Skip to main content

Sepiring Bacaan (1): Tentang Blog dan Pola Makan

Sumber foto: Canva

"Sekali merdeka, tetap membaca!"
(Putu Laxman Pendit)
Mulai kini, sesekali saya akan berbagi dan merekomendasikan beberapa bacaan/tulisan yang menurut saya bagus dan menarik yang saya temukan daring (online) maupun luring (offline). Fitur tersebut saya beri nama Sepiring Bacaan karena jumlah bacaan yang saya suguhkan tidak banyak dan masih bisa langsung selesai dibaca dalam satu kali duduk. Yah, ibarat menikmati sepiring kue sambil bersantai di pagi atau sore hari lah.

Untuk edisi perdana, saya merekomendasikan dua tulisan di bawah ini:

1. "09/05/2018 - On Blogging" (Jenna Andersen)

Baru beberapa waktu lalu saya menulis sedikit tentang dunia blog, tak lama kemudian saya menemukan tulisan Jenna ini. Tulisan tersebut sungguh menjadi nostalgia bagi saya yang mulai menulis di dunia maya semenjak era Geocities milik Yahoo saat saya masih SMA.

Saya mengikuti rekam jejak Jenna sebagai seorang narablog (blogger) semenjak ia menamakan diri dan blognya dengan That Bride (sebelumnya dia nge-blog sebagai That Girl ketika masih single), kemudian berlanjut menjadi That Wife, dan akhirnya ia vakum selama beberapa waktu, lalu aktif kembali dengan blog barunya, Living Absolutely.

Buat yang suka menulis semenjak internet masih sederhana (ingat LiveJournal atau Blogspot versi jadul?), pasti bisa langsung merasakan nostalgia juga ketika membaca apa yang ditulis Jenna:
That was the first wave of blogging. No one was a brand. There were no sponsored posts. It was raw, startlingly honest, and there were no pictures because digital photography hadn’t reached the masses yet.
2. "What Happened When I Started Intuitive Eating" (Kelsey Miller)

Sebenarnya saya perlu tiga kali membaca ulang tulisan ini untuk betul-betul memahami maksud dari "intuitive eating." Mungkin bukan karena tidak paham, tapi lebih untuk meyakinkan diri saya sendiri. Bagaimana tidak; di zaman keterbukaan sekarang ini, bahkan orang yang tidak kita kenal sama sekali bisa mengomentari (bila tidak menghakimi) apa dan bagaimana kita makan (apalagi kalau kita melakukan diet khusus). Namun konsep intuitive eating malah menyuruh kita untuk makan apa yang ingin kita makan. Kesan awalnya mungkin agak too good to be true, tapi coba deh, baca tulisan Kelsey secara keseluruhan hingga tuntas.
And as for the health question, there is no conflict between healthy eating and intuitive eating. Quite the contrary, intuitive eating makes you a deeply mindful eater. It teaches you to listen to your hunger and fullness cues, and to pay attention while you eat (to your food and body, not your phone).
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Menengok Peninggalan Peranti Keramik di Museum Kalimantan Barat Pontianak

Beberapa kali mengunjungi Museum Kalimantan Barat, hampir tidak ada perubahan signifikan. Bahkan saat ke sana dengan sudah membawa tiga orang anak, semuanya masih terlihat dan terasa sama seperti ketika beberapa tahun sebelumnya saya masih membawa satu orang anak saja.Ya sudah, mari langsung melihat sebagian peninggalan perabot dapur berbahan keramik yang berada di Museum Kalimantan Barat (soalnya hanya koleksi itu saja yang paling menarik minat saya). Anggap saja sebagai virtual tour kecil-kecilan. Sebagai catatan: kunjungan yang saya lakukan di dalam postingan ini terjadi saat anak saya masih dua, ya (ini postingan ulang setelah sebelumnya blog saya sempat kena suspend). Kebanyakan koleksi keramik yang dipamerkan di area dekat pintu keluar Museum Kalimantan Barat ini berupa peralatan makan, seperti piring, mangkuk, sendok, teko air, dan rantang. Ada pula sejumlah perabot dapur keramik yang ukurannya agak besar, misalnya kendi dan tempayan.Dilihat dari beberapa keterangan yang tertera…

Pengalaman Pertama Membuat Roti Artisan

Sekian banyak tahun dengan pola pikir bahwa membuat roti panggang itu susah, apalagi kalau hanya bermodalkan oven tangkring, saya akhirnya mendapatkan motivasi untuk pertama kali mencoba membuat roti di awal tahun 2020 ini. Semua berkat postingan dan tantangan dari blog Sally's Baking Addiction untuk membuat roti artisan.

Roti artisan biasanya didefinisikan sebagai roti khas rumahan yang dibuat manual dengan tangan dan dengan menggunakan ragi alami, ditambah melalui proses fermentasi yang panjang. Roti ini, secara kualitas, cenderung lebih fresh dan karenanya tidak setahan lama roti biasa.
Dari segi penampilan, roti artisan tidak semulus roti pada umumnya. Dia cenderung bertekstur kering dan berkerak di bagian luar, namun lembut sekaligus kenyal dengan pori-pori besar di bagian dalam.
Di Barat sana, roti artisan lazim dipanggang menggunakan dutch oven -- sebuah panci tebal bertutup yang difungsikan untuk slow cooking. Untuk mendapatkan tekstur kering dan crusty di permukaannya, ro…

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata.

Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pembers…