Skip to main content

Menikmati Kelana Kuliner Gok Wan


Dari sekian banyak acara televisi bertema masak-masak dan/atau makan-makan, akhirnya saya menemukan satu yang menurut saya terbaik, yaitu Gok's Chinese Takeaway. Sayangnya, acara yang diproduksi tahun 2016 dan ditayangkan di National Geographic beberapa waktu lalu ini hanya terdiri dari enam episode. Namun karena jadwal acaranya yang berganti-ganti, saya cuma menonton tiga episode saja -- episode ke-1, 2, dan 6! Duh!

Di Gok's Chinese Takeaway, Gok Wan sang pembawa acara -- yang juga seorang tokoh fashion terkenal di Inggris -- menjelajahi enam kota di Eropa, Australia, dan Asia. Ia mencoba mencari tahu bagaimana makanan Tiongkok dibuat oleh orang-orang Tiongkok yang sudah menetap di Barcelona, Melbourne, Melaka, Amsterdam, Paris, dan London; apakah masih seklasik makanan aslinya atau menjadi fusi dengan sentuhan lokal setempat, serta bagaimana kuliner Tiongkok mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh kuliner masing-masing kota.

Konsep Gok's Chinese Takeaway


Yang saya suka dari acara ini adalah konsep di mana Gok menemui orang-orang Tiongkok dan/atau lokal yang memasak makanan Tiongkok atau yang memiliki usaha kuliner Tiongkok di keenam kota di atas. Dengan mewawancarai tentang latar belakang mereka menjadi imigran dan tentang kehidupan komunitas Tiongkok setempat, kita jadi mendapat gambaran tentang diaspora orang Tiongkok ke berbagai belahan dunia serta bagaimana kuliner Tiongkok dan lokal di sana saling mempengaruhi. Gok juga praktik memasak satu hidangan dengan mereka; membuat kita sedikit-banyak memahami anatomi masakan ala Tiongkok (misalnya, bahwa daun bawang, bawang putih, dan jahe adalah tiga bahan wajib yang membuat hampir semua masakan Tiongkok menjadi sebuah masakan khas Tiongkok).

Ada pula segmen bagi Gok untuk mengunjungi produsen bahan-bahan masakan tertentu yang biasanya digunakan dalam masakan Tiongkok. Produsen tersebut ada yang penduduk asli lokal, dan ada juga yang memang keturunan Tiongkok. Tentu saja sang pembawa acara akan ikut belajar di sana -- misalnya, belajar membuat tahu di sebuah pabrik tahu milik seorang warga asli Melbourne dan belajar membuat mi ho fun (yang seperti mi tiauw) dengan seorang penduduk London keturunan Tiongkok.

Yang membuat Gok's Chinese Takeaway semakin menarik, setelah dua segmen di atas, Gok akan memasak beberapa hidangan Tiongkok baru yang inspirasinya berasal dari pengalamannya praktik sebelumnya. Tentunya masakannya turut menggunakan bahan masakan dari para produsen yang ditemuinya sebelumnya.

Di akhir kunjungannya di setiap kota, Gok Wan mengundang orang-orang yang sudah dia temui di sana untuk menikmati masakan barunya. Masing-masing masakan merupakan tribute khusus untuk setiap orang yang ditemuinya di kota bersangkutan.

Khusus di London yang merupakan kota terakhir sekaligus kota tempat tinggalnya, Gok mengundang orang-orang terdekatnya. Semua masakan yang dibuatnya terinspirasi dari eksplorasinya secara keseluruhan di enam kota dan dari orang-orang yang sudah membantunya belajar tentang kehidupan komunitas Tiongkok, tentang bahan masakan khas Tiongkok, dan tentang masakan Tiongkok yang tiada habis jenis serta variasinya.

Makanan dan Keterhubungan dengan Budaya


Walaupun sepanjang hidupnya memasak dan memakan makanan Tiongkok, tapi dari kelana kulinernya di enam kota Gok Wan menyadari bahwa ternyata masih banyak yang belum ia ketahui tentang makanan Tiongkok. Sekaligus segala masakan Tiongkok yang dia jumpai dan buat juga membuatnya semakin merasa terhubung dengan budayanya.

Suatu hal yang romantis ya, bagaimana kita bisa semakin menghargai dan mencintai identitas kita (sebagai bagian dari bangsa tertentu, suku tertentu, agama tertentu, dsb.) melalui hal yang begitu sehari-hari namun mengakar, yaitu makanan.

Sumber foto (sesuai urutan):

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup