Skip to main content

Mengobrolkan Istri Resik dan Keluarga Harmonis Bersama HIJUP dan Resik-V

Foto oleh tim HIJUP

[Update, Desember 2018: Postingan ini alhamdulillah menjadi juara 1 dalam kompetisi blog HIJUP (Pontianak)]


Seiring perkembangan zaman, ada hal-hal yang dulunya dianggap tabu untuk dibicarakan di ranah publik, namun kini tidak lagi demikian. Contohnya topik perawatan organ kewanitaan serta keharmonisan hubungan suami-istri secara seksual. Lagipula, bukankah knowledge is power?

10 November 2018 lalu, HIJUP -- yang merupakan situs sekaligus aplikasi daring terbesar untuk fesyen Islami -- bekerja sama dengan Resik-V membawa topik di atas menjadi obrolan ringan dan renyah berjudul "Istri Resik, Keluarga Harmonis" dalam HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik. Mengundang 25 orang narablog perempuan yang sudah menikah, event ini menghadirkan tiga narasumber yang buka-bukaan soal perawatan area kewanitaan juga perawatan keharmonisan suami-istri. Ada selebgram Nina Septiani; spesialis kandungan dr. Vidiatma Agbari; dan brand manager Resik-V, Laura Kristina.

Hubungan Harmonis Suami-Istri

Foto oleh Diar A.

Ternyata, menurut survei, hubungan harmonis (suami-istri) umumnya didefinisikan sebagai hubungan seksual yang berkualitas. Itu yang dipaparkan oleh dr. Vidi pertama kali. Untuk mewujudkan itu, menurut sang dokter spesialis kandungan, salah satunya adalah suami sebaiknya diberitahu apa yang kita rasakan.

Bagaimana tidak, di antara suami dan istri, tentunya istri yang paling banyak mengalami dan merasakan perubahan pada organ vitalnya secara fisiologis. Hal tersebut tak cuma dialami sebelum menikah, namun terutama setelah menikah. Perubahan tersebut bisa dipengaruhi oleh gen maupun keadaan ketika melahirkan -- terlebih bila melahirkan per vaginam yang membuat organ kewanitaan terlihat dan terasa semakin berubah, mulai dari bentuk hingga warna.

Tak heran bila Mbak Nina Septiani pun mengatakan bahwa aset perempuan yang harus dirawat bukanlah wajah semata, melainkan area kewanitaannya juga. Karena, menurut Mbak Nina yang sudah menikah selama hampir empat tahun, menyenangkan suami harus dengan dua aset tersebut. Maka demi tercipta keharmonisan, Mbak Nina dan suami sedari awal sepakat untuk mengomunikasikan segala hal, enak - tak enak, termasuk soal urusan di ranjang.

Begitu pentingnya merawat keresikan dan kesehatan organ intim wanita, dr. Vidi menuturkan, sampai bisa memengaruhi kualitas hubungan seksual suami-istri. Bahkan meski tidak merasakan keluhan apa pun, bukan berarti organ vital tersebut tidak perlu dirawat.

Menjadi Istri Resik

Foto oleh tim HIJUP

Mencoba memahami keinginan dan kebutuhan perempuan -- khususnya para istri -- untuk menjaga area intim mereka selalu resik dan sehat, Resik-V berhasil menjadi pionir dengan produk feminine hygiene wash-nya semenjak sepuluh tahun lalu. Walau area "V" memiliki pertahanannya sendiri, perawatan sesekali menggunakan basuhan seperti Resik-V untuk pemakaian luar diklaim Mbak Laura Kristina bisa menjadi pilihan sebagai bentuk preventif agar bagian kewanitaan tetap terurus keresikannya.

Resik-V hadir dengan varian Manjakani Whitening yang terbuat dari bahan-bahan alami berupa ekstrak buah manjakani asli Persia dan ekstrak bengkuang pilihan, serta telah diuji terhadap 200 perempuan. Selama berabad-abad, manjakani telah dipercaya mampu merawat organ intim wanita dan bengkuang terkenal akan khasiatnya mencerahkan kulit. Bahkan, menurut dr. Vidi, sudah banyak penelitian di Asia Timur dan Malaysia terhadap khasiat manjakani yang dianggap mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker serviks, meski tetap harus dilakukan penelitian lebih lanjut lagi.

dr. Vidi menyebutkan bahwa vagina yang sehat memiliki pH normal yang asam (>4) agar mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Resik-V Manjakani Whitening diformulasikan untuk menjaga area V di pH 4,5. Produk ini juga telah bersertifikasi halal MUI, sehingga hati bisa tenang menggunakannya dalam rangka ikhtiar menjadi istri yang resik.

Belajar Kriya Decoupage

Foto oleh Diar A.

