengelola sampah basah atau sampah dapur pertama kali muncul ketika saya masih lajang dan tinggal di rumah orang tua, sekitar tahun 2007. Setelah membaca berbagai macam referensi, tutorial, dan pengalaman orang, waktu itu akhirnya saya mencoba membuat kompos sistem tanam/timbun/kubur. Berhubung dulu saya bukan 'orang dapur

Belajar Lagi dan Lagi Tentang Halal dan Thayyib

Makan penting untuk hidup. Memilih makanan yang halal dan thayyib (baik) sama pentingnya untuk menjalani hidup sebagai seorang muslim. Belajar dan mengingat lagi tentang halal dan thayyib pun tak kalah penting, karena hakikatnya saya sebagai manusia harus selalu diingatkan. Dalam Alquran, surat al-Baqarah ayat 168 menyebutkan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk makan makanan yang halal dan thayyib . Secara bahasa sederhana, bagaimanakah 'bentuk' halal dan thayyib itu? "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS al-Baqarah, 2: 168) Dalam surat yang sama, pada ayat 57 dan 60, manusia dibenarkan untuk hanya memakan makanan yang baik yang telah dianugerahkan Tuhan dengan tidak melakukan kerusakan di bumi. "Dan Kami Menaungi kamu dengan awan, dan Kami Menurunkan kepadamu mann [ket: sejenis madu] dan salwa [ket: se

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Sepiring Bacaan (2): Seputar Identitas

Sepiring Bacaan kali ini terdiri dari dua tulisan dengan satu topik yang serupa, yaitu identitas . Artikel pertama mungkin agak "berat", tapi artikel setelahnya bisa segera mengurangi atau bahkan menghilangkan "beban berat" tersebut. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. 1. "Diverse Identities are Central to Food Writing, says Nik Sharma" (Dianne Jacob) Sebenarnya ini tulisan tahun 2018, tapi saya rasa isi tulisannya masih relevan hingga sekarang. Tak bisa dipungkiri, isu-isu seputar identitas berupa warna kulit, ras, dan bahkan pilihan seksual hampir selalu menjadi topik yang tak selesai-selesai. Jadi, semakin ke sini, termasuk di dunia kuliner (khususnya penulisan kuliner), orang-orang merasa semakin perlu untuk menunjukkan identitas mereka. Terlebih bila mereka "berbeda." Seperti Nik Sharma, yang melalui tulisan-tulisan dan foto-foto kulinernya berusaha menunjukkan siapa dia: seorang imigran asal India, seorang yang berkulit non-

Resep Bola-bola Biskuit

Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa nama "resmi" camilan manis seperti ini. Sama seperti saya tidak tahu siapa pencetus resep aslinya. Sepengetahuan saya, kue bola-bola yang mencampur remahan halus biskuit dengan susu kental manis termasuk camilan umum yang banyak orang tahu dan bisa membuatnya tanpa perlu resep khusus. Dan semua yang pernah membuat bola-bola biskuit -- terlepas dari kemudahan bahan dan cara membuatnya -- pasti setuju kalau proses pembuatannya yang panjaaang lumayan bikin KZL (baca: kesel , pakai "e"), apalagi di bagian bulat-bulatin adonannya. Hahaha! Bayangkan kalau adonannya BANYAK. Mungkin ada yang memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan berbeda. Misalnya, menggunakan remahan cake alih-alih menggunakan remahan biskuit, atau menggunakan keju lunak seperti cream cheese alih-alih susu kental manis. Namun pada dasarnya kue ini ada di bawah prinsip yang sama: mencampurkan remahan dari kue yang sudah jadi (biskuit atau cake ) deng