Setelah mengobrolkan urusan suami-istri, di event HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik pun para peserta berkesempatan belajar membuat sebuah kriya decoupage yang dipandu oleh Mbak Irma Yunita dari Kidung Senja dan hasilnya boleh dibawa pulang. Tapi berhubung tangan saya kaku untuk segala sesuatu yang menyangkut kerajinan tangan, hasil karya saya sungguh memprihatinkan, hahaha.

Yah, yang penting di acara ini saya mendapat ilmu yang luar biasa, yang semoga bisa saya terapkan juga. Tentunya yang juga penting adalah pulang membawa bingkisan istimewa Resik-V Manjakani Whitening dan hijab eksklusif dari HIJUP.

Foto oleh Diar A.

Tak berhenti di event tersebut, HIJUP juga memberikan voucher potongan belanja Rp 50.000,- bagi para pembaca blog ini dengan pembelanjaan minimal sebesar Rp 250.000,- melalui HIJUP.com. Ingat untuk masukkan kode voucher ini saat berbelanja di sana: HIJUPRVMPONTIANAK. Voucher diskon tersebut berlaku hingga 31 Desember 2018, ya. Langsung saja ke HIJUP.com dan selamat berbelanja! Terima kasih untuk HIJUP dan Resik-V atas obrolan menyenangkan juga bingkisannya!

#ArisanResik #ResikVManjakaniWhitening #IstriResik #HIJUPBMpontianak

Comments

BACA JUGA POSTINGAN TERPOPULER PEKAN INI:

Cara Membuat Pembersih Alami dari Kulit Jeruk

MESKIPUN sudah mengenal gaya hidup "hijau" semenjak tahun 2006 atau 2007-an, bukan berarti kini saya telah berhasil menerapkan segala sesuatu yang serba 'hijau' atau alami dalam keseharian saya. Pada kenyataannya, ada yang saya terapkan sebatas frekuensi sering, ada yang saya aplikasikan sesekali saja, ada yang tidak pernah saya niatkan untuk coba sama sekali, dan banyak pula yang hanya berakhir sebagai eksperimen semata. Eksperimen yang akan saya ceritakan di postingan ini baru saya lakukan dua kali, namun sudah membuat saya merasa cukup puas -- dari segi proses maupun hasil, yaitu membuat pembersih alami dari kulit jeruk. Awalnya saya melihat cerita tentang pembersih alami tersebut banyak beredar di Istagram. Tapi setelah saya telusuri agak lebih lanjut, sebenarnya pembersih alami versi ini bukanlah hal baru. Sayanya saja yang terlambat tahu. Sampai saya akhirnya mau mencoba juga, itu lebih dikarenakan bahan dan pembuatannya yang relatif mudah dibandingkan pe

Empat Bulan Tanpa Instagram dan Facebook Ternyata Hidup Saya Baik-baik Saja (Tapi Saya Tetap Harus Kembali)

[Foto oleh Prateek Katyal via Unsplash ] Pagi itu, 17 Agustus 2019, seperti rutinitas 17-an setiap tahunnya, saya siap di depan televisi. Refleks saja, setiap tanggal merah begini saya pasti memilih salah satu kanal televisi yang menyiarkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya sekadar untuk menanti momen-momen dan/atau sosok-sosok yang bisa dikomentari (eh... bukan cuma saya kan, yang begini?). Namun pada akhirnya pandangan saya hanya sesekali saja ke upacara di dalam kotak TV. Mata saya justru lebih banyak menatap layar ponsel saya, bergantian antara Instagram (IG) dan Facebook (FB),  mindless scrolling -- gulir layar sentuh ke bawah terus dan terus tanpa betul-betul berniat mencari sesuatu apalagi melakukan sesuatu (sudah lama kegiatan membuat postingan untuk media sosial maupun blog terasa berat bagi saya -- tak terhitung sekian postingan hanya berakhir sebagai draft atau bahkan dihapus, dengan terlalu banyak pertimbangan karena khawatir

Belajar Menulis dari Prof. Jayakaran

Tentang Berpartisipasi di NaNoWriMo 2020 Seperti yang pernah saya sebutkan beberapa kali di Instagram (di postingan ini , ini , dan ini ), bulan November tahun 2020 ini menjadi kali kedua saya berpartisipasi di ajang menulis tahunan internasional, NaNoWriMo . Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan apa itu NaNowriMo dan seperti apa pengalaman pertama saya mengikutinya . Kalau selama sebulan penuh di November 2019 lalu saya hanya bisa menulis sebanyak 11.007 kata, alhamdulillah saat sedang menuliskan postingan ini -- yang artinya masih di pertengahan November -- saya sudah mencapai 30.000+ kata. *terharu* Sebelum November tiba, saya sudah membuat daftar hadiah untuk diri sendiri setiap berhasil menulis 10.000 kata. Yah, biar semangat sedikit lah. Setelah mencapai 10.000 kata pertama, saya menghadiahi diri sendiri dengan sebuah pulpen baru ( cerita singkatnya bisa dibaca di sini ). Setelah mencapai 10.000 kedua (20.000 kata), saya memberi hadiah untuk diri saya sendiri berup